Mozaik kehidupan


tak ada yang lebih Tabah dari hujan di bulan juni…

dirahakan rintiknya kepada pohon berbunga itu…

dini hari ini tanggal 14 Juni 2009… sebentar lagi melanjutkan hidup ke Makassar…

tidak bermaksud mengganggu dalam hidup mu…

sudah saatnya cinta ini bertemu realitas…tidak hanya sebuah dering atau suara yang menggelayutiku dalam pertanyaan setiap waktunya setahun ini…

aku mencintai mu seperti salju….

dingin tapi penuh kelembutan…

putih tapi penuh kedalaman…

hingga kadang engkau tak dapat melihatnya lagi…

katakan, bagaimana caranya hidup tanpa dirimu…

orang bijak berkata, apabila seseorang tak punya sesuatu untuk diperjuangkannya mati-matian… IA tak pantas hidup!!!

Jangan berkomentar apapun..resapi dan dalami, ini hanya kisah setitik debu dalam waktu yang singgah diwajah mu… entah ia akan tergores lembut dalam hati yang damai, entah ia akan berbuah amarah dalam hati mu…tapi satu yang pasti engkau tak akan tau, dan engkau tak akan menyadarinya hingga kau memilih ku nanti atau engkau akan memilih yang lain…

hari ini (14 juni 2009) aku kan beranjak ke kotamu… menepati sedikit-demi sedikit janjiku yang terucap dalam perjalanan kita.. dan entah Hari ini pada saat engkau membaca surat ini perasaan mu masih seperti dulu.. kita akan bersama mengarungi kapal ini sebesar apapun deburan ombak menghadang…

namaku ilham firmansyah… seseorang yang mencintaimu… seseorang yang sama saat kau menemui ku di dermaga juni i willitu…

Hari inilah selayaknya Rumah. bukan rumah sebuah tempat- bukan rumah sebuah panggung- bukan rumah sebuah batu- rumah bukan sebuah konotasi dari kehangatan kasih sayang, tapi rumah adalah waktu, rumah adalah saat, rumah adalah rentang, rumah ialah singkat atau lamanya sesuatu, rumah intisari dalam setiap jenjang detik ke detik, hari ke hari, umur melalui umur, hidup melalui hidup, bahkan hidup melalui umur. (from rumah waktu check: http://kawanlaba.wordpress.com/2008/04/15/rumah-waktu-2/)

Sejengkal dari hidup anda untuk meluangkan waktu agar dapat melirik kisah unik saat kami mahasiswa dahulu… Buku, Pesta dan Cinta (Gie)….

cerita sederhana dalam kehidupan sehari-hari kami… anak KOSMIK UNHAS MAKASSAR….

setiap hari angin laut kerap meniup kedarat. menyanjung-nyanjung penduduk kota makassar ini. aku dan beberapa teman tak jarang menyahut panggilan itu… bersuka cita kami pergi kesana hanya untuk melepas penat akibat jadwal kuliah yang padat waktu kami masih mahasiswa baru dahulu…

aktifitas kami boleh dibilang sangat padat… kami melakukan banyak hal dalam satu waktu, bermain, belajar, ber”kasih”, dll. tak jarang belajarpun kami anggap sebagai sebuah permainan yang menyenangkan…karena memang itulah yang kami lakukan,

kami anak komunikasi unhas atau yang kerap disebut-sebut sebagai anak KOSMIK (korps mahasiswa ilmu komunikasi) memiliki atribut serba biru merah…biru melambangkan kedalaman lautan dan merah melambangkan keberanian(kuranglebih begitulah sederhananya)…. kurang lebih kerjaan kami 50% kuliah 30% bercanda 10% cinta dan sepuluhnya lagi persiapan kalau-kalau mahasiswa baru datang….. dan atraksilah para senior-senior dengan cara membadut di depan adik-adik maba…hampir setiap tahun itu kami lakukan…sadar atau tidak sadar…. tapi itulah yang menarik bagi kami, untuk kami eksistensi dari manusia-manusia yang terjepit ditengah antara miskin dan kaya adalah saat ia menjadi bahagia…. karena kebahagiaan sesungguhnya ada saat kita bisa berdamai dengan kenyataan….

beraneka ragam memang corak kehidupan kami..inilah yang membuat kami unik..serta radikal dalam menentukan prinsip hidupkami sebagai pelajar yang memang tugasnya belajar. kalau bicara kreatif, kamipun merasa kreatif… banyak acara-acara yang kami gelar sendiri dari nol sampai acara yang memang produk kapitalisme media oh tentunya selalu ada hikmah yang bisa diambil oleh kami… para anak-anak langit. sejujurnya kami haus akan romantisme itu…terutama diriku saat penjara kapital ini mulai menggerogoti dan memaksa sedikit demi sedikit untuk realistis menantang dunia yang akan kami hadapi kemudian…..

disela-sela itu semua musim liburan datang…saya dan teman-taman mentaktisi dana kemahasiswaan untuk melakukan ekspedisi kedaerah-daerah yang sangat sukar dijamah oleh orang lain… gunung, lembah, laut, pulau terpencil kami arungi dengan pasti dan dengan canda tawa renyah kami diantara debur-debur ombak atau didinginnya malam rimbunnya pegunungan dan digelapnya gua. check : http://kawanlaba.wordpress.com/2008/04/13/kesetiaan-pulau-cangke-pangkep/

bukan masalah bagikami tidak punya uang, seperti yang dirisaukan hampis seluruh mahasiswa di Indonesia ini…kami bukan anak-anak manja..kami adalah batu hitam didasar sungai yang tak akan bergeser sedikitpun walau kerasnya arus(budi zulkifli dalam filmnya Catatan harian Budi – kata adi). bahu-membahu kami berjuang untuk satu kata. ILMU.

jurus kami sederhana saja, kalau tidak ada uang, ya kami memancing didanau Unhas atau menjala, mencari lauk dengan menyekat kangkung dibawah kaki-kaki rumah pondokan yang kami tinggali dengan 500rb pertahun… sungguh hidup yang menyenangkan bukan? sebuah komunal yang dramatis tapi bahagia… kami anak-anak langit pantang menangisi lapar. karena lapar adalah sahabat yang akan mengajarkan kami bagaimana menjaalankan hidup dalam sebuah adaptasi yang kreatif.

kami berjuang mencari sinar-sinar harapan dimasa mendatang. bekerja bagi kami sudah biasa. karena sesungguhnya eksistensi manusia adalah saat ia bergerak dan menghasilkan untuk sesuatu di jagatraya ini. film mengejar matahari bukan lah tandingan dari romantisme yangkami alami….. dibawah naungan mentari kami berjanji satu samalain, menjaga ikatan ini, mendekap angan bersama-sama dalam sebuah mimpi dari cahaya yang kami tulis di dinding-dinding harapan kamar kost-kostan kami.

kadang ada pertengkaran diantara kami, kadang pula ada cinta yang menggelora, kadang ada duka tak tertahankan, kadang ada cerita luarbiasa tak diharapkan, kadang kami menggurui satu sama lain, kadang kami berbeda pendapat, kadang canda kami keterlaluan……. tapi hanya satu yang pasti, kita tetap bergandengan tangan kawan…..

sudah lah jangan menangis……………………………………… salam ridu pada kalian semua dari ku salahsatu sahabat kalian yang paling menjengkelkan…

Bekasi, 23.04.08

saat rindu dipersimpangan.

saat itulah hidup mesti berlanjut.

saat dimana kita akan bertemu pada suatu tempat

dimana semua kata-kata itu menguap.

sebuah tempat jauh dilubuk hati kita…. PERSAHABATAN

(Seorang ayah, Pekerja Jujur, dan sekedar Pejalan Kehidupan).

Oleh : Ilham.de.vozquea (art of life)

Dibalik wajahnya yang kusut masai dan bertubuh pendek kurus, tersimpan ketegaran hati dan keluhuran budi. Ia adalah Pakuasang (59 tahun). Salah satu titik yang tergores dalam kanvas akademika Universitas Hasanuddin dan bahkan lebih jauh dalam sebuah zaman kehidupan. Ia adalah sosok lelaki jujur, pekerja ulet dan teladan, serta seorang ayah yang sangat tabah dan tak mudah menyerah. Dipundaknya terangkul empat jiwa yang siap menuntut tanggung jawab. “ istri saya bisa membantu sedikit dengan berjualan, dan satu diantara anak saya sudah berkeluarga,” ujar lelaki tengah baya dengan rambut dan jenggot yang sudah mulai dipenuhi uban.

Bersama Ningkanang (50 tahun), Dari Palopo Pakuasang hijrah ke makassar sulawasi selatan delapan belas tahun silam. Kini mereka tidak hanya berdua ; Fitrianti, Irwanto, dan Agustono pun ikut mewarnai hidup sederhana mereka……

Pakuasang memulai pagi di Universitas Hasanuddin sebagai tukang sapu. Terlihat beberapa kali senyuman Pakuasang tertuang saat segelintir mahasiswa menegurnya. Sempat terpikirkan oleh Pakuasang tentang pentingnya pendidikan, tetapi ketidakberdayaan pada keadaan kembali memporak – porandakan mimpi yang baru saja akan bersemaiam di benaknya. Semua itu tak membuat semangat Pakuasang surut menghidupi keluarganya walau dengan bermodal pendidikan tanpa sekolahan. “dalam hidup hanya satu yang saya sesali, Tono dan Anto tidak bisa sekolah. Bahkan mereka sendiri sudah tidak berminat lagi untuk sekolah seperti mahasiswa – mahasiswa di kampus… Tampaknya pekerjaan saya akan menjadi pekerjaan turun temurun,” ujar Pakuasang pelan, dan setelah itu menghembuskan nafas panjang.

Matahari naik meninggi, Pas tengah hari bolong, di kompleks perumahan BTN Antara. Pakuasang terlihat sesekali mengusap peluh yang mengalir deras di dahi kala ia kembali setelah mengantar penumpang. Tak hentinya penumpang datang untuk diantarkan ketempat tujuan, pakuasang dengan sigap memandu becaknya tanpa pernah menghitung jarak yang akan ditempuh. Teriknya sinar matahari tak pernah menyusutkan semangat pakuasang. . Dengan bermodalkan keyakinan dan kerja keras, dari tahun 1985 sampai sekarang ia masih menggoes becak tuanya yang sudah mengalami modifikasi kanan – kiri……

Pulanglah pakuasang kerumah, karena Langit sudah mulai memerah, dan Senja datang membawa pesan malam kepadanya. Dari kejauhan tampak tono (12 tahun) pun kembali dari membawa becak. Mereka beristirahat sejenak. tetapi Demi waktu yang tersedia, mereka bersegera makan malam bersama. Setelah itu Anto (13 tahun) baranjak merapihkan semua barang – barang jualan kedalam becak, yang nantinya akan dibawa menjual didepan jalan Politeknik Unhas oleh pakuasang dan Ningkanang sampai tengah malam, sampai mata tak kuasa untuk terpejam.

“hari ini saya dapat lima belas ribu rupiah dari hasil bawa becak, dan sekarang sudah habis lagi untuk makan. Tetapi dikantong saya masih ada lima ribu, untung dari berjualan dan tono yang tadi membawa dua orang. Hari ini lumayan ada yang bisa ditabung walau beberapa ribu perak. Untuk beli becak lagi. Biar Anto bisa membawa becak juga untuk tambah – tambah ”. ujar Pakuasang dengan pandangan yang redup.

Setiap hari pakuasang melalui detik demi detik kehidupan dengan kerja keras. Kejujuran pakuasang dalam menyadari kehidupan tidak menyeretnya kedalam lembah penyesalan. Betapa mahalnya harga satu hari baginya, hingga kehormatanpun tertampikkan jadi barang langka. Mungkin sebagian dari kita tak pernah menyadari kehadirannya, Tapi toh ia tetap datang dalam sebuah warna dikehidupan, kita pun juga. Dalam keheningan tidurnya, kulihat pakuasang masih bisa tersenyum memandang mimpi– yang entah apa?……………….

Jangan khawatir akan kehormatan. Beberapa

di antara kita memang terlahir sebagai

orang terhormat, beberapa meraih kehormatan,

dan beberapa lagi tertimpa kehormatan.

Shakespeare, Twelfth Night, II.v.143

Ilham.f

(si Tampan dari Timur)

Ini bukan komedi, ini puisi

Ini bukan hanya hitam diatas putih, ini seni

Ini bukan hanya guratan-guratan biasa, ini harmoni

Disana rindukuku disemai pak petani

Disana laguku mengalun bersama pekik selamat pagi

Disana hatiku dirampas putri asia yang sedang menari.

Terserah gundik semesta berkata apa

Yang pasti aku mencintainya

Sudah lama… sudah sangat lama………!!

Mungkin lembaran ini hanya mengisi kekosongan waktu pembaca sekalian, atau mungkin pula hanya jadi debu yang akan berhembus dalam angin masa lalu, dan ia akan hilang lenyap oleh jaman, terkikis oleh terpa debur ombak kebudayaan yang terus berevolusi, hingga ia akan terus terbang tinggi ke nirwana, melambai dan pergi tinggalkan yang bukan dirinya.

Sebuah cerita, tentang Kesetiaan………..

Di sebuah pulau kecil yang dikelilingi lautan lepas. Pohon cemara tumbuh sempurna di atas pasir, menari indah terhembus semilir angin. ikan-ikan karang bermain-main di antara lautan luas. Bintang laut menerangi pesisir dengan diam. Sementara kami, menemani bulan dengan lantunan lagu-lagu kebebasan.

Pulau yang tegak menghadang lautan lepas ini menyimpan sebuah cerita kehidupan. Tentang sepasang manusia yang teguh menjaga nilai kesetiaan. Hanya mereka yang hidup selama 32 tahun dipulau ini. Kisah Dg abu dan Sitti maidah. Sebuah pelajaran kehidupan yang berharga tentang sebuah adaptasi manusia terhadap alam (lautan), terhadap nilai sebuah keluarga, terhadap nilai-nilai dasar manusia. Antara kasih sayang, perhatian, kesetiaan, tanggung jawab, bahkan cinta.

Kisah mereka dimulai pada saat Dg Abu menderita penyakit kusta pada tahun 1972. saat itu Sitti Maidah sudah menjadi pendamping hidupnya. Mereka bertempat tinggal di Kecamatan Bungoro Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan. Pada masa itu, Dg Abu masih berumur 20-an, ia masih sangat muda, begitu pula Sitti Maidah. Pada saat kami datang kesana, sempat sesekali ia menirukan bahasa nippon (jepang) kepada kami semua untuk menunjukkan jaman kehidupannya pada saat ia masih berhubungan dengan masyarakat. bersama dengan itu renyahnya tawa kami semua meledak, meruap-ruap diatas pasir, lalu teredam cepat disapu angin laut yang entah dari arah mana.

Masyarakat pada waktu itu menganggap bahwa kusta adalah penyakit kutukan. Kusta diibaratkan sebagai sebuah azab dari Tuhan terhadap kelalaian manusia. Bahkan lebih kejamnya lagi seseorang yang menderita penyakit ini dianggap sebagai seorang pendosa kelas berat layaknya pemerkosa atau perompak kejam di lautan. Walhasil, Dg Abu diasingkan ke sebuah pulau tak berpenghuni. Yang konon, di pulau tersebutlah dahulu orang-orang yang dianggap “kena kutukan” dibuang dan diasingkan masyarakat.

Cangke. Nama sebuah dataran yang tidak terlalu luas. Mungkin hanya sebesar setengah lapangan sepak bola atau mungkin juga hanya muat 10 rumah tipe 21, itupun padat. Di tengahnya dipenuhi pohon-pohon cemara yang cukup rindang, pasir mutiara yang halus dan memutih sempurna melingkarinya bagai cincin. Setelahnya, karang-karang ditemani bintang laut– biru, anemon, dan landak laut hitam disiang hari, sementara dimalam hari ikan-ikan karang berhenti sejenak untuk tidur dalam damai, terkulai lemas dalam arus terumbu karang yang tertutup air pasang. Lebih dari itu, hanya biru yang makin keluar makin menghitam. Kelam.

dahulu kala, setelah “hukuman” ditegakkan. Berangkatlah Dg Abu ke pulau tak bertuan itu. Tetapi ia tak sendiri, Sitti Maidah ikut pula menemaninya.

Ditahun-tahun pertama, mereka melalui masa-masa yang sangat sulit. Bayangkan saja, di pulau ini tidak ada air tawar, tidak ada listrik, dan bahkan untuk menanam sayuran pun tidak bisa karena tidak ada tanah, hanya pasir yang tertutup rerumputan liar.

Mereka bertahan dengan mencari ikan dan menjualnya secara barter dengan keperluan rumah tangga, makanan dan air bersih kepada nelayan-nelayan yang kadang singgah beristirahat setelah selesai berlayar mencari cumi-cumi atau ikan. Atau saat datang seorang dokter dari pulau sebelah yang mengobati penyakit Dg Abu. Tampaknya, sekarang ia pun sudah sembuh total. Walau penyakit itu masih menyisakan bekas luka di jari-jarinya, dan (Allahu a’lam) pula luka dalam kenangannya bersama keluarga yang ia tinggalkan dahulu.

Selama 30 tahun mereka tinggal di sebuah gubuk yang hanya muat untuk mereka berdua. Baru 3 tahun terakhir setelah anak mereka besar dan mapan di pulau Palla (sebelah utara pulau cangke), merekapun dibuatkan semacam pemondokan sederhana. Tetapi, tak lama setelah itu Dg Abu terserang kebutaan saat ia menyelam di dasar laut.

Kini tinggal Sitti Maidah dan anaknya, yang pula harus menghidupi keluarganya dipulau Palla. Sang anak sampai sekarang, hampir setiap sore dengan penghasilannya yang pas-pasan, menyisihkan sebagian penjualan ikan untuk membelikan kebutuhan ayahanda dan ibunda tercinta di pulau Cangke ini. Tapi itupun masih tergantung tangkapan.

Merasa ada yang kurang dari dirinya. Setelah setiap hari selama 30 tahun mereka menjalankan hampir semua ritual bersama. Sitti Maidah, sosok wanita tua dengan rambut mulai memutih, dan dari matanya yang tajam menerjang-nerjang alam. membuat 2 rakit dengan tangannya. Untuk sekedar mencari ikan ditengah lautan, agar Dg Abu bisa ikut mendayung sementara ia duduk memancing kala malam.

Kini, mereka masih hidup bahagia dengan lautan. berdampingan saling menjaga. Oh…. Mungkin terlupakan ada sajak yang tercipta kala malam (19/08/05);

Untuk mu adinda, yang akan datang kemudian

ku sudahi raguku di penjara penantian

agar setidaknya, kau terima mawar hitam yang ku petik dari lautan

dan sekembaliku dari tempat tak bertuan, ia akan berbuah kesetiaan

menemani rona-rona dibalik lesung mu, yang tumbuh diawal perjumpaan

***


Saat itu malam terakhir kami berada disini. Sebuah ekspedisi yang mulanya hanya untuk memenuhi tuntutan proposal ternyata membawa kami lebih jauh di dalamnya sebuah nilai-nilai kemanusian yang sudah susah kami temui di kota.

Purnama makin terang. Menguning di antara hitam. Terjaga di atas cahaya-cahaya yang membintang dari pulau Pala. Di depan perapian, suara nyanyian kami menggema di antara malam. sibuk sendiri pula angin mengaum-ngaum tunjukkan kebesaran lautan. kopi hitam pekat terangkat bersama, aku beranjak berdiri mendekat keperapian dan membayangkan seseorang yang jauh disana seraya berkata; “SELAMAT MALAM KESETIAAN………..

Writed at d moment . June 2004

Ilham.F (de.Vozquea)

– Kawan Laba-laba –

Mantan Mahasiswa Jurnalistik Jurusan Il. Komunikasi–2001

Pengurus besar HIMACAS (HImpunan Mahasiswa Cacat ASmara)

at the end of the dream

Daeng Andas anak Makassar tulen. Rautnya keras– sekeras kata kata dan prilakunya. Setiap hari panas mentari menyengat pori pori kulitnya hingga membesar serupa kulit jeruk. Hitam legam bagai arang di perapian Daeng Nazaruddin Anwar yang pula Makassar tulen.

Umurnya sekarang menginjak tahun ke-28. Umur dimana ketakutan akan jodoh tidak lagi di ikatkan benang merah oleh Yang Maha Pencipta. Seperti dua singa kecil di salah satu klenteng di kawasan Pecinan Makassar. Matanya membelalak memperhatikan satu sama lain. Kecil, mungil, dan lucu. Terbuat dari batu giok peninggalan kerajaan Cina terdahulu.

Matahari merekah panas. Sepanas hatinya kala penumpang yang membayar tidak semestinya. “kuran’ajara nah. seharusna mengerti mi itu! Cape ta’ lagi menggoes! Bambang’i!” katanya terus dalam hati setiap ada lagi penumpang yang tak mau mengerti.

Tak tahu darimana datangnya putri ling-ling (saya suka menyebutnya seperti itu, karena saya juga tidak tahu siapa namanya! Andas tak pernah mau memberi tahu ku). gadis cina menawan serta mempesona, yang tungkai kakinya putih sampai keatas, Seputih cat tembok deluxe di matrial kepunyaan ayahnya. Langsung naik tanpa bicara. Andas langsung menggoes kearah gang kecil dibelakang jalan besar yang becek dan sepi.

“hey, kemae min’jo?. Ketempat biasa mi ?” ujar Andas tampak akrab.

“jalan mi saja andas, Ada tempat baru ku. Bisa mi kita landing disana lama-lama. Jam’mo ko bicarai ka terus, masih dekat mi rumah ku. Jauh-jauh ka sedikit nah. Kau mengerti ji to’ sayang!” balas ling-ling ramah.

“oke sayan’ he he he!!!” tawa renyah andas dari atas becak tua yang sudah di kayuhnya selama belasan tahun.

Sungguh beruntung nasib Daeng Andas, dapat pacar anak juragan matrial. Memang sih kalau tampang, Andas bisa di acungi jempol keatas. Apalagi alis hitam tebal serta jenggot yang tumbuh subur terawat tak membuatnya pantas duduk diatas beranda besi yang disatukan dengan sepedah itu (becak maksud saya!). tapi apa salahnya? Ali Zaenal yang bintang video klip dan sinetron itu saja– dulu pernah jadi Preman di terminal.(kata orang!!!).

Di belakang kelenteng tua sore menjelang malam.

Andas terkapar dan terengah-engah. Ia berdiri dari balik jendela klenteng tua yang sudah tak terpakai. Ling-ling pun masih terkulai tak berdaya terbaring di tegel kotor beralaskan tikar yang kotor juga.

“kapang kita bisa kawin benar-benar mi di’?” tanya andas kepada putri ling-ling yang masih terbalut sutra merah yang konon berumur ribuan tahun

“tau mi!!” sambil kepalanya mengangguk menandakan ketidaktahuannya. “bosan mi saya juga begini terus bertahun-tahun!.” lalu mengambil rokok kretek kepunyaan Andas dan menyulutnya. Menghisapnya dalam-dalam, membuat kabut pandangannya kearah Andas dengan ratapan yang dalam

Andas terdiam masih memandang keluar jendela. Hujan turun rintik rintik. Orang tua gila yang duduk sudah menahun di depan klenteng berlarian mengadahkan wajahnya kelangit. Mencuri butir-butir berkah dari Yang Maha Kuasa sambil tertawa, melompat, dan sesekali menjilati tangannya yang sudah dipenuhi daki.

Hujan makin deras. aku juga harus pulang !!

* * *

Esok hari.

“sori ces, saya pulang duluan kemarin nah! Saya baru ingat. saya janji sama istriku pulang cepat. Sori-sori maap nih ces nah!” kataku sambil memohon.

“nda apa – apa ji itu! Tenang mo ko. Tapi kau liat mi to’. Pacar ku. Cina ka’bulampe!!”

Tawa renyah kami di warung kopi Daeng Nazarudin Anwar yang kerap disebut sebut “warkop bang udin”. Di salah satu lorong di kawasan itu, yang sekitar satu kilo lagi bisa sampai di pasar sentral.

“tapi begini mi nasib ku kodong. Tenna doi’!!”(bukan doi serupa pacar, tapi doi’ dengan huruf “i” di tekan yang berarti duit. Fulus.)

“memang kira-kira berapa mi kah? Perasaanku, kalau orang cina nda ada duit panaik-nya”.sambutku lagi mulai bercakap.

“memang! Tapi ko tau nah, dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung!! Paling kecil 5 juta pace-mace(Bapak-Ibu)nya minta. Dari mana ki dapat uang segitu? Saya kan tukang becak ji’ kodong! Kalo dibilang cinta. Cinta mati mi ini saya sama tu cina” jelasnya lagi. Nadanya merendah, rautnya turun membentuk guratan-guratan baru yang lumayan dalam.

“Makassar di’. Be be be…. Lima juta!! Bisa mi beli motor bekas itu kau’e.”lantunku menyindir. Tetapi jelas bukan dia yang kusindir. Kalian pasti mengerti kan?

Daeng Andas, sahabat baru yang ku kenal tidak sengaja, karena pernah menabrakku sewaktu hendak memotret bangunan klenteng di kawasan Pecinan ini. Dulu kami hampir berkelahi karena itu. Tapi toh sekarang malah jadi sahabat.

Kopi hitam pekat diseruputnya perlahan karena masih panas panas kuku, lalu ditenggak penuh kenikmatan. Menenggelamkan diri dalam rasa manis campur pahitnya kopi Daeng Nazaruddin. Bagai kisah cintanya yang pula pahit manis. Ia menarik nafas panjang, sepanjang waktu yang akan ia lalui tuk gapai harapannya, sepanjang mimpinya tuk menggenggam uang 5 juta(itupun minimal) dan meminang gadis impiannya. Dan ku yakin pula, si gadis cina yang ku gelari ling-ling itu pun menunggu tak sabar datangnya hari kebahagiaan yang dinantinya.

* * *

“Budaya panae doi’(“i” ditekan). Maksudnya mahar perkawinan ditentukan memang dari awal oleh pihak perempuan. Banyaknya itupun dihitung dari berbagai macam kriteria. Contoh; ada Andi,karaeng,Tenri-nya(penggelaran bangsawan suku bugis makassar) itu berkisar 10 jutaan, kalau S1 ditambah 5 jutaan, dari golongan pejabat atau tokoh masyarakat 5 juta lagi, dan kalau ada lagi yang lain seterusnya, ditambah 5 juta lagi, lagi, dan lagi (biasanya!!!).” tutur Daeng Nazaruddin Anwar! Yang suka sekali mengganggu Andas lelaki imbas budaya itu. Sering juga Bang Udin berpesan “makam’min jo cinta’iah!!!”(makan tuh cintamu) di beberapa akhir perjumpaan kami. (relistis menurutku!)

Ilham F(de Vozquea)

Mahasiswa jur il.komunikasi 2001.

Makassar <!–[if supportFields]> TIME \@ “HH:mm” <![endif]–>14:07<!–[if supportFields]><![endif]–> <!–[if supportFields]> TIME \@ “d MMMM, yyyy” <![endif]–>13 April, 2008<!–[if supportFields]><![endif]–>

“Untuk kalian yang sedang menanti datangnya hari itu. Selamat berjuang. CAH’YO!!!”