tak ada yang lebih Tabah dari hujan di bulan juni…

dirahakan rintiknya kepada pohon berbunga itu…

dini hari ini tanggal 14 Juni 2009… sebentar lagi melanjutkan hidup ke Makassar…

tidak bermaksud mengganggu dalam hidup mu…

sudah saatnya cinta ini bertemu realitas…tidak hanya sebuah dering atau suara yang menggelayutiku dalam pertanyaan setiap waktunya setahun ini…

aku mencintai mu seperti salju….

dingin tapi penuh kelembutan…

putih tapi penuh kedalaman…

hingga kadang engkau tak dapat melihatnya lagi…

katakan, bagaimana caranya hidup tanpa dirimu…

orang bijak berkata, apabila seseorang tak punya sesuatu untuk diperjuangkannya mati-matian… IA tak pantas hidup!!!

Jangan berkomentar apapun..resapi dan dalami, ini hanya kisah setitik debu dalam waktu yang singgah diwajah mu… entah ia akan tergores lembut dalam hati yang damai, entah ia akan berbuah amarah dalam hati mu…tapi satu yang pasti engkau tak akan tau, dan engkau tak akan menyadarinya hingga kau memilih ku nanti atau engkau akan memilih yang lain…

hari ini (14 juni 2009) aku kan beranjak ke kotamu… menepati sedikit-demi sedikit janjiku yang terucap dalam perjalanan kita.. dan entah Hari ini pada saat engkau membaca surat ini perasaan mu masih seperti dulu.. kita akan bersama mengarungi kapal ini sebesar apapun deburan ombak menghadang…

namaku ilham firmansyah… seseorang yang mencintaimu… seseorang yang sama saat kau menemui ku di dermaga juni i willitu…

joe kavalero

joe kavalero

JOE KAVALERO

Namanya Joe… Joe Kavalero… Bukan Peranakan Luar negeri, tapi sekedar Alih nama saja dari Juransyah Syamsuddin. Karena ini kota besar, Joe butuh sebuah nama yang ”hadir” di komunitasnya.

Sebuah Kisah Tentang Joe alias Juransyah Syamsuddin

Babak 1.

Joe duduk di kursi panjang pantai losari. Memandangi orang orang yang lewat. Melihat anak-anak muda Makassar bercengkrama di seberang jalan, di balik kaca-kaca riben mobil mereka. Kaca mata hitam memang cocok untuk sore-sore begini, apalagi di pasangkan dengan jaket kulit dan celana jeans yang berwarna hitam pula. Ya bisa di bilang mirip Lorenzo Lamas di film Rennegade, karena rambut inyol(keriting) joe pun mendukung.

Matanya jelalatan kesana kemari. Liar bagai komedi putar. Kalau diibaratkan lensa kamera, yang begini ini sepertinya mirip lensa 28mm sudut lebar. Yang cakupannya luas dan fokusnya tajam. Tiba tiba matanya berkilat-kilat begitu melihat tante muda dengan baju super ketat yang membuat ehm.. maaf!! payudarannya hampir tumpah ruah, akan lewat didepannya. Jalan sendiri tanpa pasangan. Tidak biasanya seperti yang lain-lain!!.

Tante manis dengan jeans pendek sampai beberapa centimeter diatas lutut itu hampir lewat di depan Joe Lamas. Mata mereka sudah bertemu bak kesetrum lisrik di kost-an nya Joe yang nunggak 3 bulan. Gratisan tapi lancar.

Joe berdiri dari tempatnya duduk tiba-tiba, saat tante cantik jelita itu hampir saja lewat didepannya. “TIK” tangannya sigap menyalakan pematik mewah ber-api bara. Sementara rokok putih koboinya sudah menunggu si api biru membakarnya hingga berasap. Geraknya cepat, tapi santai. Perlahan pada saat-saat tertentu, seperti pada saat menghembuskan kelebat asap saat tante itu lewat tepat di depannya.

“Maaf ya dik!! Rasa – rasanya kita pernah bertemu sebelumnya. Tapi dimana ya? ” sambil jemarinya meremas tangan kecil nan lembut milik tante muda itu………

”Dik” #@$@#$#@$#@$

Babak 2.

Tubuh mungil milik tante mona dipajang dijendela paviliun hotel mewah yang terbuka malu-malu. Hanya sepotong bra hitam serta celana dalam hitam terlipat yang membungkus gumpalan-gumpalan padat di dalamnya.

“TIK” tangannya menjentik pematik bara milik Joe lalu menuntunnya ke rokok menthol yang sedari tadi terselip di bibir mungil kemerah-merehan. Lebih merah dari pada waktu itu (mungkin karena terlalu ganas joe mengulumnya tadi malam!!).

“Joe pematik mu bagus ya!!?” tanya Tante Mona membuka pagi yang masih berselaput kabut waktu itu.

Joe beranjak dari tempat tidur mewah yang hanya di dapat apabila membayar 5 ratusribu untuk semalaman. Hanya celana dalam apek dengan dua lobang kecil di dekat pantatnya menempel erat di tubuh ber otot seperti roti maros itu.

“pematik itu kudapat dulu sekali! Kenang kenangan dari temanku yang sekolah di Amerika” ia terus mendekati Tante Mona hingga rapat. Tangan nakalnya menjulur mengalungkan pinggang dan menariknya hingga rapat. Hangat. “ hanya ada 2 benda di dunia yang kucintai. Yang pertama tante mona tersayang, dan yang kedua pematik itu.” desisnya agak menunduk, membisik dari belakang cuping telinga tante mona.

“dasar gombal!!” Tante mona mencubit pinggang Joe.

“tente boleh kok memilikinya!! Karena kalau kalian disatukan, aku tak punya alasan untuk berpaling pada yang lain!!”

“ah– kamu bisa saja Joe!”

tante mona berbalik. Menghisap rokok mentholnya dalam dalam dan menghempas puntungnya keluar jendela.

“coba kalau kamu berani sama aku anak nakal!!” sambil jinjit menghembuskan asap dingin yang tersisa perlahan dekat wajah Joe.

Joe dengan bersemangat menarik tante mona ke pelukannya.

Lantas mereka berciuman.

Mula mula lembut, lama lama menjadi bernafsu dan panas hingga akhirnya tante mona menyerah dalam rajutan tangan perkasa Joe.

Di luar pemandangan pantai losari berselaput kabut pagi. Mega-mega sudah agak menguning, tetapi dingin masih merambah dari luar jendela, meredam raungan Joe dan tante mona yang membuat degup dada orang lain yang mendengarnya.

Babak 3

“Dasar penipu!!! Kau bilang hanya mencintaiku!!” teriak tante mona di lantai tiga pusat pertokoan mall ratu indah.

Tante mona mendapati joe sedang bergandengan mesra dengan pacar mahasiswinya yang pun tak kalah sexi dan cantik.

“nih ambil!!” (PLETUK!!)pematik mewah berwarna silver dilempar tepat mengenai jidat Joe.”aduhh!!”.

“Setan, iblis, hewan, penjahat kelamin– huhhhff!!!” tante mona langsung pergi begitu saja. Berjalan agak berlari. Matanya membelalak. Bibirnya kontan mengeluarkan kata-kata kotor.

Tak lama setelah tante mona pergi entah kemana, keadaan kembali tenang. Para pengunjung yang tadi berkerumunan seperti lalat hijau, berpencar sambil bercerita satu sama lain. Ada yang nyengir-nyengir, ada yang ikut sewot, dan ada pula yang biasa-biasa saja tak terpengaruh.

Joe kembali berjalan, sementara pacar mahasiswinya masih memandang kosong dengan mulut ternganga.

“sudahlah Dina!!!” kejut joe menepuk bahunya.

“tapi joe–” belum selesai ia bicara,

“Sstttt!!” sambut telunjuk joe menutup bibir merah alami milik pacar mahasiswinya itu. “Dia itu……” joe berpikir. “dia itu tante mona. Kisahku dari masa lalu yang kelam. Kan aku sudah pernah bercerita padamu waktu itu. Jadi tolong mengertilah, kamu memang bukan yang pertama, tapi aku yakin pasti yang terakhir” Tambah joe menjelaskan.

Dina menatapnya sesaat. Dalam sekali. Sementara wajah joe melunak bagai bandeng presto yang hancur tulang-tulangnya.

Dina berjalan kesebuah tempat tak jauh dari sana. Lalu menunduk mengambil pematik yang jatuh dekat tong sampah.

“ini!!, enggak apa apa kok disimpan lagi!!” ia memberi pematik keramat kepada empunya. “aku percaya kok sama kamu. Tapi maaf ya, aku harus pulang duluan. Papaku menunggu dirumah. Ia mau keluar negri.”

“aku mesti ngomong apa ya? Aku benar benar beruntung punya pacar kayak kamu. Mungkin kamu benar-benar turun untuk menyelamatkan aku sebagai putri penolong. Makasih ya Dina!!” joe mengambil pematik itu lalu memasukkannya dalam kantong sesegera.

“sudah gombalnya?” ia tersenyum. “daaa sayang !!!”(cuptt) ciuman lembut sebelum lambaian tangan. Sungguh romantis perpisahannya senja itu. Sampai kenangan pahit di labrak sama tante mona tak terasa begitu cepat berlalu.

Babak 4.

Malam pun tiba masih pada hari yang sama.

Letih joe mengobrak abrik buku di Gramedia, dan tak satu pun yang menarik hatinya. Kalaupun ada, harganya tak bersahabat. Berjalan pasti menuju pintu keluar dengan rokok koboi terselip di bibirnya. Hanya untuk di kulum-kulum dan digigiti ujung-ujung busanya.

Ia masih terus berjalan, kali ini lebih santai. Di lantai tiga, di depan kafe elit olala Mall Ratu Indah (Makassar). Tiba tiba matanya merem-melek, berkilau kilauan begitu melihat tante cantik yang sedang menggendong anaknya, tanpa gandengan. Kebingungan menurunkan kereta bayi yang mirip becak kecil itu dari lift.

Lantas tanpa banyak pikir panjang Joe pun beraksi!!

“Adinda!!!” (Adinda….? @#$@#$#@$@#$) hentaknya tiba – tiba dari belakang. “biar saya yang angkat. Yuk!!” ajaknya turun melalui lift sementara satu tangannya sudah mengangkat kereta bayi tersebut. dan menyentuh halus kelingking si tante cantik yang sebelah tangannya menggendong anak lelaki yang sangat imut lagi menggemaskan. Tapi ibunya tak kalah menggemaskan kok!!

“terima kasih ya, jangan panggil aku adinda, kayanya kamu jauh lebih muda dari saya. Namaku Tiwi!!” senyumnya manis bak buah delima yang sedang merah merahnya.

“ups…. Maaf ku kira kamu tadi lebih muda dari saya!!” balas joe agak kurang lancar bicara karena rokok masih terselip di bibirnya. Bisa dibayangkan bagaimana muka cengir-cengir kecil tante Tiwi kala itu. Ia merogoh sakunya, dan mengambil pematik antik yang sudah malang melintang makan garam itu.

“ngomong – ngomong papanya si kecil mana?” tanya joe yang sebenarnya tidak pantas.

Wajah tante cantik itu masih tersenyum, tetapi kali ini dengan versi yang berbeda. Bibir anggun warna merah muda bermahkota lipstik istimewa itu agak membengkok akibat pertanyaan Joe. Ia terdiam, belum bisa menjawab pertanyaan joe yang sok akrab ini!!.

“Umur berapa adik kecil imut wi?” lanjut tanyanya mengalihkan pembicaraan.

Mereka sudah diluar Gerbang Masuk Mall itu. Joe pun tersenyum dalam hati. Tak perduli apa yang dikatakan wanita cantik ini. Tetapi pertanyaan yang tak terjawab tadi, sebenarnya sudah terjawab dengan sendirinya. ia masih memandangi bibir manis si tante beranak imut ini. Sementara pematiknya terus berjalan perlahan mendekati rokok yang sudah menguning ujung ujungnya.

“TIK”………

”Namaku JOE KAVALERO…. !!!”

GADIS MANIS

“PLAKK” gadis manis berbaju putih menampar keras tepat di pipi ku

“dasar kurang ajar ya!! Berani beraninya kamu colek – colek pantatku!” bokong indah nan mempesona terbalut rok mini coklat motif polos, sepolos kulit pahanya yang putih itu.

“Yeee mba, aku kan enggak sengaja! Main nuduh – nuduh sembarangan lagi! ntar, kalau aku digebukin orang siapa yang mau tanggung jawab!” lantun ku tersenyum masih bercanda walau tangan kiri sudah meremas remas pipi kanan yang terasa perih.

Di seberang jalan raya Pettarani Makassar angkot 07 mengantri ambil penumpang. Gorombolan Calo sibuk meneriakkan jurusan (“kampus, kampus, kampus de!”) yang saya kira sudah diketahui kebanyakan calon penumpang. Bikin ribut saja!

Si gadis manis dengan kemeja putih yang hampir copot kancing-kancingnya. karena terlalu ketat mungkin?, masih saja memandang ku sinis. Belum puas rasanya hanya menampar cowok di sebelah yang menurutnya telah kurang ajar. Sebenarnya siapa yang kurang ajar? cowok jail yang hanya ingin tahu seberapa empuk dan berisinya bokong indah itu atau gadis korban mode yang mempertontonkan paha putih mulusnya serta tonjolan tonjolan lain dibalik kemeja putih agak transparan itu. Mana tahan!!!

“mba, mba,!!” panggilku agak berbisik dari belakangnya. “sumpah mba tadi aku enggak sengaja kok. Mba aja yang salah paham. Maafin aku ya mba!” aku mencoba menjelaskan kepadanya, karena setelah kuperhatikan dengan seksama, si gadis manis ini bisa mempesona syaraf syaraf indraku. Kalau tidak sih buat apa coba!!?

“Sudah deh, enggak usah cari alasan!! Cowok kaya kamu memang banyak di terminal terminal kayak gini. Dasar bar-bar!!!” timpalnya, masih mengendus-ngendus geram bak kucing betina.

Tak lama mobil 07 jurusan kampus UNHAS datang. Ia naik cepat meninggalkanku. Satu, dua penumpang pun turut hingga akhinya mobil hampir penuh. aku masih di tepi jalan menunggu mobil Ikip jurusan pasar sentral. Tetapi perhatianku masih tertuju kepada si gadis manis. Ia pun masih memperhatikanku walau agak malu-malu.

“Wah, kalau tidak sekakarang kapan lagi!!?” tanyaku dalam hati

Akhirnya ku putuskan untuk berubah haluan tanpa perduli tujuan. Aku segera naik ke atas angkot, mengisi bangku kosong di sebelahnya. Sebenarnya sih tidak kosong!! Tetapi setelah ku katakan “hai dari mana aja?” kepada si gadis manis, seorang ibu tua itu pun mengerti. Walau tanganku harus menggeser-geser lutut ibu tua itu terlebih dahulu. Dan Mobil pun Pul’ setelah naiknya aku di mobil yang di penuhi mahasiswa yang lagi segar segarnya hendak studi. Setidaknya begitulah yang mereka katakan kepada orang tua mereka di kampung!!!.

“Nama ku RRROMA!” ujar ku berusaha bercanda pada si gadis manis yang dari tadi duduk berusaha membelakangi ku.

Tetapi tetap ia tak menggubris ku. Hanya melirik sekali dan melempar lagi pandangannya ketempat lain.

“Dan kau, pasti –ANI kan? Ohh ANI dari mana saja engkau? ” tambah ku nekat dengan suara agak besar.

Hampir semua penumpang di angkot itu tersenyum spontan. Ia pun sempat hampir membuka bibir tipisnya dengan tawa. Tapi gengsi lebih lebat dari pada hujan goyon apa adanya itu. Ia masih memandang ke belakang.

Ia duduk di pojok kursi 4 dan di sebelahnya tepat aku duduk mengarah padanya.

“lagi ada masalah ya nak!!” tiba tiba ibu tua yang kugeser singgasananya tadi menimpali dari pojok kursi enam di depan kami.

“ah biasa kok bu! Masalah cinta remaja, muuuudah sekali cemburu“ kata ku sambil nyengir nyengir.

“ih, enggak tau malunya nih cowo’!“ tiba tiba ia berbalik. “kami itu belum pernah kenal sebelumnya bu’. Dia aja yang kegatelan ngikut-ngikut sama saya. Mana tadi pake colek-colek pantat saya pas di terminal Ujung. Dia ini bajingan bu! Jadi jangan di dengerin omongannya. Pembohong kelas berat!” nadanya keras, sekeras raut wajahnya yang drastis berubah tiba – tiba.

Tampang manisnya berubah tengil bak jagoan yang sudah menghajar penjahat hingga tak berkutik. Semua penumpang memandangku sambil menyerengitkan dahi. Termasuk mahasiswa gondrong berbusana hitam-hitam di ikuti ratapan tengkorak genit di kaosnya itu yang bangku pojok dekat supir. Uuu Takuuut!!.

“ya sudahlah! Aku letih seperti ini!! Mentang-mentang kamu sudah punya pacar baru !!.” Tutur ku agak di keras keraskan dan nada penuh kepasrahan. “Maaf ya bu!! Maaf juga bapak bapak dan ibu ibu, sudah mengganggu perjalanan kalian.” tambahku agak di-iba-kan. “baiklah, Kalau begitu aku mengalah!”

Ia memandang ku tajam. Bibir tipis merah itu bengkok tidak karuan. Sekarang giliran ia yang di salahkan penumpang lain. Saya bisa melihat itu dari pandangan mereka yang pula sambil menyeringitkan dahi. Bahkan lebih dalam lagi, sepertinya bisa untuk mengalirkan air bak sungai kecil di pegunungan.

“KIRI PAK !!!” teriak ku kepada pak supir. bermaksud melarikan diri dalam keadaan menang. Yess!.

Setelah membayar pak supir dengan uang receh seribu-an, lalu aku melambai kepada semua penumpang dengan wajah sedih dan sungguh minta dibelaskasihankan.

Mobil berlari kencang. Tapi wajahnya yang penuh dendam masih sesekali melirik kearah ku. Ibu tua itupun masih memandang ku iba sampai aku membalikkan badan dan tertunduk berjalan ke arah yang berlawanan.

“ah beli rokok –ah” dalam hatiku setelah melihat kios kecil di depan jalan besar Abdulah Dg Sirua. “Marlboro mba!!” sambil ku menunjuk bungkus rokok merah putih di etalase yang dirajut dari kaca dan bambu seadanya.

Marlboro telah ku genggam. Tetapi jemari ini masih mencari dompet disetiap kantong jeans ku berualang ulang, tetap tidak ketemu.

“wah… kuwalat saya sama tuh cewek. Kayaknya sih jatuh diatas angkot!!” kata ku dalam hati. Sambil memandang mba penjual dengan wajah sedih.

Tetapi sungguh kota besar. Mba penjual bukannya ikut prihatin, malahan menaruh curiga pada ku.

“ya sudah, kembalikang mi rokok ku. Pake alasan segala. Bilan’ mo ko, kalau kau tidak punya uang?. Pakai segala ambe’ rokok mahal. Pui!! Gayana ji’!!” logat asli keluar deras menghantamku keras, sakitnya bagai di tikam sembilu.

Jalanan makin ramai oleh kendaraan. Seperti semut melihat gula berbondong-bondong berbaris antri. Matahari pun terus berputar. Kali ini tepat diatas debu-debu jalan yang terbang tidak karuan. Membawa jarum jarum panas yang tak pernah sekali pun selama 2 tahun ini menyapaku sebagai teman. Selamat pagi menjelang siang pejalan, Saatnya pulang!! Nasiiib, nasib!!!.

* * *

Gorden itu terbuka lebar bagaikan layar panggung sandiwara. Segara tampak pemandangan pantai losari yang dijejali gerobak penjual makanan. Mega- mega bersepuh kelabu mendekap gerimis pagi hari ini. Kamar paviliun yang tadi gelap terbias terang oleh sinar pagi seadanya. Si gadis manis terkulai lemas di atas ranjang tebal buatan italia. Berkelebat selimut tebal, menutupi letih yang masih merasuki lelap tidurnya.

Ku sandarkan tubuh ini pada jendela lebar disisi belakang. Buih asap putih menutup pandanganku sesekali. Rokok yang terselip di bibir ini mulai terasa hambar akibat ciuman tadi malam terlalu buas. Sudah lama tak lagi ada perasaan seperti ini. Rasa penyesalan., rasa gelisah, dan rasa – rasa lain yang datang belakangan. Aku harus pergi, Istriku sudah menanti dirumah!.

Dua lembar uang seratus ribu-an kuselipkan ditaplak meja bundar di sebelah telpon. Sekarang, Isi dompetku benar-benar telah habis terkuras. Uang jerih payah mencari berita siang dan malam habis semalaman. Tetapi wajar pikirku. Si jujur nan manis yang terkulai lemas di atas ranjang itu telah mengembalikan dompet ku. Ya, hitung –hitung balas budi lah!.

“selamat tinggal gadis manis!!” bisik ku di telinganya. Pelaaaaan sekali. Aku tak ingin ia terbangun.

”Ups…. Namaku Joe Kavalero……. ” Mmmmmuach!!

”TIK!!!!”

AKU SETITIK DEBU DALAM WAKTU


Oleh ilham.F

Perjalanan waktu membuat kita terombang-ambing dalam lingkaran kebisuan.

Saat ia berdetak dengan kemegahannya. Titik-titik detik dari angka ke angka
membuat senyuman maupun tangisan jadi bermakna.

Kata orang, waktu itu bagai roda dalam jalan kehidupan. Selalu berguling
tinggalkan jejak untuk dikenang sebagai masa lalu, atau bagi seorang
pengembara diatas pedatinya yang bermimpi tentang negri indah dimasa depan.

Tapi bagiku, waktu adalah tiga busur panah yang melesat bersama dengan
kekuatan syarat takdir. Sebelum ini, hari ini, dan setelah ini. Terus
melesat ikuti prasyarat materi.

Panah masa lalu dibentuk oleh panah hari ini, dan panah masa depan pula
bergantung pada arah panah hari ini. Memusingkan …………

Sungguh kematian yang mungkin menyiratkan tentang perhentian arah panah pun
masih pula jadi pertentangan. Bagiku, setelah mati tiga panah masih terus
berjalan dengan laju yang entah cepat atau lambat. Tak ada bahasa bumi, tak
ada bahasa materi– semuanya  masuk pada “Lingkaran Kebisuan”.

Kenangan tinggal impian bagi manusia tuk perbaiki syarat masa depan.
Saatnya kita melepaskan perasaan dan biarkan “Lingkaran Kebisuan” membuat
kita menghamba kepadanya. Apakah mungkin percepatan menembus batas-batas
ruang dan waktu?. Pasti. Bintang yang kita lihat di teleskop adalah bintang
seratus juta tahun yang lalu, begitu pula sebaliknya bila kita berada pada
posisi bintang. Dan andai ada mahluk lain yang melihat kita melalui
teleskopnya, adalah kita seratus juta tahun yang lalu pula.

Andai saja benar-benar ada mahluk lain diluar sana yang bisa melebihi
percepatan cahaya, pasti ia sungguhlah Agung. Apakah yang tak bisa
dijelaskannya pabila ia dapat menembus masa lalu, hari ini, dan masa depan.
IALAH YANG MEMILIKI ENERGI MAHA SEMPURNA. Tentang kelahiran dan titipan nyawa hanyalah urusan kecil dari pekerjaannya. Dan pertanyaan tentang agama
dapat dijawab dengan mudah sebagai buku pedoman idealitas tentang masa lalu
dan masa depan tuk jalani hari ini penuh harmoni.

Para politikus selalu memaknai fenomena yang terjadi sebagai suatu bagian
dari desain besar. Dan apakah kehidupan yang kita jalani ini bukanlah
sebuah desain besar dari Si Entah Siapa?. Apabila Seno Gumira
mengatakan “Dunia Seperti Adanya Dunia” pada Kitab Omong Kosong bagian
pertama. Bahwa dunia adalah materi belaka, dan materi adalah potongan-
potongan syarat untuk terciptanya hari ini, dunia ini, dan kehidupan ini.
Pabila seperti itu adanya, Semesta terlalu besar bagiku!!!

Keyakinan…….. keyakinan yang bagaimana yang dimaksudkan? Keyakinan tentang
apa?. Apakah tak mungkin manusia bisa menciptakan dunia untuk manusia.
Nyatanya beberapa manusia bisa menembus batas energi dunia. Beberapa
manusia bisa memecah tubuhnya menjadi empat unsur ; Air, Api, Tanah, dan
Udara. Dan ada pula manusia yang bisa menembus lapisan-lapisan semesta,
entah sampai tingkat berapa kita bisa sampai pada Yang Maha Berkuasa Atas
Semesta.

Kehancuran semesta dan isinya. Apakah mungkin itu sebagai titik balik dari
kehidupan yang kita jalani pada kehidupan panjang selanjutnya yang sudah
direncanakan sedemikian rupa. Apakah kita yang sudah terlepas dari raga
akan dilibatkan dikehidupan selanjutnya? Siapa yang tahu. Bertanyalah lewat
doa, permohonan, atau apapun istilahnya.

Apakah kehidupan selanjutnya masih ada wangi tanah basah dan embun dipagi
hari? Apakah masih ada senja yang seti temani pelangi? Apakah masih ada
tangis dan tawa dalam keluarga? Apakah masih ada hujan dan desir ombak yang
membuat kita terlarut dalam kesunyian bahasa? Apakah masih ada pengorbanan,
ketulusan, kesetiaan, pengabdian, kesejatian, dan apakah masih ada CINTA?
………………………..?

Aku adalah sebutir debu dalam angin yang singgah diwajahmu,
Aku adalah setitik noda dari karya seniman yang maha tak tertandingi.
Apakah kesedihanku punya arti?
Apakah jerit tangis si hina ini membuat dunia mengasihani?

Atas nama 9 indra yang tergerak oleh cahaya
Biarlah surga kupapah hingga ku tak kuasa
Demi mereka yang menjatuhkan airmata memandangku
Sampai hancurku mendebu.

Ilham. F
Bumi saat gelap malam,
Saat hari diulang kembali pada 27 Mei
Saat tahun– baru sampai pada angka 2008

Entah pada keberapa ratus juta tahun umur bumi.

pure self diclousure

Kepadamu Aku bersujud memohon ampun…. dengan tangis…. dengan duka atas ke-salahanku selama ini. Ya Ar Rahman Ya Rahim…. berikan hamba-Mu ini kesempatan melewati hidup dengan Ridho-Mu ya Allah.

semua teras besar…

dari kebesaran-Nya itu tak dapat kupahami lagi….

Ia Terasa Dahsyat…

Alam Semestapun tak mampu….

Tiba-tiba ku Duduk bersimpuh saat semua bayang dan mosaik-mosaik kehidupanku berkumpul jadi satu… Serupa penyesalan terdalam di Sebuah Tsuraya hitam………… hanya Hitam,,,,,,,,,

maaf………. Aku tak bisa menulis apa-apa. hanya tangis, pada rindu atas kedamaian ini. Ya Allah, Terima Kasih…. Aku menangis Lagi. Setelah menahun Air mata ku membeku!!!…..

SAATNYA KU KEMBALI…

SEJENAK SAJA……

HANYA UNTUK MEMOHON MAAF…..

MEMANDANG SENJA…..

MERANGKAI KATA-KATA…..

DAN BERSAMA SAHABAT MENATA CITA-CITA….

AKU KAN MEMULAINYA KEMBALI DARI SANA!!

DARI SEBUAH SENJA….. SAAT PERTAMA KU TIBA….

First impression atau kesan pertama merupakan senjata ampuh yang banyak digunakan oleh seorang publik speaking. Dimana setidaknya ada kesadaran yang harus dibangun dari seseorang yang memiliki pekerjaan sebagai publik speaking bahwa First Impression itu sangatlah penting. Lebih jauh lagi kita akan mengkhususkan kepada seorang Publik Relation.

kesan pertama atau first impression yang baik merupakan hal yang penting bagi setiap orang. Cara kita berbicara dan memilih pemakaian kata, cara kita bersikap, kepercayaan diri kita serta perilaku kita merupakan sebagian besar faktor yang dapat menciptakan kesan pertama.

Sebelumnya mari kita melihat pemaparan teori Proses Pembentukan Kesan oleh Jalaludin Rakhmat dalam buku Psikologi Komunikasi (Edisi Revisi)

1. Stereotyping

Ketika seseorang menghadapi sosok-sosok dengan beraneka ragam perilaku, maka seseorang tersebut akan mengkategorikan mereka pada konsep-konsep tertentu; cerdas, tampan, bodoh, cantik, berwibawa, dll. Dengan begitu seseorang ini lebih mudah menyederhanakan persepsi yang lahir dari prilaku Orang lain yang menjadi objek penilaiannya.

Menurut Jalaludin Rahmat, dalam psikologi kognitif pengalaman-pengalaman baru akan dimasukkan kedalam laci kategori yang ada dalam memorinya, berdasarkan kesamaan dengan pengalaman indra masa lalu. Sehingga dengan cepat seseorang tersebut dapat meramalkan dan menyimpulkan stimulus yang baru baginya. Contoh kasus;

Ia-lah Adi, lelaki yang dilihat Hani disebuah pelataran salah satu Partai garis depan bangsa ini sore itu, di atas sebuah podium, sedang memberikan sekelumit kata-kata bijaksana kepada puluhan bahkan ratusan simpatisan partai tersebut, termasuk pula Hani di dalamnya. Adi mengenakan Kemeja Dinas Lapangan berwarna putih dipadu celana kain yang tak kalah putih bersinarnya sore itu. Ia Menggebu-gebu, tapi sesekali nadanya menurun rendah saat nilai kemanusiaan bangsa ini dibicarakan ia pun mengkombinasikannya dengan gerak memegang kacamata merk Italianya itu seakan ada air yang jatuh dari kelopak matanya serupa air mata. Sang Adi pun mengakhiri Pidotanya dengan Sebuah puisi Perjuangan. Maka, tak dapat dihindari lagi Riuhlah suasana di pelataran partai tersebut, dari gema tepuk tangan para simpatisan. Termasuk pula Hani diantara mereka.

Maka, kesan pertama terbentuk. Kesimpulan sementara Hani terhadap Adi ialah Adi seorang Politisi, tinggi pemaknaan dan perhitungannyanya terhadap kehidupan khalayak, cerdas, Elegan dan lagi berwibawa. Apabila Hani pernah menonton Film G30s PKI Jaman orde baru. Maka tak disangsikan lagi adi serupa dengan politisi-politisi Jaman itu. DN. Aidit atau Muso, atau pula Soe Hok Gie pada film GIE oleh Miles Production.

Stereotyping menjelaskan 2 hal. Pertama, pembentukan “kesan pertama” Hani terhadap Adi. kesan itulah yang akan menentukan pengkategorian dalam otak Hani. Kedua, stimuli yang Hani senangi atau tidak senangi telah mendapat kategori tertentu yang positif ataupun negatif dan ia akan memasukkan kategori tersebut pada memori kategori yang positif atau negatif pula. Tempat semua sifat-sifat yang positif atau negatif. Setelah itu barulah Hani menyimpulkan Adi seorang Politisi, tinggi pemaknaan dan perhitungannyanya terhadap kehidupan khalayak, cerdas, Elegan dan lagi berwibawa.

2. Implisit Personality Theory

Setiap manusia mempunyai konsep sendiri tentang sifat-sifat apa berkaitan dengan sifat-sifat apa?. Pacaran, meliputi konsep-konsep perhatian, mesra, toleransi, memiliki dll. Begitu pula terhadap kisah Adi dan Hani.

Suatu hari Adi membawakan sebuah materi kepada Anggota baru Partainya tentang pandangan dunia. Ada pula Hani ikut serta. Dengan nada rendah tapi terarah Adi terus melangit dengan kata-kata yang belum akrab ditelinga Anggota baru, sehingga beberapa terpesona, Hani pula didalamnya. Setelah itu, ditengah-tengah materinya Adi pamit sebentar untuk Shalat, maka bertambahlah poin Adi dimata Hani. Sifat Shalat lazimnya diikuti oleh sifat-sifat jujur, saleh, bermoral tinggi, dll. Padahal kesimpulan tersebut belum tentu benar.

Implisit Personality theory adalah sebuah konsepsi yang tak butuh diungkapkan. Karena dalam prosesnya ia berlangsung secara alamiah, berdasarkan pengalamannya selama ada dalam kehidupan.

3. Atribusi

Atribusi adalah proses menyimpulakan motif, maksud dan karakteristik orang lain dengan melihat pada perilaku yang tampak. (Baron & Byrne, 1979:56)

Selanjutnya kita akan bertanya “Ada apa dibalik itu semua?”

Adi dan Hani memang jarang berinteraksi secara langsung. Pernah suatu ketika, ditengah keramaian, penulis mencoba mengamati perilaku mereka berdua. Sesekali Adi melirik Hani, dan begitu pula sebaliknya. Hal tersebut terjadi berkali-kali hingga akhirnya mereka bertemu pandang. Apa yang terjadi? Adi menatap Hani tajam, sementara Hani spontan tertunduk, tersenyum simpul, dan tersipu malu dibalik wajahnya yang mulai memerah.

Terbesit pertanyaan dalam hati Hani. Ada apa dengan Kakak Adi yang kubanggakan?

Pemaparan tentang teori “Proses Pembentukan Kesan” Jalalludin Rakhmat diatas setidaknya membuktikan bahwa Kesan pertama itu sangat berpengaruh terhadap pembentukan Kesan dalam diri seseorang untuk orang lain.

Jadi hal ini sudah sangat cukup untuk membuktikan bagaimana pentingnya kesan pertama itu sebagai sebuah senjata dalam melakukan komunikasi dengan orang lain. Gerak tubuh dan kepekaan, Penampilan, Raut wajah, kontak mata, fokus pada masalah dan cara penyampaian yang tepat situasi dan kondisi merupakan beberapa hal yang mesti diperhatikan oleh seorang Public Relations.

PUBLIC RELATIONS

PR sebagai Fungsi Manajemen

Adapun definisi yang ada adalah sebagai berikut:

1. Cutlip and Center mendefinisikan Public Relations sebagai fungsi manajemen yaitu mengidentifikasi, memantapkan serta membina hubungan yang saling menguntungkan antara organisasi dengan publiknya baik dalam keadaan sukses maupun gagal.

2. Grunig mengembangkan definisi tersebut menjadi manajemen komunikasi antara organisasi dan publiknya.

3. Lawrence W.Long dan Vincent Hazelton mengembangkan sebuah definisi baru yang lebih modern dan memadai bahwa Public Relations adalah fungsi komunikasi melalui adaptasi organisasi, mengubah atau membina hubungan dengan lingkungan dengan tujuan bersama-sama mencapai tujuan dari organisasi. Pendekatan ini menggambarkan bahwa Public Relations adalah lebih dari sekedar mempersuasi melainkan juga membantu mengembangkan kondisi komunikasi terbuka, saling pengertian/saling memahami dengan didasari ide bahwa organisasi juga mau berubah (dalam proses berperilaku dan bersikap) tidak hanya sebagi sasaran khalayak saja. Dapat dikatakan bahwa perusahaan dimungkinkan mengubah kebijakan sebagai hasil tindak lanjut dari dialog dengan lingkungannya.

Definisi tersebut hanyalah sebagian kecil dari definisi yang ada tentang PR. Mengacu pada definisi-definisi di atas, memaknai terminologi “fungsi manajemen” yang ada pada Public Relations, memiliki arti yang lebih dalam. Arti tersebut memuat jawaban atas pernyataan, untuk apa fungsi manajemen atau manajemen komunikasi yang dilakukan oleh Public Relations. Jawaban ini jelas bahwa Public relations berperan sebagai Pengelola Reputasi Organisasi. bukan hanya melulu memliki aktifitas berhubungan Pemasar/Penjual.

PUBLIC RELATION OFFICER

PRO atau dapat dikatakan Public Relations Officer yang menggeluti bidang public relations pun cukup menarik, karena perlu kegigihan untuk membangun citra yang baik, agar timbul kesan dan saling pengertian antara kedua belah pihak.

Kegiatan melobi dengan menunjukkan kebijaksanaan dan prosedur dari individu atau organisasi, atas dasar kepentingan publik pun tidak mudah. Namun diperlukan kesabaran tentunya. Begitu pula dengan bidang-bidang komunikasi lainnya.

Public Relations, maupun bidang yang lain pada dasarnya mengacu pada ilmu komunikasi, karena masing-masing memerlukan komunikasi yang efektif. Agar informasi yang disampaikan efektif, diperlukan keahlian (skill) dalam berkomunikasi.

Karena itu, kita harus dapat mengolahnya menjadi sesuatu yang dapat dimengerti oleh orang lain. Bila kita sudah memahami tentang makna ilmu komunikasi secara rinci, komunikasi yang efektif pun tercipta. Dari komunikasi itu, seseorang akan merasakan adanya rasa kepuasan akan keberhasilannya.

Dari keberhasilannya, kita dapat mengambil contoh Orator ulung Ir. Soekarno (Mantan Presiden Pertama Republik Indonesia) melalui komunikasinya yang sangat baik, beliau mampu menguasai dan memengaruhi orang banyak dengan pidato-pidato yang sangat khas. Mendengarkan beliau berpidato, terlihat orang-orang sangat antusias dan tertarik serta larut terbawa emosi yang dibawakan secara simpatik kepada audiensnya.

Bermula dengan guyonannya yang dapat menarik simpati orang banyak, tidak tanggung-tanggung golongan terpelajar pun mampu beliau kuasai. Dilanjutkan pesan yang berupa isi dari pidato yang hendak beliau sampaikan, yang akhirnya kepuasanlah yang beliau rasakan tatkala informasi yang hendak beliau sampaikan telah sampai kepada khalayak. Pesan dalam artian memberikan Informasi dan Mempersuasikan seseorang ataupun kelompok.

Karena itu, ilmu komuniksi sangatlah menarik karena melalui keterampilan berkomunikasi dengan baik dan benar, seseorang akan sukses.

Next Page »