Sastra


joe kavalero

joe kavalero

JOE KAVALERO

Namanya Joe… Joe Kavalero… Bukan Peranakan Luar negeri, tapi sekedar Alih nama saja dari Juransyah Syamsuddin. Karena ini kota besar, Joe butuh sebuah nama yang ”hadir” di komunitasnya.

Sebuah Kisah Tentang Joe alias Juransyah Syamsuddin

Babak 1.

Joe duduk di kursi panjang pantai losari. Memandangi orang orang yang lewat. Melihat anak-anak muda Makassar bercengkrama di seberang jalan, di balik kaca-kaca riben mobil mereka. Kaca mata hitam memang cocok untuk sore-sore begini, apalagi di pasangkan dengan jaket kulit dan celana jeans yang berwarna hitam pula. Ya bisa di bilang mirip Lorenzo Lamas di film Rennegade, karena rambut inyol(keriting) joe pun mendukung.

Matanya jelalatan kesana kemari. Liar bagai komedi putar. Kalau diibaratkan lensa kamera, yang begini ini sepertinya mirip lensa 28mm sudut lebar. Yang cakupannya luas dan fokusnya tajam. Tiba tiba matanya berkilat-kilat begitu melihat tante muda dengan baju super ketat yang membuat ehm.. maaf!! payudarannya hampir tumpah ruah, akan lewat didepannya. Jalan sendiri tanpa pasangan. Tidak biasanya seperti yang lain-lain!!.

Tante manis dengan jeans pendek sampai beberapa centimeter diatas lutut itu hampir lewat di depan Joe Lamas. Mata mereka sudah bertemu bak kesetrum lisrik di kost-an nya Joe yang nunggak 3 bulan. Gratisan tapi lancar.

Joe berdiri dari tempatnya duduk tiba-tiba, saat tante cantik jelita itu hampir saja lewat didepannya. “TIK” tangannya sigap menyalakan pematik mewah ber-api bara. Sementara rokok putih koboinya sudah menunggu si api biru membakarnya hingga berasap. Geraknya cepat, tapi santai. Perlahan pada saat-saat tertentu, seperti pada saat menghembuskan kelebat asap saat tante itu lewat tepat di depannya.

“Maaf ya dik!! Rasa – rasanya kita pernah bertemu sebelumnya. Tapi dimana ya? ” sambil jemarinya meremas tangan kecil nan lembut milik tante muda itu………

”Dik” #@$@#$#@$#@$

Babak 2.

Tubuh mungil milik tante mona dipajang dijendela paviliun hotel mewah yang terbuka malu-malu. Hanya sepotong bra hitam serta celana dalam hitam terlipat yang membungkus gumpalan-gumpalan padat di dalamnya.

“TIK” tangannya menjentik pematik bara milik Joe lalu menuntunnya ke rokok menthol yang sedari tadi terselip di bibir mungil kemerah-merehan. Lebih merah dari pada waktu itu (mungkin karena terlalu ganas joe mengulumnya tadi malam!!).

“Joe pematik mu bagus ya!!?” tanya Tante Mona membuka pagi yang masih berselaput kabut waktu itu.

Joe beranjak dari tempat tidur mewah yang hanya di dapat apabila membayar 5 ratusribu untuk semalaman. Hanya celana dalam apek dengan dua lobang kecil di dekat pantatnya menempel erat di tubuh ber otot seperti roti maros itu.

“pematik itu kudapat dulu sekali! Kenang kenangan dari temanku yang sekolah di Amerika” ia terus mendekati Tante Mona hingga rapat. Tangan nakalnya menjulur mengalungkan pinggang dan menariknya hingga rapat. Hangat. “ hanya ada 2 benda di dunia yang kucintai. Yang pertama tante mona tersayang, dan yang kedua pematik itu.” desisnya agak menunduk, membisik dari belakang cuping telinga tante mona.

“dasar gombal!!” Tante mona mencubit pinggang Joe.

“tente boleh kok memilikinya!! Karena kalau kalian disatukan, aku tak punya alasan untuk berpaling pada yang lain!!”

“ah– kamu bisa saja Joe!”

tante mona berbalik. Menghisap rokok mentholnya dalam dalam dan menghempas puntungnya keluar jendela.

“coba kalau kamu berani sama aku anak nakal!!” sambil jinjit menghembuskan asap dingin yang tersisa perlahan dekat wajah Joe.

Joe dengan bersemangat menarik tante mona ke pelukannya.

Lantas mereka berciuman.

Mula mula lembut, lama lama menjadi bernafsu dan panas hingga akhirnya tante mona menyerah dalam rajutan tangan perkasa Joe.

Di luar pemandangan pantai losari berselaput kabut pagi. Mega-mega sudah agak menguning, tetapi dingin masih merambah dari luar jendela, meredam raungan Joe dan tante mona yang membuat degup dada orang lain yang mendengarnya.

Babak 3

“Dasar penipu!!! Kau bilang hanya mencintaiku!!” teriak tante mona di lantai tiga pusat pertokoan mall ratu indah.

Tante mona mendapati joe sedang bergandengan mesra dengan pacar mahasiswinya yang pun tak kalah sexi dan cantik.

“nih ambil!!” (PLETUK!!)pematik mewah berwarna silver dilempar tepat mengenai jidat Joe.”aduhh!!”.

“Setan, iblis, hewan, penjahat kelamin– huhhhff!!!” tante mona langsung pergi begitu saja. Berjalan agak berlari. Matanya membelalak. Bibirnya kontan mengeluarkan kata-kata kotor.

Tak lama setelah tante mona pergi entah kemana, keadaan kembali tenang. Para pengunjung yang tadi berkerumunan seperti lalat hijau, berpencar sambil bercerita satu sama lain. Ada yang nyengir-nyengir, ada yang ikut sewot, dan ada pula yang biasa-biasa saja tak terpengaruh.

Joe kembali berjalan, sementara pacar mahasiswinya masih memandang kosong dengan mulut ternganga.

“sudahlah Dina!!!” kejut joe menepuk bahunya.

“tapi joe–” belum selesai ia bicara,

“Sstttt!!” sambut telunjuk joe menutup bibir merah alami milik pacar mahasiswinya itu. “Dia itu……” joe berpikir. “dia itu tante mona. Kisahku dari masa lalu yang kelam. Kan aku sudah pernah bercerita padamu waktu itu. Jadi tolong mengertilah, kamu memang bukan yang pertama, tapi aku yakin pasti yang terakhir” Tambah joe menjelaskan.

Dina menatapnya sesaat. Dalam sekali. Sementara wajah joe melunak bagai bandeng presto yang hancur tulang-tulangnya.

Dina berjalan kesebuah tempat tak jauh dari sana. Lalu menunduk mengambil pematik yang jatuh dekat tong sampah.

“ini!!, enggak apa apa kok disimpan lagi!!” ia memberi pematik keramat kepada empunya. “aku percaya kok sama kamu. Tapi maaf ya, aku harus pulang duluan. Papaku menunggu dirumah. Ia mau keluar negri.”

“aku mesti ngomong apa ya? Aku benar benar beruntung punya pacar kayak kamu. Mungkin kamu benar-benar turun untuk menyelamatkan aku sebagai putri penolong. Makasih ya Dina!!” joe mengambil pematik itu lalu memasukkannya dalam kantong sesegera.

“sudah gombalnya?” ia tersenyum. “daaa sayang !!!”(cuptt) ciuman lembut sebelum lambaian tangan. Sungguh romantis perpisahannya senja itu. Sampai kenangan pahit di labrak sama tante mona tak terasa begitu cepat berlalu.

Babak 4.

Malam pun tiba masih pada hari yang sama.

Letih joe mengobrak abrik buku di Gramedia, dan tak satu pun yang menarik hatinya. Kalaupun ada, harganya tak bersahabat. Berjalan pasti menuju pintu keluar dengan rokok koboi terselip di bibirnya. Hanya untuk di kulum-kulum dan digigiti ujung-ujung busanya.

Ia masih terus berjalan, kali ini lebih santai. Di lantai tiga, di depan kafe elit olala Mall Ratu Indah (Makassar). Tiba tiba matanya merem-melek, berkilau kilauan begitu melihat tante cantik yang sedang menggendong anaknya, tanpa gandengan. Kebingungan menurunkan kereta bayi yang mirip becak kecil itu dari lift.

Lantas tanpa banyak pikir panjang Joe pun beraksi!!

“Adinda!!!” (Adinda….? @#$@#$#@$@#$) hentaknya tiba – tiba dari belakang. “biar saya yang angkat. Yuk!!” ajaknya turun melalui lift sementara satu tangannya sudah mengangkat kereta bayi tersebut. dan menyentuh halus kelingking si tante cantik yang sebelah tangannya menggendong anak lelaki yang sangat imut lagi menggemaskan. Tapi ibunya tak kalah menggemaskan kok!!

“terima kasih ya, jangan panggil aku adinda, kayanya kamu jauh lebih muda dari saya. Namaku Tiwi!!” senyumnya manis bak buah delima yang sedang merah merahnya.

“ups…. Maaf ku kira kamu tadi lebih muda dari saya!!” balas joe agak kurang lancar bicara karena rokok masih terselip di bibirnya. Bisa dibayangkan bagaimana muka cengir-cengir kecil tante Tiwi kala itu. Ia merogoh sakunya, dan mengambil pematik antik yang sudah malang melintang makan garam itu.

“ngomong – ngomong papanya si kecil mana?” tanya joe yang sebenarnya tidak pantas.

Wajah tante cantik itu masih tersenyum, tetapi kali ini dengan versi yang berbeda. Bibir anggun warna merah muda bermahkota lipstik istimewa itu agak membengkok akibat pertanyaan Joe. Ia terdiam, belum bisa menjawab pertanyaan joe yang sok akrab ini!!.

“Umur berapa adik kecil imut wi?” lanjut tanyanya mengalihkan pembicaraan.

Mereka sudah diluar Gerbang Masuk Mall itu. Joe pun tersenyum dalam hati. Tak perduli apa yang dikatakan wanita cantik ini. Tetapi pertanyaan yang tak terjawab tadi, sebenarnya sudah terjawab dengan sendirinya. ia masih memandangi bibir manis si tante beranak imut ini. Sementara pematiknya terus berjalan perlahan mendekati rokok yang sudah menguning ujung ujungnya.

“TIK”………

”Namaku JOE KAVALERO…. !!!”

GADIS MANIS

“PLAKK” gadis manis berbaju putih menampar keras tepat di pipi ku

“dasar kurang ajar ya!! Berani beraninya kamu colek – colek pantatku!” bokong indah nan mempesona terbalut rok mini coklat motif polos, sepolos kulit pahanya yang putih itu.

“Yeee mba, aku kan enggak sengaja! Main nuduh – nuduh sembarangan lagi! ntar, kalau aku digebukin orang siapa yang mau tanggung jawab!” lantun ku tersenyum masih bercanda walau tangan kiri sudah meremas remas pipi kanan yang terasa perih.

Di seberang jalan raya Pettarani Makassar angkot 07 mengantri ambil penumpang. Gorombolan Calo sibuk meneriakkan jurusan (“kampus, kampus, kampus de!”) yang saya kira sudah diketahui kebanyakan calon penumpang. Bikin ribut saja!

Si gadis manis dengan kemeja putih yang hampir copot kancing-kancingnya. karena terlalu ketat mungkin?, masih saja memandang ku sinis. Belum puas rasanya hanya menampar cowok di sebelah yang menurutnya telah kurang ajar. Sebenarnya siapa yang kurang ajar? cowok jail yang hanya ingin tahu seberapa empuk dan berisinya bokong indah itu atau gadis korban mode yang mempertontonkan paha putih mulusnya serta tonjolan tonjolan lain dibalik kemeja putih agak transparan itu. Mana tahan!!!

“mba, mba,!!” panggilku agak berbisik dari belakangnya. “sumpah mba tadi aku enggak sengaja kok. Mba aja yang salah paham. Maafin aku ya mba!” aku mencoba menjelaskan kepadanya, karena setelah kuperhatikan dengan seksama, si gadis manis ini bisa mempesona syaraf syaraf indraku. Kalau tidak sih buat apa coba!!?

“Sudah deh, enggak usah cari alasan!! Cowok kaya kamu memang banyak di terminal terminal kayak gini. Dasar bar-bar!!!” timpalnya, masih mengendus-ngendus geram bak kucing betina.

Tak lama mobil 07 jurusan kampus UNHAS datang. Ia naik cepat meninggalkanku. Satu, dua penumpang pun turut hingga akhinya mobil hampir penuh. aku masih di tepi jalan menunggu mobil Ikip jurusan pasar sentral. Tetapi perhatianku masih tertuju kepada si gadis manis. Ia pun masih memperhatikanku walau agak malu-malu.

“Wah, kalau tidak sekakarang kapan lagi!!?” tanyaku dalam hati

Akhirnya ku putuskan untuk berubah haluan tanpa perduli tujuan. Aku segera naik ke atas angkot, mengisi bangku kosong di sebelahnya. Sebenarnya sih tidak kosong!! Tetapi setelah ku katakan “hai dari mana aja?” kepada si gadis manis, seorang ibu tua itu pun mengerti. Walau tanganku harus menggeser-geser lutut ibu tua itu terlebih dahulu. Dan Mobil pun Pul’ setelah naiknya aku di mobil yang di penuhi mahasiswa yang lagi segar segarnya hendak studi. Setidaknya begitulah yang mereka katakan kepada orang tua mereka di kampung!!!.

“Nama ku RRROMA!” ujar ku berusaha bercanda pada si gadis manis yang dari tadi duduk berusaha membelakangi ku.

Tetapi tetap ia tak menggubris ku. Hanya melirik sekali dan melempar lagi pandangannya ketempat lain.

“Dan kau, pasti –ANI kan? Ohh ANI dari mana saja engkau? ” tambah ku nekat dengan suara agak besar.

Hampir semua penumpang di angkot itu tersenyum spontan. Ia pun sempat hampir membuka bibir tipisnya dengan tawa. Tapi gengsi lebih lebat dari pada hujan goyon apa adanya itu. Ia masih memandang ke belakang.

Ia duduk di pojok kursi 4 dan di sebelahnya tepat aku duduk mengarah padanya.

“lagi ada masalah ya nak!!” tiba tiba ibu tua yang kugeser singgasananya tadi menimpali dari pojok kursi enam di depan kami.

“ah biasa kok bu! Masalah cinta remaja, muuuudah sekali cemburu“ kata ku sambil nyengir nyengir.

“ih, enggak tau malunya nih cowo’!“ tiba tiba ia berbalik. “kami itu belum pernah kenal sebelumnya bu’. Dia aja yang kegatelan ngikut-ngikut sama saya. Mana tadi pake colek-colek pantat saya pas di terminal Ujung. Dia ini bajingan bu! Jadi jangan di dengerin omongannya. Pembohong kelas berat!” nadanya keras, sekeras raut wajahnya yang drastis berubah tiba – tiba.

Tampang manisnya berubah tengil bak jagoan yang sudah menghajar penjahat hingga tak berkutik. Semua penumpang memandangku sambil menyerengitkan dahi. Termasuk mahasiswa gondrong berbusana hitam-hitam di ikuti ratapan tengkorak genit di kaosnya itu yang bangku pojok dekat supir. Uuu Takuuut!!.

“ya sudahlah! Aku letih seperti ini!! Mentang-mentang kamu sudah punya pacar baru !!.” Tutur ku agak di keras keraskan dan nada penuh kepasrahan. “Maaf ya bu!! Maaf juga bapak bapak dan ibu ibu, sudah mengganggu perjalanan kalian.” tambahku agak di-iba-kan. “baiklah, Kalau begitu aku mengalah!”

Ia memandang ku tajam. Bibir tipis merah itu bengkok tidak karuan. Sekarang giliran ia yang di salahkan penumpang lain. Saya bisa melihat itu dari pandangan mereka yang pula sambil menyeringitkan dahi. Bahkan lebih dalam lagi, sepertinya bisa untuk mengalirkan air bak sungai kecil di pegunungan.

“KIRI PAK !!!” teriak ku kepada pak supir. bermaksud melarikan diri dalam keadaan menang. Yess!.

Setelah membayar pak supir dengan uang receh seribu-an, lalu aku melambai kepada semua penumpang dengan wajah sedih dan sungguh minta dibelaskasihankan.

Mobil berlari kencang. Tapi wajahnya yang penuh dendam masih sesekali melirik kearah ku. Ibu tua itupun masih memandang ku iba sampai aku membalikkan badan dan tertunduk berjalan ke arah yang berlawanan.

“ah beli rokok –ah” dalam hatiku setelah melihat kios kecil di depan jalan besar Abdulah Dg Sirua. “Marlboro mba!!” sambil ku menunjuk bungkus rokok merah putih di etalase yang dirajut dari kaca dan bambu seadanya.

Marlboro telah ku genggam. Tetapi jemari ini masih mencari dompet disetiap kantong jeans ku berualang ulang, tetap tidak ketemu.

“wah… kuwalat saya sama tuh cewek. Kayaknya sih jatuh diatas angkot!!” kata ku dalam hati. Sambil memandang mba penjual dengan wajah sedih.

Tetapi sungguh kota besar. Mba penjual bukannya ikut prihatin, malahan menaruh curiga pada ku.

“ya sudah, kembalikang mi rokok ku. Pake alasan segala. Bilan’ mo ko, kalau kau tidak punya uang?. Pakai segala ambe’ rokok mahal. Pui!! Gayana ji’!!” logat asli keluar deras menghantamku keras, sakitnya bagai di tikam sembilu.

Jalanan makin ramai oleh kendaraan. Seperti semut melihat gula berbondong-bondong berbaris antri. Matahari pun terus berputar. Kali ini tepat diatas debu-debu jalan yang terbang tidak karuan. Membawa jarum jarum panas yang tak pernah sekali pun selama 2 tahun ini menyapaku sebagai teman. Selamat pagi menjelang siang pejalan, Saatnya pulang!! Nasiiib, nasib!!!.

* * *

Gorden itu terbuka lebar bagaikan layar panggung sandiwara. Segara tampak pemandangan pantai losari yang dijejali gerobak penjual makanan. Mega- mega bersepuh kelabu mendekap gerimis pagi hari ini. Kamar paviliun yang tadi gelap terbias terang oleh sinar pagi seadanya. Si gadis manis terkulai lemas di atas ranjang tebal buatan italia. Berkelebat selimut tebal, menutupi letih yang masih merasuki lelap tidurnya.

Ku sandarkan tubuh ini pada jendela lebar disisi belakang. Buih asap putih menutup pandanganku sesekali. Rokok yang terselip di bibir ini mulai terasa hambar akibat ciuman tadi malam terlalu buas. Sudah lama tak lagi ada perasaan seperti ini. Rasa penyesalan., rasa gelisah, dan rasa – rasa lain yang datang belakangan. Aku harus pergi, Istriku sudah menanti dirumah!.

Dua lembar uang seratus ribu-an kuselipkan ditaplak meja bundar di sebelah telpon. Sekarang, Isi dompetku benar-benar telah habis terkuras. Uang jerih payah mencari berita siang dan malam habis semalaman. Tetapi wajar pikirku. Si jujur nan manis yang terkulai lemas di atas ranjang itu telah mengembalikan dompet ku. Ya, hitung –hitung balas budi lah!.

“selamat tinggal gadis manis!!” bisik ku di telinganya. Pelaaaaan sekali. Aku tak ingin ia terbangun.

”Ups…. Namaku Joe Kavalero……. ” Mmmmmuach!!

”TIK!!!!”

AKU SETITIK DEBU DALAM WAKTU


Oleh ilham.F

Perjalanan waktu membuat kita terombang-ambing dalam lingkaran kebisuan.

Saat ia berdetak dengan kemegahannya. Titik-titik detik dari angka ke angka
membuat senyuman maupun tangisan jadi bermakna.

Kata orang, waktu itu bagai roda dalam jalan kehidupan. Selalu berguling
tinggalkan jejak untuk dikenang sebagai masa lalu, atau bagi seorang
pengembara diatas pedatinya yang bermimpi tentang negri indah dimasa depan.

Tapi bagiku, waktu adalah tiga busur panah yang melesat bersama dengan
kekuatan syarat takdir. Sebelum ini, hari ini, dan setelah ini. Terus
melesat ikuti prasyarat materi.

Panah masa lalu dibentuk oleh panah hari ini, dan panah masa depan pula
bergantung pada arah panah hari ini. Memusingkan …………

Sungguh kematian yang mungkin menyiratkan tentang perhentian arah panah pun
masih pula jadi pertentangan. Bagiku, setelah mati tiga panah masih terus
berjalan dengan laju yang entah cepat atau lambat. Tak ada bahasa bumi, tak
ada bahasa materi– semuanya  masuk pada “Lingkaran Kebisuan”.

Kenangan tinggal impian bagi manusia tuk perbaiki syarat masa depan.
Saatnya kita melepaskan perasaan dan biarkan “Lingkaran Kebisuan” membuat
kita menghamba kepadanya. Apakah mungkin percepatan menembus batas-batas
ruang dan waktu?. Pasti. Bintang yang kita lihat di teleskop adalah bintang
seratus juta tahun yang lalu, begitu pula sebaliknya bila kita berada pada
posisi bintang. Dan andai ada mahluk lain yang melihat kita melalui
teleskopnya, adalah kita seratus juta tahun yang lalu pula.

Andai saja benar-benar ada mahluk lain diluar sana yang bisa melebihi
percepatan cahaya, pasti ia sungguhlah Agung. Apakah yang tak bisa
dijelaskannya pabila ia dapat menembus masa lalu, hari ini, dan masa depan.
IALAH YANG MEMILIKI ENERGI MAHA SEMPURNA. Tentang kelahiran dan titipan nyawa hanyalah urusan kecil dari pekerjaannya. Dan pertanyaan tentang agama
dapat dijawab dengan mudah sebagai buku pedoman idealitas tentang masa lalu
dan masa depan tuk jalani hari ini penuh harmoni.

Para politikus selalu memaknai fenomena yang terjadi sebagai suatu bagian
dari desain besar. Dan apakah kehidupan yang kita jalani ini bukanlah
sebuah desain besar dari Si Entah Siapa?. Apabila Seno Gumira
mengatakan “Dunia Seperti Adanya Dunia” pada Kitab Omong Kosong bagian
pertama. Bahwa dunia adalah materi belaka, dan materi adalah potongan-
potongan syarat untuk terciptanya hari ini, dunia ini, dan kehidupan ini.
Pabila seperti itu adanya, Semesta terlalu besar bagiku!!!

Keyakinan…….. keyakinan yang bagaimana yang dimaksudkan? Keyakinan tentang
apa?. Apakah tak mungkin manusia bisa menciptakan dunia untuk manusia.
Nyatanya beberapa manusia bisa menembus batas energi dunia. Beberapa
manusia bisa memecah tubuhnya menjadi empat unsur ; Air, Api, Tanah, dan
Udara. Dan ada pula manusia yang bisa menembus lapisan-lapisan semesta,
entah sampai tingkat berapa kita bisa sampai pada Yang Maha Berkuasa Atas
Semesta.

Kehancuran semesta dan isinya. Apakah mungkin itu sebagai titik balik dari
kehidupan yang kita jalani pada kehidupan panjang selanjutnya yang sudah
direncanakan sedemikian rupa. Apakah kita yang sudah terlepas dari raga
akan dilibatkan dikehidupan selanjutnya? Siapa yang tahu. Bertanyalah lewat
doa, permohonan, atau apapun istilahnya.

Apakah kehidupan selanjutnya masih ada wangi tanah basah dan embun dipagi
hari? Apakah masih ada senja yang seti temani pelangi? Apakah masih ada
tangis dan tawa dalam keluarga? Apakah masih ada hujan dan desir ombak yang
membuat kita terlarut dalam kesunyian bahasa? Apakah masih ada pengorbanan,
ketulusan, kesetiaan, pengabdian, kesejatian, dan apakah masih ada CINTA?
………………………..?

Aku adalah sebutir debu dalam angin yang singgah diwajahmu,
Aku adalah setitik noda dari karya seniman yang maha tak tertandingi.
Apakah kesedihanku punya arti?
Apakah jerit tangis si hina ini membuat dunia mengasihani?

Atas nama 9 indra yang tergerak oleh cahaya
Biarlah surga kupapah hingga ku tak kuasa
Demi mereka yang menjatuhkan airmata memandangku
Sampai hancurku mendebu.

Ilham. F
Bumi saat gelap malam,
Saat hari diulang kembali pada 27 Mei
Saat tahun– baru sampai pada angka 2008

Entah pada keberapa ratus juta tahun umur bumi.

RUMAH WAKTU

Sedikit Cerita Untuk Anak-anak langit yang sedang mengembara menyelesaikan kuliahnya di negri orang

Tiba-tiba semuanya kembali melankolis… tinggal beberapa waktu lagi meninggalkan kampus dan kota ini. kampus dimana banyak memberikanku nilai-nilai kehidupan. ada persahabatan, ada cinta, dramatika dialog antara otak, hati dan otot.

menjalankan kehidupan ini setidaknya memberikan banyak manfaat untuk orang lain. tapi semakin lama terasa diriku ini semakin terasa dimanfaatkan oleh orang lain. belajar untuk menjadi pelayan. tapi kok malah terasa jadi budak… apakah salah menjadi “bisa”- ternyata “bisa” pun menuntut banyak beban, terutama beban sosial.. apakah salah menjadi “bodoh” seakan semuanya terhitung siapa yang paling pandai mengakali siapa…

Entah mau dibawa kemana isi kepala yang penat ini. kepenatan yang terus menggelora tak menghilang menutupi segala hal positif yang bisa saja terjadi dalam hubungan kecil yang mungkin tak kusadari. Terima kasih kepada semua rasa yang pernah singgah dan mirip cinta- yang semakin membuat banyak hubungan yang kujalani sekarang dingin dan membatu.

kepada lara- dalam duka akan kesendirian yang akan kuhadapi. saat meniti jejak ini sendiri. Persahabatan yang kadang tak masuk akal- membela walau salah- memaafkan walau itu kesalahan yang prinsipil- berpura muram berpura simpati berpura perduli berpura canda hanya untuk mempertahankan hangatnya kekeluargaan yang tercipta selama ini karena memang haus kasih keluarga.

Hari inilah selayaknya Rumah. bukan rumah sebuah tempat- bukan rumah sebuah panggung- bukan rumah sebuah batu- rumah bukan sebuah konotasi dari kehangatan kasih sayang, tapi rumah adalah waktu, rumah adalah saat, rumah adalah rentang, rumah ialah singkat atau lamanya sesuatu, rumah intisari dalam setiap jenjang detik ke detik, hari ke hari, umur melalui umur, hidup melalui hidup, bahkan hidup melalui umur.

hari ini hangat. mata harinya- suasananya- nuansanya- aromanya- lagu pengiringnya- gelak tawanya- impiannya- pembicaraannya. tiba-tiba saja semu(a) jadi hangat, hangatnya sebuah penantian dimana semua orang pun menginginkannya.

mungkin terdengar sanjak. tanpa dan mungkin terasa ruhnya- sebuah tulisan yang menggebu-gebu, ia dramatisasi yang bodoh- penekanan yang tidak dalam kesatuan yang utuh dalam bahasa tanpa kebebasan.

Keheningan ini……… rasakan……….. iramanya………..petikkannya…………. gelak-kesedihan yang bercampur canda-lara yang bergumul mesra dengan tawa.

saatnya kembali ke dunia. berharap semuanya aman-aman saja, semuanya lancara-lancar saja, dan seakan tidak ada masalah apapun dari kehilangan sesuatu atau seseorang atau pula arti sebuah persahabatan.

sudah terlalu dini. seakan rumah waktu ini memiliki falsafati sendiri yang berjalan tanpa definisi. apa yang kita ketahui lagi tentang waktu!!? NOL BESAR. bahkan aku sendiri tidak mengerti apa yang ku bicarakan.

Entah kapan lagi kubisa melihat kota ini… sudah saatnya kembali dan meninggalkan semua kenangan yang telah tertoreh dalam hatiku… pesawatku telah datang… ijazah telah ditangan… salamku kepada semua anak-anak langit yang menengadahkan wajahnya kepada alam… seakan alampun yang pernah menuntun kita kepada kisah kesetiaan dipulau pengasingan (kisah cangke)… begitu pula cinta dan persahabatan ada perjumpaan pasti ada perpisahan… selamat menjalani kehidupan masing-masing kawan…

if bhaltazar the red spider

semalam hujan dijakarta sesaat setelah tiba akhir jan 2007

Jatuh Cinta

Ini bukan komedi, ini puisi

Ini bukan hanya hitam diatas putih, ini seni

Ini bukan hanya guratan-guratan biasa, ini harmoni

Disana rindukuku disemai pak petani

Disana laguku mengalun bersama pekik selamat pagi

Disana hatiku dirampas putri asia yang sedang menari.

Terserah gundik semesta berkata apa

Yang pasti aku mencintainya

Sudah lama… sudah sangat lama………!!

KEHENINGAN IDUL FITRI

if. at Ied 2005

Makassar hari ini terasa sejuk sesejuk sejuknya. Wangi tanah basah, daun mengikilap keemasan, tidurnya burung kenari, dan senyap yang ada bagai harmoni iringi malam ini. Romantisme dan nada kehidupan bagai terulang kembali saat bulan tersenyum bagikan keheningan untukku yang tak tahu mengapa meneteskan air mata.

Suara takbir berkumandang dimana-mana. Mulai dari perjalananku membeli sayur dikota tadi, sampai tengah menuju kompleks perumahan dosen Unhas semuanya meneriakkan kegembiraan yang tiada taranya. Gemuruh suara gendang di antara bintang-bintang, berpantun saut-sautan timbulkan suara kebesaran dan kemenangan.

Teen!! Teen!! Suara klakson motor dari depan pagar rumah ini menghentak mimpiku tentang dosa-dosa hidup yang terlewati, yang datang sudah beberapa hari, dan berkelanjutan bagai sebuah episode. Maman, seorang teman yang jauh-jauh datang dari kota penyangga Makassar ini, hanya untuk berkeliling dan berbelanja pakaian baru.

“Woi, apa-ji pemudaia’ tenna majokka-jokka. Ayo mi! kita pi takbiran keliling kota!!” Maman tersenyum lebar dibalik semangatnya untuk berkeliling teriakkan takbir kebesaran umat Islam yang terdengar sangar hanya pada akhir Ramadhan.

“ iyo, pigi mo ko! Lagi masak rendang ma’ saya lagi tunggui dagingnya lembut. Duluan mo ko!!” balasku seadanya.

“ aih menyesal ko nak!! Mauka singgahki dirumahnya Achi- si keju kuning langsat tenna biji!!”

“ biar mi!! lagi malas ka.”

“ mauka juga kerumahnya Dwi cina!!”

“ betullll ko deh? Tapi, biar mi kali ini saya off dulu.”

“ kalo lina iya!! Hehehe!!”

“ Man sebetulnya kau mau pi takbiran atau pi boya? Jangan-jangan ada U di balik Be nih. Wah, bagus nih dicerita sama kika katina daeng paren-reng si pagosip itu!! Hehehe”

“ woi, kenapa saya? Biasanya, Itukan suntik-suntiknya biar kau mau ikut. Jam’moko kalau tidak mau iku’ ki. Saya pigi ma ambil Ato nah. Ta satu dua ja ko sama Ato.”

“ iyo, sory ces nah. nda bisa ka juga tinggalkan rumahnya pak!!”

Maman berlalu lewati angin malam yang mulai dingin. Rendang sudah mendidih dari setengah jam yang lalu tapi ia butuh terus dalam keadaan seperti itu agar tembus masuk kebagian yang terdalam. Suara takbir dari mesjid di depan rumah ini masih saja menggema, merayap bersama udara dan keheningan yang kurasa. Entah kenapa aku bisa berada ditempat ini? Yang aku tahu Riza seniorku meminta untuk ikut menjaga rumah pak Mulyadi, dosen yang beberapa mata kuliahnya aku ketua kelasi. Tapi, setelah bangun dari tidur siang tadi tiba-tiba saja jadi sendiri disini.

Ini bukan soal mengutuk kepergian Riza yang menjaga rumahnya yang juga kosong, kepergian Maman takbir keliling, atau beberapa teman berbuka beberapa minggu yang lalu masih ada bersamaku, derlin, adi, bento, ardi, fajar, samsul, amir yang sudah pulang ke kampung mereka masing-masing, atau Surahmat yang harus merolling beberapa pondokan yang dititipkan kepadanya.

Sudah pukul 2 malam. Rendang dan beberapa sayuran sudah jadi. Tinggal pagi nanti dihangatkan. Ketupat sudah matang sepenuhnya dan siap santap, kugantung ia bersama pengharapan akan ada seseorang yang akan datang esok hari. Kue lebaran hibah tetangga juga sudah tertata manis sekali di meja tamu, seakan sendok kecil di sebelahnya menantang siapapun untuk merasakan kegurihan kue kering dan kacang goreng sedanya ini.

Acara di televisipun mulai membosankan. SMS masuk berlomba-lomba di ponsel pinjaman. Memecah keheningan dengan kata-kata kesejukan walau hanya tahunan. Mama dan papa yang jauh disana menelpon sekali tapi tak kutanggapi karena akan menambah sesalku tentang ketidak hadiran jasmani disisi mereka, beberapa kerabat lama, teman kampus, dan beberapa wanita yang pernah menjadi tempat persinggahan hati memberikan kata bijak bagai mereka adalah kebijaksanaan itu sendiri, seenaknya menasehati. Yang terpenting malam ini kurasa hanya ada pada rembulan yang setia tersenyum padaku.

Pagi tiba membuka lembaran baru kehidupan. Sayup-sayup sinar mentari yang merekah indah, membiru diangkasa tunaikan tugasnya. Hari yang cerah, secerah hati kembali pada fitrah. Burung nuri pak Mulyadi kini mulai bernyanyi merdu sekali. Bukan sekedar nyanyian nada, tapi nyanyian hati.

Aku duduk diteras rumah pak Mulyadi nikmati pemandangan orang yang bersalam-salaman dijalanan sekitar mesjid. Rumah pak mulyadi terletak tepat didepan mesjid, hanya diselingi lapangan volly pemuda setempat. Jadi aku bisa menyaksikan pemandangan itu dari depan teras sambil menengguk segelas es rasa lecci, yang pula telah disediakan oleh pak mulyadi sebelum ia pergi tinggalkan rumahnya padaku dan Riza.

Hatiku tergerak entah oleh apa. Yang aku rasa hanya pikiran yang berputar tentang hari-hariku yang telah terlewati bagai kesia-siaan.

Dibenakku hadir Wiwi, seorang gadis kecil yang terduduk dengan tangis diantara hujan yang deras pada suatu sore di sebuah lampu merah, ada pak Kuasang yang masih mencari dan memaknai kehidupan diatas becak tuanya, ada pembunuhan atas nama agama di negri sana, ada beberapa wanita yang membuatku pernah membuatku merasa sangat marah, berdosa, berhianat, kejam, sedih, bergelora, jua berbagai kisah romantis bersama mereka. Dan ada beberapa perkelahian mempertahankan sesuatu yang sampai sekarang tak kutemukan jawaban sesungguhnya, tak lupa ada pula beberapa pesta dan tawa yang biasa dalam kehidupan dengan atau tidak dengan kesalahan versi agama. Entah?

Dosa. Tapi tak ada kesedihan, belum pula muncul penyesalan, kebanggaan…. Tidak terpikirkan, hanya sebuah siklus kehidupan antara kosong dan kosong. Kesia-siaan. Tanpa hikmah, tanpa kegunaan. Dingin. Kelabu. Pencarian yang semu antara dunia kehilangan Aku, atau aku kehilangan dunia……

Mungkin ini hukuman untukku. Dihari kebesaran ini aku “sendiri”. Sepi walau gaduh diluar sana. Keheningan telah kutemukan tapi ia pun tak kunjung menghilang. Tapi justru makna “Aku” dikehidupan ini yang makin memudar dari pikiran.

Mungkin Wiwi yang tertangis dilampu merah waktu itu sedang menikmati hari raya ini bersama keluarga, mungkin pak Kuasang sedang mengelap becak tuanya sambil minum sirup bersama keluarga di pelataran rumahnya, mungkin para korban kerusuhan itu sedang mengenang kisah haru dan hikmahnya, mungkin teman-temanku sedang mengucapkan maaf sedalam-dalamnya pada orang tua mereka sambil mencium tangan dengan suasana penuh deru tangis, mungkin musuh-musuhku dahulu ada di pelukan keluarga mereka, bernyanyi dan tertawa….. ah, entahlah!!.

Kuhidangkan santapan yang ku buat tadi malam di pelataran rumah pak Mulyadi. Berharap ada yang datang. Siapa saja!! ternyata sia-sia, kesendirian memang terlanjur tersandangkan. Lebih baik terus belajar kehidupan sambil berjalan seiring waktu- bersiap dihari depan untuk lewati nafas selanjutnya. Dan pasti hingga waktu akan terbagi dua antara sebelum ini dan setelah ini, kuharap Masih ada tangis, masih ada tawa, masih ada angkara, masih ada tipu daya, dan mudah-mudahan masih ada cinta. Karena itulah dunia.

Kutuangkan jus jeruk di gelas kristal perlahan-lahan sampai penuh dan tumpah dengan anggunnya, kusendok nasi yang masih panas-panas kuku, lalu ku lumuri dengan bumbu rendang yang coklat bak berdebu. Beberapa lapis daging itupun ikut pula didalamnya. Kuambil segenggam kacang dan kuberikan pada sepasang burung Nuri yang mulai letih bernyanyi. Langit makin biru, suasana semakin penuh keheningan, sunyi. Anginpun melintas malu-malu, titip kan salam kepada seluruh semesta kehidupanku terdahulu. Ada maafku jua kepada kalian bersamanya. Suapan pertama adalah untukmu kehidupan. “Selamat idul fitri!!”

Atas nama indra yang tergerak oleh cahaya

Biarkanlah surga kupapah hingga tak kuasa

Demi mereka yang menangis memandangku

Sampai hancurku mendebu.

De vozquea

(kamar laba-laba)

penulis adalah mahasiswa jurnalistik ilmu komuniksi 2001

aktif di Komunitas film Makassar, Ligafilm Unhas,

mantan pimred majalah BaruGa,

serta masih saja luntang lantung berjuang demi kuliahnya.

“Sekedar bercerita, tak mengapa bila tak sadar kembali berdosa. Maafkan hamba!!”

Gadis

“PLAKK” gadis manis berbaju putih menampar keras tepat di pipi ku

“dasar kurang ajar ya!! Berani beraninya kamu colek – colek pantatku!” mataku tertuju pada bokong indah nan mempesona terbalut rok mini coklat motif polos, sepolos kulit pahanya yang putih menyilaukan.

“Yeee mba, aku kan enggak sengaja! Main tuduh–tuduh sembarangan lagi! ntar, kalau aku digebukin orang siapa yang mau tanggung jawab?” lantun ku tersenyum masih bercanda walau tangan kiri sudah meremas remas pipi yang terasa perih.

Di seberang jalan raya Pettarani angkot 07 mengantri ambil penumpang. Gorombolan Calo sibuk meneriakkan jurusan (“kampus, kampus, kampus de!”) yang saya kira sudah diketahuii kebanyakan calon penumpang sebelumnya. Bikin ribut saja!

Si gadis manis dengan kemeja putih yang hampir copot kancing-kancingnya. karena terlalu ketat mungkin?, masih saja memandang ku sinis. Belum puas rasanya hanya menampar cowok di sebelah yang menurutnya telah kurang ajar. Sebenarnya siapa yang kurang ajar? cowok jail yang hanya ingin tahu seberapa empuk dan berisinya bokong indah itu atau gadis korban mode yang mempertontonkoan paha putih mulusnya serta tonjolan tonjolan lain dibalik kemeja putih agak transparan itu. Mana tahan!!!

“mba, mba,!!”panggilku agak berbisik dari belakangnya. “sumpah mba tadi aku enggak sengaja kok. Mba aja yang salah paham. Maafin aku ya mba!”aku mencoba menjelaskan kepadanya, karena setelah kuperhatikan dengan seksama, si gadis manis ini sangat mempesona syaraf-syaraf indraku. Kalau tidak sih buat apa coba!!?

“Sudah deh, enggak usah cari alasan!! Cowok kaya kamu memang banyak di terminal-terminal kayak gini. Dasar bar-bar!!!” timpalnya, masih mengendus-ngendus geram bak kucing betina.

Tak lama mobil 07 jurusan kampus UNHAS datang. Ia naik cepat meninggalkanku. Satu, dua penumpang pun turut. Dan akhinya mobil hampir penuh. aku masih di tepi jalan menunggu mobil ikip jurusan pasar sentral. Tetapi perhatianku masih tertuju kepada si gadis manis. Ia pun masih memperhatikanku walau agak malu-malu.

Wah, kalau tidak sekakarang kapan lagi!!?” tanyaku dalam hati

Akhirnya ku putuskan untuk berubah haluan tanpa perduli tujuan. Aku segera naik ke atas angkot, mengisi bangku kosong di sebelahnya. Sebenarnya sih tidak kosong!! Tetapi setelah ku katakan “hai dari mana aja?” kepada si gadis manis, seorang ibu tua itu pun mengerti. Walau tanganku harus menggeser geser lutut ibu tua itu terlebih dahulu. Dan Mobil pun Pul’ setelah naiknya aku di mobil yang di penuhi mahasiswa yang lagi segar segarnya hendak studi. Setidaknya begitulah yang mereka katakan kepada orang tua mereka di kampung!!!.

“Nama ku RRROMA!” ujar ku berusaha bercanda pada si gadis manis yang dari tadi duduk berusaha membelakangi ku.

Tetapi tetap ia tak menggubris ku. Hanya melirik sekali dan melempar lagi pandangannya ketempat lain.

“ Dan kau, pasti –ANI kan? Ohh ANI dari mana saja engkau? ” tambah ku nekat dengan suara agak besar.

Hampir semua penumpang di angkot itu tersenyum spontan. Ia pun sempat hampir membuka bibir tipisnya dengan tawa. Tapi gengsi lebih lebat dari pada hujan goyon apa adanya itu. Ia masih memandang ke belakang.

Ia duduk di pojok kursi 4 dan di sebelahnya tepat aku duduk mengarah padanya.

“lagi ada masalah ya nak!!” tiba tiba ibu tua yang kugeser singgasananya tadi menimpali dari pojok kursi enam di depan kami.

“ah biasa kok bu! Masalah cinta remaja, muuuudah sekali cemburu “ kata ku sambil nyengir nyengir.

“ih, enggak tau malunya nih cowo’! “ tiba tiba ia berbalik. “ kami itu belum pernah kenal sebelumnya bu’. Dia aja yang kegatelan ngikut – ngikut sama saya. Mana tadi pake colek colek pantat saya pas di terminal Ujung. Dia ini bajingan bu! Jadi jangan di dengerin omongannya. Pembohong kelas berat!” nadanya keras, sekeras raut wajahnya yang drastis berubah tiba – tiba.

Tampang manisnya berubah tengil bak jagoan yang sudah menghajar penjahat hingga tak berkutik. Semua penumpang memandangku sambil menyerengitkan dahi. Termasuk mahasiswa gondrong berbusana hitam hitam di bangku pojok dekat supir. Uuu Takuuut!!.

“ ya sudahlah! Aku letih seperti ini!! Mentang mentang kamu sudah punya pacar baru !!.” Tutur ku agak di keras keraskan dan nada penuh kepasrahan. “ Maaf ya bu!! Maaf juga bapak bapak dan ibu ibu, sudah mengganggu perjalanan kalian.” tambahku agak di-iba-kan. “baiklah, Kalau begitu aku mengalah!”

ia memandang ku tajam. Bibir tipis merah itu bengkok tidak karuan. Sekarang giliran ia yang di salahkan penumpang lain. Saya bisa melihat itu dari pandangan mereka yang pula sambil menyeringitkan dahi. Bahkan lebih dalam lagi, sepertinya bisa untuk mengalirkan air bak sungai kecil di pegunungan.

“KIRI PAK !!!” teriak ku kepada pak supir. bermaksud melarikan diri dalam keadaan menang. Yess!.

Setelah membayar pak supir dengan uang receh seribu-an (seribu-an itu receh?), lalu aku melambai kepada semua penumpang dengan wajah sedih dan sungguh minta dibelaskasihankan.

Mobil berlari kencang. Tapi wajahnya yang penuh dendam masih sesekali melirik kearah ku. Ibu tua itupun masih memandang ku iba sampai aku membalikkan badan dan tertunduk berjalan ke arah yang berlawanan.

“ah beli rokok –ah” ujar ku didalam hati setelah melihat kios kecil di depan jalan besar Abdulah Dg Sirua.

“Marlboro mba!!” sambil ku menunjuk bungkus rokok merah putih di etalase yang dirajut dari kaca dan bambu seadanya.

Marlboro telah ku genggam. Tetapi jemari ini masih mencari dompet disetiap kantong jeans ku berualang ulang, tetap tidak ketemu.

“wah… kuwalat saya sama tuh cewek. Kayaknya sih jatuh diatas angkot!!” kata ku dalam hati. Sambil memandang mba penjual dengan wajah sedih.

Tetapi sungguh kota besar. Mba penjual bukannya ikut prihatin, malahan menaruh curiga pada ku.

“ ya sudah, kembalikang mi rokok ku. Pake alasan segala. Bilan’ mo ko saja, kalau kau tidak punya uang?. Pakai segala ambe’ rokok mahal. Pui!! Gayana ji’!!” logat asli keluar deras menghantamku keras, sakitnya bagai di tikam sembilu.

Jalanan makin ramai oleh kendaraan. Seperti semut melihat gula berbondong bondong berbaris antri. Matahari pun terus berputar. Kali ini tepat diatas debu debu jalan yang terbang tidak karuan. Membawa jarum jarum panas yang tak pernah sekali pun selama 2 tahun ini menyapaku sebagai teman. Selamat pagi menjelang siang pejalan, Saatnya pulang!! Nasiiib, nasib!!!.

* * *

Gorden itu terbuka lebar bagaikan layar panggung sandiwara. Segara tampak pemandangan pantai losari yang dijejali gerobak penjual makanan. Mega – mega bersepuh kelabu mendekap gerimis pagi hari ini. Kamar paviliun yang tadi gelap terbias terang oleh sinar pagi seadanya. Si gadis manis terkulai lemas di atas ranjang tebal buatan italia. Berkelebat selimut tebal, menutupi letih yang masih merasuki lelap tidurnya.

Ku sandarkan tubuh ini pada jendela lebar disisi belakang. Buih asap putih menutup pandanganku sesekali. Rokok yang terselip di bibir ini mulai terasa hambar akibat ciuman tadi malam yang terlalu buas. Sudah lama tak lagi ada perasaan seperti ini. Rasa penyesalan., rasa gelisah, dan rasa – rasa lain yang datang belakangan. Aku harus pergi, Istriku sudah menanti dirumah!.

Dua lembar uang seratus ribu-an kuselipkan ditaplak meja bundar di sebelah telpon. Sekarang, Isi dompetku benar – benar telah habis terkuras. Uang jerih payah mencari berita siang dan malam habis semalaman. Tetapi wajar pikirku. Si jujur nan manis yang terkulai lemas di atas ranjang itu telah mengembalikan dompet ku. Ya, hitung –hitung balas budi lah!.

“selamat tinggal gadis manis!!” bisik ku di telinganya. Pelaaaaan sekali. Aku tak ingin ia terbangun-

Ilham F(de vozquea)

Kamar laba – laba

<!–[if supportFields]&gt; TIME \@ "HH:mm:ss" &lt;![endif]–>14:21:26<!–[if supportFields]&gt;&lt;![endif]–><!–[if supportFields]&gt; TIME \@ "dddd, MMMM dd, yyyy" &lt;![endif]–>Tuesday, April 15, 2008<!–[if supportFields]&gt;&lt;![endif]–>

My Soul Pieces

(June 2004)

Rhythm of two heart hostility in harmony

Late twilight in comformity yard

You meld love into the wringgle heaven wind

you say in whisper–

beautiful fleeting for the univers

Two child run around the lovers lake

Play and laught so honestful like a earth goddes

You gave to me, the empire of the soul

You had spilled affection into the wild blue yonder

poem by Ilham. f

A LITTLE BLACK CAT

REBORN FAM’A’LION REPUBLIC

Essay. IF. BALTHAZAR

Kucing hitam itu tidur dengan wajahnya tengadah kelangit. Dan sahabat kecilku bersandar pada kasih dan kehangatannya. Dalam kesendirian ia masih bisa merasakan alam ini lewat keheningan malam. Walau hidup yang keras dan kadang sampai meronta-ronta menahan perihnya tabir surya dan dinginya tangisan bumi. Ia tetap tegar demi kelangsungan hidup sebagai pejalan kehidupan.

Alam baginya adalah lingkaran takbertepi yang akan menjeratnya sampai takberjasad lagi.

Kawan kecilku yang sinar matanya menerjang-nerjang kegelapan malam, menyisakan pandangan yang membekas dihatiku. Dalam tidur, kelopak matanya terbuka sayup malu-malu. Sinar tipis terlihat bagai pancaran pandangan kedamaian.

Wahai kucing hitam legam yang tak henti menyusui. Pabila nanti aku tak lagi datang menjengukmu. Rasakanlah angin berhembus diwajahmu, dan aku akan membisikan cerita tentang kesejatian, ketulusan, pengorbanan, dan cinta ibumu kepadamu.

Tak usah sekalipun kau bersedih. Karena waktu dari awal bumi sampai keseratus juta tahun bumipun lagi akan sama. Sebelum ini atau setelah ini.

Mengaumlah layaknya kucing hutan yang kuat dan perkasa. Bicarakan selalu kesendirianmu dan kesedihanmu pada alam. Jangan sampai ia jadi duri dalam daging yang lama kelamaan akan menyakitimu terus menerus sampai semua tak bisa dibicarakan lagi.

Apakah kau akan tumbuh bagai air yang mengalir penuh keheningan? Apakah kau akan tumbuh bagai tanah yang dingin penuh kebisuan? Apakah engkau akan melayang-layang bagai debu didalam angin? Apakah engkau akan menjadi api yang menyinari bumi dengan hikmahmu? Engkaulah sang pejalan kehidupan!!!. Tetapi, kelak manusia dengan kemanusiaannya akan bertanya kepadamu “apakah mungkin kau buka gerbang itu lagi dengan kunci yang pernah engkau patah-patahkan!!?”. Hidup adalah sebuah pilihan kawan kecilku.

Diamlah sejenak sahabat……

Berhentilah berfikit tentang umurmu tuk lalui hidup. Itu kesia-siaan. Karena sesungguhnya hidupmulah yang seharusnya melalui umur.

Wahai karibku yang kepekatannya bagai malam!!! Esok hari mentari akan singgah temani hidupmu. Ia sungguh agung. Karena ia lah hari menjadi siang dan malam, bahkan manusiapun tunduk teratur kepadanya. Tetapi engkaulah sang kegelapan dari keadilan yang sesungguhnya ketidakadilan. Menunduklah saat ia terik dan menanduklah saat kau diatas dirinya. Dan jadilah sosok kebijaksanaan.

Bacalah kehidupan bagai lagu. Karena kehidupan itu ibarat irama yang terangkaikan oleh nada-nada. Indahnya kehidupan adalah kuasamu dalam menyusun nada-nada jadi irama yang akan terlantunkan bersama langkahmu. Nada yang penuh harmoni akan membuatmu mengerti arti Cinta.

Tercerahkanlah wahai engkau sang kucing hitam…

Janganlah engkau terjerumus dalam ketidakmengertian. Janganlah engkau pula menjadi budak manusia dalam kemanjaan. Jadilah liar!! Se-liar gagak bernyanyi kala malam, se-liar penyair ungkapkan Cinta lewat bahasa, se-liar keteraturan yang terbesit bagai ketidakteraturan.

Langit makin pekat. Awan hitam bercengkrama tutupi sinar rembulan. Semua memberi kesan bagi kedalaman malam. Apakah yang dirasakan ini adalah kebenaran dari keindahan?. Tidak!!. Suasana sesungguhnya hanya segelintir kabar dari kebenaran. Dan kebenaran dari keindahan adalah keindahan itu sendiri.

Si kecil hitam yang menyisakan isak dari mimpi yang entah apa. Terbangun mendapati ibunya telah membeku oleh dinginya hujan. Tanpa daya dan tanpa nyawa. Tak ada lagi air susu mengalir bersama kasih sayangnya, tak ada lagi tubuh yang setia melindunginya dengan kehangatan, dan tak ada lagi teman tuk jalani kehidupan.

Akupun pergi meninggalkannya. Karena air mata tak akan sanggup tertahankan apabila Doa terlontar dari mulut kecil tanpa dosa itu. Hanya secarik kertas dari doamu yang bisa kutitip dalam derasnya hujan.

Terima kasih telah datang ke dunia menemani kedua orang tuaku… karena sebagai anak bungsu aku tak lagi bisa diharapkan memberikan ketenangan bagi mereka, engkaulah sinar setelah kami anak-anak mereka dewasa… seorang cucu akan memberikan kebahagiaan yang tiada tara untuk mereka yang tak pernah terbahasakan dan terucapkan dari mulutku.

Selamat datang kedunia OMAR ISHAM FATHIN….. Keponakan gw neh!!!

Makassar 7/1/2005.

Re Write 3 Des 2007

“untuk sahabatku Dahlia yang baru saja meninggalkan dunia dan anaknya, dan untuk seseorang yang tersenyum dibalik lilin anak jalanan. Saat kemanusiaan dipersimpangan, untuk semua kaum MAMA persembahan PAPA…. terima kasih atas semua peran yang kalian jalankan”

Ilham.F(De.Vozquea)

Laba – laba merah!!

IF. Balthazar

RUMAH WAKTU

Sedikit Cerita Untuk Anak-anak langit yang sedang mengembara menyelesaikan kuliahnya di negri orang

Tiba-tiba semuanya kembali melankolis… tinggal beberapa waktu lagi meninggalkan kampus dan kota ini. kampus dimana banyak memberikanku nilai-nilai kehidupan. ada persahabatan, ada cinta, dramatika dialog antara otak, hati dan otot.

menjalankan kehidupan ini setidaknya memberikan banyak manfaat untuk orang lain. tapi semakin lama terasa diriku ini semakin terasa dimanfaatkan oleh orang lain. belajar untuk menjadi pelayan. tapi kok malah terasa jadi budak… apakah salah menjadi “bisa”- ternyata “bisa” pun menuntut banyak beban, terutama beban sosial.. apakah salah menjadi “bodoh” seakan semuanya terhitung siapa yang paling pandai mengakali siapa…

Entah mau dibawa kemana isi kepala yang penat ini. kepenatan yang terus menggelora tak menghilang menutupi segala hal positif yang bisa saja terjadi dalam hubungan kecil yang mungkin tak kusadari. Terima kasih kepada semua rasa yang pernah singgah dan mirip cinta- yang semakin membuat banyak hubungan yang kujalani sekarang dingin dan membatu.

kepada lara- dalam duka akan kesendirian yang akan kuhadapi. saat meniti jejak ini sendiri. Persahabatan yang kadang tak masuk akal- membela walau salah- memaafkan walau itu kesalahan yang prinsipil- berpura muram berpura simpati berpura perduli berpura canda hanya untuk mempertahankan hangatnya kekeluargaan yang tercipta selama ini karena memang haus kasih keluarga.

Hari inilah selayaknya Rumah. bukan rumah sebuah tempat- bukan rumah sebuah panggung- bukan rumah sebuah batu- rumah bukan sebuah konotasi dari kehangatan kasih sayang, tapi rumah adalah waktu, rumah adalah saat, rumah adalah rentang, rumah ialah singkat atau lamanya sesuatu, rumah intisari dalam setiap jenjang detik ke detik, hari ke hari, umur melalui umur, hidup melalui hidup, bahkan hidup melalui umur.

hari ini hangat. mata harinya- suasananya- nuansanya- aromanya- lagu pengiringnya- gelak tawanya- impiannya- pembicaraannya. tiba-tiba saja semu(a) jadi hangat, hangatnya sebuah penantian dimana semua orang pun menginginkannya.

mungkin terdengar sanjak. tanpa dan mungkin terasa ruhnya- sebuah tulisan yang menggebu-gebu, ia dramatisasi yang bodoh- penekanan yang tidak dalam kesatuan yang utuh dalam bahasa tanpa kebebasan.

Keheningan ini……… rasakan……….. iramanya………..petikkannya…………. gelak-kesedihan yang bercampur canda-lara yang bergumul mesra dengan tawa.

saatnya kembali ke dunia. berharap semuanya aman-aman saja, semuanya lancara-lancar saja, dan seakan tidak ada masalah apapun dari kehilangan sesuatu atau seseorang atau pula arti sebuah persahabatan.

sudah terlalu dini. seakan rumah waktu ini memiliki falsafati sendiri yang berjalan tanpa definisi. apa yang kita ketahui lagi tentang waktu!!? NOL BESAR. bahkan aku sendiri tidak mengerti apa yang ku bicarakan.

Entah kapan lagi kubisa melihat kota ini… sudah saatnya kembali dan meninggalkan semua kenangan yang telah tertoreh dalam hatiku… pesawatku telah datang… ijazah telah ditangan… salamku kepada semua anak-anak langit yang menengadahkan wajahnya kepada alam… seakan alampun yang pernah menuntun kita kepada kisah kesetiaan dipulau pengasingan (kisah cangke)… begitu pula cinta dan persahabatan ada perjumpaan pasti ada perpisahan… selamat menjalani kehidupan masing-masing kawan…

if bhaltazar the red spider

semalam hujan dijakarta sesaat setelah tiba akhir jan 2007

Pucuk-Pucuk Puisi Untuk Salju

Cerpen ilham.F (de vozquea)

Salju yang dingin itu menggigil ketakutan

Bukan karena mentari yang sedia hangatkan

Tapi oleh diriku penabur dosa dan kepedihan

Ku terpaku melihat wajah mesjid yang masih hitam. Kelam. Dipadu langit yang tak kunjung kemerah-merahan, bunga-bunga ilalang bermekaran. Doa-doa sambut pagi berkumanang lewat angin dari lautan. Dingin. Tapi bagai dilindungi selimut tebal aku masih bisa bertahan.

Salju akan pergi kenegri seberang, setidaknya aku menyiapkan syair-syair perpisahan untuk luapkan perasaan. Walau galau tak tertahankan. Pena harus kembali berjalan tancapkan kasih yang mungkin kasih sayang di secarik kertas dengan cahaya seadanya.


Untuk salju yang berbahagia di negri seberang

Aku luluh kau tinggalkan

Maafkan rasa yang tak tertahankan

Kasih yang mungkin kasih sayang

Kopi masih panas-panas kuku kuseruput perlahan. Masuk kedalam dengan kehangatan yang makin melindungiku dari dinginya malam menjelang pagi ini. Apakah maha bersalah datang dengan menghujan, hingga aku tak bisa tidur 2 hari 2 malam. Lengkingan doa akan diakhiri adzan merasuk umat tuk abdikan dirinya kepada Yang Maha Kuasa. Hari ini semua itu malah membuatku semakin tertekan atas ingatan dosa yang berkepanjangan. Aku tertangis tanpa perlawanan.

Salju rindukanlah aku kemudian

Sekecil-kecilnya adalah kehormatan

Tapi jangan sampai tak tertahankan

Seperti pernah kukatakan;

“ aku hanya persinggahan yang butuh kenangan !!”

aku kembali mengingatnya menangis dipelukanku malam itu. Ia tak henti lukai dirinya tuk lukai aku. Beberapa kali kucoba kembali mencumbu. Ia tak hiraukan– karena hati terlanjur tersayat sembilu.

Kasih muncul di bulan Fitri. Tetapi setelah perpisahan. Kurasa itu cukup untuk dijadikan jawaban untuk manusia yang diliputi dusta seperti diriku. Bagiku lebih baik dihentikan sekarang. Karena sedih sesaat akan membawa hikmah untuk hati yang masih sama-sama belajar kehidupan.

Hari ini dedaunan, angin sepoi, senja keemasan, bunga ilalang terasa hambar. tak ada membuatku bertahan. Mereka hilangkan keindahan untuk adili aku yang mereka kira telah nodai salju. Berjalan diantara mereka bagai dihardik seribu cemooh walau itu semu. Mungkin bagi mereka aku manusia batu yang terbentuk dari ombak masa lalu. Hanya menyebar dendam dan khianat terhadap cinta. Apakah mereka pernah mengerti deritaku, menyelam keberbagai samudra hati sekedar mencari cinta sejati– walau aku makin luluh lantah dalam hina dunia ini.

Pagi buta ini tak banyak berubah seperti tadi malam. Langit kelam yang berbintang dan duduk anggun tuan rembulan, hanya saja mulai dingin karena embun ikut berselancar lewat angin.

Untuk sahabat yang menaruh kasih pada salju

Salju mencair bukan tak menentu

Tapi inilah waktunya ia mengalir disungai yang berliku

Wajar bila kalian mencambukku

Karena salju terlihat merah oleh darah ku

Aku bukan Tuhan yang mempunyai rencana panjang

Aku hanya si hina yang hanyut dalam cerita penyair dan anaknya;

Tat kala penyair itu meninggal

Ia hanya tinggalkan gurindam

Tentang sungai sungai di india

Yang alurnya bagai hidup yang pula berliku tak menentu

Aku teringat pertama kali bertemu salju. Dibalik parasnya yang biasa-biasa saja. Karena ia hanya membawa putih dan tak ternoda. Bagai kapas yang selembut-lembutnya. Kadang bisa kulihat peperangan antara keceriaan dan penderitaan. Sewaktu-waktu ia menatap kosong, menangis dan memetik tembang ciptaan. Dan pabila waktu berlalu, ia serupa bunglon yang mengganti kulitnya. Berubah riang gembira, tertawa, bercanda, dan melantunkan lagu sinderlela.

“oh salju yang tampak beku!! “. Hari itu aku jatuh yang mungkin jatuh cinta kepada mu. Saat kau tertawakan dunia, dan semua manusia disekitar kita. Kami tertawa.

Hingga waktu berlalu berjalan seenaknya sampai salju dan aku menjadi “kita”. Semuanya langsung berubah bagai bermetamorfosa. Semua kebebasan terkekang. Dunia disekelilingku juga menghujani aku dengan hasutan “api dan salju memang sudah takdir tak bisa disatukan!!”. Aku bimbang, galau dan kacau. Hingga beberapa pertanyaan menikam “mau dibawa kemana sebuah hubungan? Untuk apa, kalau hanya akhirnya perpisahan!!”. Aku yang tak pernah yakin pada diriku sendiripun terombang-ambing, sampai kiranya kami tiba di dermaga perpisahan. Tepatnya bukan perpisahan, hanya inilah jalan yang kupikir mengembalikan keceriaan diuapnya yang putih menggoda, serta dingin menikam. Walau kusadar sesaat ia akan di rundung kesedihan. Sementara cemooh dunia kepadaku entah sampai kapan?

Jangan kau menangis disana

Karena telepati kita tetap terjaga

Janganlah pula kau terlalu tertawa

Karena tertawa yang terlalu akan berakhir tangis pula

Pesona mulai terlihat di ufuk timur. Cahaya merah keemas-emasan terpantul sederhana di langit yang biru penuh senyuman. Ayam jantan berkokok saut-sautan. Dendangkan lagu selamat pagi kehidupan.

Sudah saatnya mengakhiri pucuk-pucuk puisi picisan. Akan kuberikan lewat nyanyian burung kutilang yang akan terbang kebarat.

Akhirnya dapat kulihat salju kembali putih, lembut, dan mempesonakan setelah kepergianku dari ikatan. Ia harus pergi ke negri seberang. Yang ku bisa sekarang hanya memperhatikan, menatap, serta titip kata persahabatan.

Mungkin setelah ini kembali kunikamati kesendirian. Berjalan ikuti angin keberbagai samudra hati. Tapi salju, salah satu yang tak akan terlupakan. “selamat tinggal salju, mengalirlah disungai yang tenang dari sekarang. Karena cukup aku jalanmu yang berkelokan!”

Dari dalam perasaan yang tak terucapkan

Kupandangi berbagai jenis kerinduan

Tapi entah yang satu ini apa namanya

Sampai sekarangpun masih kupertanyakan.

Untuk salju yang jauh telah mengalir

Ada rajah di lenganmu

Singkapkanlah hingga menghilang

Dan ikut pula aku kan terlupakan.

Maafkan!!

sekarang sedang mengurung diri,

takut kepada mentari

Idulfitri 2004.

Next Page »