Script
July 17, 2008
VIOLENCE THEORY
Posted by debudalamwaktu under Script, Theory | Tags: 6 DIMENSI KEKERASAN, DIMENSI KEKERASAN, FIRMANSYAH, ilham, ilham firmansyah, JOHAN GALTUNG, TEORI KEKERASAN, Theory, VIOLENCE |Leave a Comment
April 15, 2008
SORE ITU IA YANG DATANG
Posted by debudalamwaktu under Script | Tags: based on true story, cerita pendek, harwan, ilo, roy, skenario, sore itu bukan ia yang datang, yani |Leave a Comment
Script by Ilham de vozquea
(Laba-laba merah)
[LIGA FILM UNHAS 17/7/2005]
PEMAIN
Mey, gadis manis-tenang, sering memandang kosong, mirip sigi tentang dia.
Roy. Seorang pria besar, parlente serta kelihatan sombong
Bong. Seorang lelaki pejantan tangguh, adventurir, periang dan senang bercanda. Memiliki tato laba-laba kecil di lehernya.
Timur, seorang pelukis. Nyentrik dan lebih terkesan seperti seorang pengemis.
SCENE 1. EKS. DANAU SORE HARI
Di tepian danau kala senja dua orang pemuda-pemudi sedang memadu kasih cintanya.
Voice Over:
BONG
Maaf aku tadi tidak bisa izin. Aku sedang mengikuti pelajaran filsafat komunikasi?. Tema kali ini kami dan pak Mansyur Semma membahas yang paling kamu sukai. CINTA.
MEY
Masa? Kalau begitu maaf ya. Saya kira kamu tidak ada kuliah. Masalahnya tadi dosen teknologi pertanian tidak muncul. Padahal sudah 1 jam aku dan teman-teman menunggu dia. Oh ia, kamu kapan berangkat?
BONG
Tidak lama lagi. Aku menunggu izin yang pasti dari dosesn-dosen mata kuliah yang aku ambil.
Di tempat yang sama, seorang pengemis duduk menguap menghadap danau. Dari dahinya peluh mengalir deras. Ia terlihat letih dibalik raut-raut wajahnya yang sudah penuh serat, terukir indah tanda sebuah perjuangan yang panjang. Ia seorang pengemis jalanan yang memainkan seruling bambu.
2 orang pemuda-pemudi saling merangkul. Menatap indah danau ini kala senja. sambil berjalan dan berbincang sederhana.
MEY
Sayang, maaf kalau aku memaksa bertemu kamu tadi. Aku kangen sekali sama kamu. Aku rindu. Aku gak tahan ditinggal kamu 3 bulan. Teman-teman juga bilang kalau aku ini tergila-gila sama kamu. Tapi aku tidak perduli. Walau telingaku kadang panas saat mereka bilang kalau aku jalan sama kamu seperti beauty and the beast. (ia sedikit tersenyum). Aku Cuma bercanda kok yang. tapi kalau kamu pergi lagi jangan lama-lama seperti kemarin ya yang’.
BONG
Wah parah sekali tuh teman-teman kamu. Masa saya dibilang buruk rupa. Padahalkan saya tidak jelek-jelek sekali kan Mey?
MEY
Ah tidak kok. Kamu bukannya jelek. Tapi agak tidak terawat. Habis kamu jalan-jalan terus sih. Kegunung ini lah, kepulau itu lah, kemana lah.
BONG
Itu kan hobby aku Mey. Oh ia, kalau kamu menyiar nanti aku pesan lagunya Erik Martin ya, judulnya The Way You Love Me. Jangan lupa ya special buat aku dari kamu… eh tunggu sebentar.
(BONG menghampiri pengemis tersebut dan merogoh kantongnya. Tapi ternyata tidak ada uang.)
wah maaf kawan… saya lupa kalau uang saya sudah habis. Kalau rokok kamu mau tidak (sang pengemis hanya tersenyum dan menarik 1 batang rokok yang ditawarkan BONG. Dengan sigap BONG memicu pematiknya. Dan sang kakekpun tersenyum lagi. BONG pun pergi setelah membalas senyuman tulus sang pengemis)
MEY
Kamu ini apa sih, kayak kurang kerjaan saja. Eh ngomong soal tadi. enak aja. Kok dari aku sih. Aku gak se-romantis itu kok.
BONG
Hehehe (sambil merangkulkan tangannya di pundak MEY) ah masa sih…..
MEY
Apaan nih maksudnya? Dasar laba-laba (sambil mencubit pinggang BONG)
Dan tawa merekapun lepas landas terbias angin senja itu. (slow motion)
- dissolve -
SCENE 2. EKS. DANAU SORE HARI
Disebuah trotoar jalan raya yang dibelah oleh danau keemasan terbias cahaya mentari sore hari. Bong saat itu mengenakan sepatu pantovel, memakai tas ransel, dan mengenakan kupluk hingga tertutup setengah wajahnya. Ia baru saja tiba dari sebuah pulau. Sekedar duduk di sore hari yang indah untuk melihat danau.
Bong terbangun dari khayalnya masih terperangah hingga mulutnya menganga, spontan “ Wooww” kala sang wanita menyibakkan rambutnya yang panjang. Seorang lelaki yang agak jauh duduk disebelahnya melihat BONG dan tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Walau sesekali pandangannya dihalangi seorang pengemis yang sedang berjalan (TIMUR).
BONG tersenyum sendirian. Bergaya-gaya mirip anjing dan tertawa geli sendiri.dengan almunannya. Hingga tato laba-laba di lehernya bergoyang-goyang mengikuti urat-urat lehernya yang naik turun. Sementara sang wanita makin mendekat kepadany.
BONG merapihkan barang-barangnya dan memperbaiki penampilannya. Menunggu MEY mendekat. Akhirnya MEY hampir mendekatinya. BONG berdiri. Saat MEY melewati dirinya. Ia spontan mengganggu dengan mencolek pinggang MEY.
BONG
Cewe…. Sombong sekali neh
(MEY pun berbalik kearah BONG, dengan wajah yang sangat marah)
MEY
Dasar kurang ajar kamu ya.
(PLAKK!! MEY menampar BONG)
MEY pergi meninggalkan boy dan menghampiri seorang cowok yang duduk agak jauh dari BONG.
ROY
Kenapa MEY kok kamu marah-marah?
MEY
Disana ROY, ada orang yang kurang ajar.
ROY
Yang mana?
(MEY menunjuk kearah BONG yang masih terperangah)
ROY
Tunggu disini ya MEY. Biar aku hajar tuh orang. Dari tadi memang aneh tuh orang. Tertawa sendirian mirip orang gila.
MEY
Sudahlah ROY…. Ayo kita pergi
(MEY menarik ROY yang wajahnya makin memerah karena marah)
BONG tinggal sendiri. Mengusap-usap pipinya yang pula merah karena ditampar oleh MEY. Wajahnya terperangah bagai tak berdosa.
-Fade out-
SCENE 3. EKS. DANAU KALA SENJA. INSERT MUSIK SERULING….
-fade in-
MEY dan BONG duduk berdua menghadap senja. MEY mengantar yang BONG akan pergi ke suatu tempat.
MEY
BONG..kenapa kamu harus pergi terus seperti ini. Aku lagi kacau sekarang BONG. Aku butuh kamu…
BONG
Maaf MEY, aku harus pergi. Ada sesuatu yang aku tak bisa jelaskan padamu lewat kata-kata.
MEY
Apakah hanya sebatas ini cintamu padaku BONG?
BONG
Yang kamu perlu tahu MEY. Selain cintaku padamu yang melebihi cintaku pada diriku sendiri. Aku pun mencintai kerinduanku bertemu hal-hal baru diluar dunia kita ini. Aku butuh merenggangkan sayapku. Aku butuh melihat. Aku butuh merindukanmu nantinya. Aku masih harus belajar melihat untuk membaca arti diriku.
MEY
Kamu sangat utopis BONG. Apa yang kamu dapat dengan tinggal di pulau itu. Itukan pulau pengasingan orang-orang yang berpenyakit kusta. Kamu cari penyakit saja. Aku mengkhawatirkanmu BONG.
BONG
Terserah apa katamu MEY. Percuma kita hadir kalau tidak tumbuh, percuma tumbuh kalau tidak berkembang, percuma berkembang kalau tidak bisa mencintai sesama.
Mereka diam sejenak. Senja makin merah. Langit bersepuh keemasan disisi yang lainya. Sunyi, hening, sehening 2 hati kedua pasangan ini.
MEY meneteskan air mata. BONG beranjak pergi dari tempatnya duduk begitu saja. Lalu pergi hingga menghilang.
MEY beranjak dari tempatnya duduk setelah ia letih karena langit pun sudah mulai menghitam. Ia berbalik kebelakang menyebrang kearah jalan raya menunggu taksi yang lewat. Tapi saking galaunya ia tak memperhatikan motor yang lewat. “BRAKKK”
MEY terjatuh ke aspal. Darah mengucur dikepalanya.
ROY
Mba…mba…mba…. mba sadar mba…
(Suara MEY memanggil BONG berulang kali terdengar di udara)
-Fade Out-
SCENE 4. EKS. DI TEPI DANAU. SORE HARI.
Seorang pria dengan sebelah kaki tergenang ditepi danau. Mencorat-coret kertas putih dengan pinsilnya. Ia ditemani ROY. Bercerita tentang kehidupan.
TIMUR
Apa yang kau ketahui dari sebuah takdir. Adalah ketidaktahuan itu sendiri.
ROY
Apa maksud mu?
TIMUR
Kelak tak lama kau akan menemukan sebuah takdir.
(TIMUR menyelesaikan lukisannya)
bawalah ini ke-entah siapa? (sambil menyerahkan lukisannya ke-ROY)
Roy melihat lukisan itu dengan seksama. Sebuah lukisan berpola segi tiga dari segi tiga yang lain. Saling terhubung dan saling menghubungakan. Sebuah sketsa wajah-wajah yang asing baginya.
Di sudut lain 2 orang pemuda pemudi menatap indahnya danau ini berdua.
ROY
Siapa ini? Apakah aku mengenalnya? Dan siapa itu entah siapa?
TIMUR
Bertemulah dan pergi dari sini. Pulanglah kerumahmu secepatnya.
ROY menaiki motornya dan pergi meninggalkan TIMUR. Sementara TIMUR meraih serulingnya dan memainkannya.
-Fade out-
SCENE 5. EKS. DANAU KALA SENJA.
-Fade in-
Disebuah trotoar jalan raya yang dibelah oleh danau keemasan terbias cahaya mentari sore hari. MEY berjalan sendirian. Menunduk kebawah dengan wajah yang sedih. Walaupun begitu pesona keindahan wanitanya masih terpancar indah.
Tak berapa lama Ia dikagetkan oleh seorang lelaki yang duduk di trotoar jalanan. MEY masih jauh dari dirinya. Saat itu si lelaki mengenakan sepatu pantovel, memakai tas ransel, dan mengenakan kupluk hingga tertutup setengah wajahnya. Sepertinya Ia baru saja tiba dari tempat yang jauh.
Tampaknya ada sesuatu yang diingatnya.
MASA LALU
MEY terikat perban di kepalanya, ia memandang foto BONG dikamarnya.
MASA KINI
MEY tampak resah ingin berusaha mengingatnya. Sambil terus berjalan. Tapi kali ini agak pelan.
MASA LALU
MEY dengan kepala yang masih ter perban, dengan ditemani oleh ROY membawa foto BONG dan mencari dimana BONG. Bertanya-tanya kepada orang lain. Tapi ia tidak juga menemukan jawaban. Ia akhirnya mebakar foto BONG bersama ROY. Dan ROY memberikan lukisan. Dan setelah melihatnya MEY pun menggulungnya.
MASA KINI
ia berpapasan dengan seorang pengemis jalanan yang membawa seruling. Mata mereka saling berpandangan. Senyum aneh sang pengemis(slow motion & insert suara seruling) MEY terus berjalan. Membawa sebuah gulungan kertas kecil. Dan berusaha terus tersenyum. Tanpa mau diganggu oleh pikirannya lagi. Tak mengabaikan si lelaki(BONG) ataupun sang pengemis. Disudut sana iapun melihat ROY.
Seketika ia pun kaget setengah mati saat si lelaki tak dikenal itu mencolek pinggangnya.
BONG
Cewe…. Sombong sekali neh
MEY
Dasar kurang ajar kamu ya. ( PLAKKK!!! )
-CODA END-
œ
Dankje
April 15, 2008
KENAPA? BUKAN BAGAIMANA?
Posted by debudalamwaktu under Script | Tags: cerita pendek, film pendek, filsafat, if balthazar, if bhaltazar, ilham firmansyah, mahasiswa, skenario |Leave a Comment
KENAPA? BUKAN BAGAIMANA?
Writed by Ilham Firmansyah
Opening. Eks: Danau- Sunrise
(Ls) langit bersepuh keemasan. Mentari muncul malu-malu mengintip dunia. (siluet) Seorang lelaki berambut panjang berpuisi dipagai hari, dengan gerak tubuh ala Taichi.
VO: “satukan mati dengan hidup. Lelaki sejati lahir disini!!”.
Disisi lain 2 orang datang. Berjalan menghampiri sang seniman (siluet). Memberikan sesuatu, lalu pergi dan berlari.
Tak lama setelah kepergian mereka. Sang seniman yang sudah melihat sesuatu yang diberikan 2 orang tak dikenal tadi pun berteriak lantang dengan tangan terbuka menghadang langit.
Seniman
“Tuhaaaaaaaaaaaaannnn!!!!”
(MS)-(MLS)-(LS)-(ELS)-
cut to (Layar hitam)
VO: “Ternyata Kau Jauh!!”
INSERT CREDIT TITLE – Insert instrumen.1(gendang/ketipung)
Scene 1. Int: kamar laba-laba- malam
(CU) Moving. Wajah Timur(sang seniman) yang tenang, Ero yang tampan dan parlente, Dg Soleh ustad yang berapi-api, dan Madih-mad dengan kelucuan tingkahnya. Disinari cahaya temaram dari lampu pijar sederhana yang dipayungi seng pembias.
(ECU) tangan timur menghentak meja (bersamaan Instrumen.1 off) asap dari rokok yang terselip diasbak dekat hentakan pun buyar(slow motion). Lalu ia menyibak tangannya yang menggenggam kartu domino- kekiri. Hingga kartu sejajar beraturan (Full frame).
(Still slow motion) (MS) gerakan tangan timur meliuk-liuk ala Taichi.
(ECU) pada kartu yang sejajar beraturan, dan asap yang tenang keatas. Timur mulai menghempas 3 kali barisan kartu tersebut dengan maksudmembagikan.
Cut to!! Layar hitam
(Normal Motion)(FS) mereka berempat sibuk mencari kartu, seraya bergumam mencibir Timur.
Ero
“E..de..de…”
Dg. Soleh
“Banyak sekali ganyanyainneh!!”
Madi-mad
“betul!!”
Timur
“”sorry ces.. lama tidak latihan”
(sambil terus mencari, menggaruk-garuk kepalanya, dan nyengir-nyengir getir)
(Insert instrumen kecapi)
(ECU) Mata dg.Soleh yang menyala- rokok yang dihisap dalam-dalam, kartu double 6 yang dicengkram erat (Slow motion) melemparakan kartu itu ke-meja. (instrumen kecapi-off)
(CU)Timur
“Hidup….. Hidup bagaikan kita memainkan peran dalam sebuah pentas drama. DIA SUTRADARANYA!!! (tiba-tiba menunjuk kearah kamera!!)
(CU) Madi-mad
“Bukan!! Bukan saya sutradaranya (merasa tertuduh dan sedikit kaget) saya Cuma hamba ji kodong!! Tu.. dia itu sutradaranya!!(Menunjuk kearah Soleh)”
dg. Soleh
“Bukan saya. Saya berani sumpah, bukan saya!! (Tegas) tak ada yang dapat menjadi sutradara selain sutraara itu sendiri. Dan tak ada yang lebih mengenal Dia, selain Dia sendiri mengenal dirinya sendiri.(menjambak rambutnya perlahan).
Ero
“Hemp-hemp (mengenduskan hidungnya, mencium sesuatu). Lalu siapa yang kentut minnih…. Awwah”
Freeze : wajah Ero yang mengendus-ngendus.
insert teks : “Lempar kentut sembunyi pantat. Apakah sama dengan lempar nyawa sembunyi takdir?”
Freeze OFF(CU) Ero
“ok. Tenang semuanya… Madi-mad!!(menunjuk kearah madi-mad agak lama). Apa itu hidup!!?
(CU) Madi-mad
hidup itu…………… (kamera till-up)
Cut-to
Scene 2. Eks: Jalan raya-siang
VO: “Hidup itu bagai gerak sangat lembut dari sebuah ritual pinggir jalan. Ialah sang tarian Tuhan. Dimana recehan dan senyuman adalah sebagian malaikat yang mengisi aliran darah yang terlanjur menggelora ini. Tuhan, adalah sekecil debu dalam gerak langkah tari, dan sebesar ketidak tahuan kami atas pertanyaan kenapa. Bukan bagaimana. Dan kami hanya tokoh dalam dramanya. Sebuah drama teka-teki kehidupan.
(Shot mengikuti)
Madi-mad sang penari, 1 orang pemain gendang, dan 1 orang pemain kecapi, mengamen dipinggir jalan. Dengan beberapa orang berlalu-lalang
-Dissolve-(Penempatan objek harus tepat. Tepat gaya dan posisi)
Scene 3. Int: kamar laba-laba-malam
(CU) Madi-mad berfikir keras, menghisap rokok dan melemparkan kartunya seraya berkata;
Madi-mad
“Sudahlah kalian sudah 4 tahun mempertanyakan semua itu!! Apakah yang kalian cari!!?”
Ero
“Beeeetul sekali!! (Ero menanggapi dengan antusias) sebetulnya kita sudah lama tahu, bahwa Tuhan itu ada disini (sambil menunjuk kearah dada kirinya). Inilah Tuhan!! (suara menggema- ia mengambil uang disakunya dan menghamburkan.)
(Slow motion) uang berjatuhan (MS) wajah madi-mad yang berbungan-bunga, soleh yang geram, dan Timur yang tersenyum santai… Cut!! (Layar hitam beberapa saat)
(FS) suara ribut mereka berebut uangnya Ero dan tak kalah kuat Ero mempertahankan uangnya.
Madi-mad,timur,soleh (berebut uang)
“Cop..cop nah”
“he saya duluan yang dapat itu!!”
Ero
“Woi… kodong uang Spp-ku itu (ekspresi agak menangis)
(MS) Ero memasukkan uangnya yang sudak kumal kedalam kantong bajunya sambil mengusap air mata.
(CU) Timur menyulut rokoknya. (Slow motion)
Timur
“apakah kalian ingin melihat wajah Tuhan?” (Hidung Timur kembang kempis)
Soleh
“Tunggu!!! Ada teka-teki yang belum terjawab dikepalaku?” (serius)
Ero
“Apa itu!!”
(ECU) Soleh
“kenapa seorang lelaki akan mengedipkan matanya kalau bertemu wanita cantik!!?”
(Shot mengikuti)
Timur
“ahhhhh… itu bukanlah perntanyaan yang philosophis!!”
Madi-mad
“Betulll!!” (menunjuk kearah Timur)
Ero
“apakah teka-teki ini akan mempengaruhi eksistensi kita dalam sebuah paradigma dunia tentang lelaki dan kelaki-lakian kita?”
Madi-mad
“Betul sekali..” (menunjuk kearah Ero)
Ero
“bahaya itu”
Madi-mad
“ Bweeetull..ahhhh” (sambil menguap)
Timur
“sudah cukup!! (menjambak-jambak rambutnya) cepatko apa jawabannya. Ampumma!! (di ikutti yang lain)”
(MS) Soleh
“Sebab…. Kalau yang kembang kempis hidunnah. Nanti dikira keturunan sapi dong!!”
(CU)lidah soleh yang menjulur keluar. Freeze
Insert teks: “apakah kerumutan hidup adalah sebuah canda dari “Sang Sutradara”?. Ataukah, sebatas kesederhanaan yang dibesar-besarkan.”
Freeze off. (Camera till up) cahaya lampu. (kamera till down) korek yang menyala (ada jari timur yag sedang memain-mainkan api)
Timur
“Dimana wajah api!!?”
Ero
“inti dari semuanya. Yang ditengah itu.”
Timur
“Kalau kau mad!!?”
(MS) Madi angkat tangan
Soleh
“yang kuning karena ia dipermaukaan.”
(CU) Timur
“Semua yang kalian dan yang saya lihat adalah wajah api!! Sebuah kesatuan yang utuh!! (api lalu dipadamkan) Lalu….. dimana wajah Tuhan!!?”
Cut-To Layar hitam
Scene 4. Int: kamar laba-laba-malam
(FS) 2 orang baru ter frame oleh Ero dan Soleh. Laki-laki yang kewanitan, dan wanita yang kelaki-lakian.
Laki-laki baru
“Aduhh…… mas-mas ini kok ngundang main domino seeeeh!! Saya kira mau di srhuuuutt(Menghisap angin). Pokoknya mesti ganti rugi deh!! Aku enggak mau tau!!”
Wanita baru
“BRAKK!!(menghentak meja). Iyo kurang ajar sekali ini kalian. Pokoknya kami harus dibayar dimuka!!!”
(CU) Ero
“ tenang-tenang….. kalai nakmi bayar!!! Tapiiiiiii…. Saya punya satu pertanyaan. (diam sejenak) Apa itu HIDUP?”
Cut To –
Insert crew
Coda end
Copyright@LFM UNHAS 2005
Ide & skenario by Ilham.F (De.vozquea)
April 15, 2008
NAMA KU BUKAN NAMA KU
Posted by debudalamwaktu under Script | Tags: film pendek, ilham firmansyah, namaku bukan namaku, skenario, tulisan bebas |Leave a Comment
NAMA KU BUKAN NAMA KU
v Diangkat dari cerpen Martan Mansyur
v Script dan pengembang ide oleh Ilham F (E Vozquea)

FADE IN-
Insert credit title
SCENE 1. EKS. DANAU-SORE.
Gemericik air dari riak danau menemani 2 orang pemuda yang sedang memancing. Berbincang santai tentang “nama”.
Tero
“ngomong-ngomong siapa nama ta’? lama mi ki ngobrol, tapi belum pi saya tau nama ta’. Saya harap nama ta’ tak seburuk namaku. Orang-orang selalu tertawai namaku, kenapa orang tuaku memberi nama yang unik seperti ini. Ma…lu aku punya nama seperti ini.”
Loppo pau
“namaku Loppo Pau. (Tero nyengir-nyengir tertahan) kenapa, Lucu ya? Biarpun begitu saya tidak pernah malu dengan namaku. Mungkin kau saja yang terlalu merasa. Sebenarnya siapa nama ta’?
(Ins-melodi gitar masuk). Perbincangan yang sengit tapi tampak sunyi oleh alunan melodi gitar. Tak ada suara dialog.
Loppo Pau (Ins-off)
“Ooooo.. begitu ji palle nah masalahmu. Jammoko pikirkan ki. In Cuma masalah zaman. Berganti zaman berganti pula citra mu.(wajah Tero tampak agak kebingungan) Ada sebuah cerita…… begini ceritanya………..
FADE OUT-
SCENE 2. INT. RUANG KELAS-SORE.
FADE IN-
VO (Loppo Pau): semua orang sama uniknya dengan sidik jari yang kita miliki. Saya juga unik. Begitu pula soal nama, apa sebenarnya arti sebuah nama?// cerita dari sebuah tempat di universitas antah berantah, fakultas dusta jurusan studio sandiwara.
Disebuah ruangan kelas dengan 6 orang mahasiswa yang tergolong aneh. Lemah syahwat yang sedang tertidur pulas diatas mejanya, matrial mahasiswi muda bermata sipit yang sedang menghitung uang recehnya, gorilla(Gondrong rapih dan lale), pula si Liur yang terus memperhatikan dengan seksama, ada jua si Cacingan gadis muda belia yang tak henti mengedip-ngedipkan matanya, dan terakhir Bahenol (badan hebat otak nol) yang sedang menggaruk-garuk kepalanya.
Ada pula seorang dosen muda yang tak kalah nyentrik, berkaca mata, dan berkepala botak.
VO (Loppo Pau): “Labetta. Salah seorang dosen dijurusan itu. Ia dosen yang sangat unik karena………”
Labetta
“Tolo!! Tolo-tolo semuanya. Kalian tau. Kampus ini kampus terbesar di timur nusantara. Baru apa ji!! Dasar, TOLO!! Baru kerja tugas begini saja sampai 1 bulan dikumpul “
Labetta melirik kelembar teratas pertama.
Labetta
“Siapa tugas ini!!? Tugas mu Gorilla. Apa saja isinya otakmu itu- Tolol!!”
Gorilla (agak takut)
“a…a…anu itu… anu!!”
Labetta
“A…a…aa…. Anu siapa goblok. (merobek kertas). Bikin yang baru!! Tidak bermakna dan tidak philosophis. Kau…. Tidak cocok melukis. Tugas barumu adalah membuat spanduk acara kawinannya spupuku.”
Gorilla
“nda tau ka bikin spanduk pak!!”
Labetta
“ya ketukan spanuk ko tolo!!. Dimana otakmu kah!! Sudah… jangan banyak bicara!! Saya taunya jadi hari senin, karena acaranya hari selasa.”
Gorilla
“ta… (Berusaha bicara)”
Labetta
“APA!!!!” (matanya melotot)
Gorilla
“nda ji!!”
Labetta Melanjutkan lagi memerikasa tugas mahasiswanya. Sambil merobek lembar demi lembar dan bergumam sendirian. Sampai kepada 3 lembar terakhir. Dan bergumam sendirian.
Labetta
“Siapa punya ini!! Kenapa tidak ada namanya?. Siapa inikah berani-beraninya melanggar aturanku. Siapa inikah (sambil mengeja) ‘Muh – Baso !! siapa mengaku Muh – Baso !! Angkat tangan ko!!”
Liur
“sa…saya pak!!”
Labetta
“ohhh kau Liur….. karena kau melanggar. Maka ….. saya ganti namamu dengan meletup-letup.
Liur
“kenapa meletup-letup pak!!”
Labetta
“ karena jerawatmu yang mau meletup-letup”
(ha-ha-ha-ha……….) seluruh penghuni kelas tertawa keras. Dan Liur pun tunduk dengan wajah yang merah padam.
Labetta
“Diaaaaaam!! (segera ruangan kelas menjadi senyap dan menegangkan lagi). Lalu ini punya siapa. Melanggar juga. MAJU!! Yang punya tugas ini MAJU!!!”
Cacingan perlahan beranjak dari tempatya duduk
Labetta
“oooo kamu Cacingan. Kesini ki ambil tugas ta’ de. Tidak usah tegang. (Labetta
melihat ketugasnya Cacingan) Bagus banget!!”
Cacingan tersenyum-senyum menunjukkan lesung pipinya setelah ia berdiri tepat didepan Labetta
Tetapi……. (CRACKK) Labetta Merobek tugas Cacingan di depan wajahnya.
Labetta
“ kau kira saya dosen lale kah!!? Makan ko ini!! (melempar lembar tugas Cacingan kewajahnya yang sudah hampir menangis. Dan Cacingan pun kembali ketempatnya duduk dengan berlari kecil dan wajah terlipat-lipat)
CUT TO.
SCENE 3. EKS. DANAU-SORE
FADE IN-
VO (Loppo Pau) : tak semua yang nyata itu adalah kebenaran. Dan tak semua kesalahan itu adalah benar-benar salah. Tapi, ini dunia- semua bisa di lazimkan apabila 6 dari 10 orang mengatakan hal yang serupa. Itulah mengapa semua yang ada disekitar kita perlu dipertanyakan.
Loppo Pau dan Tero masih saja berbincang hangat dipinggir danau. Sementara metari sudah hampir tenggelam.
FADE OUT-
SCENE 4. INT. RUANG KELAS-SIANG
Labetta tampak sangat terkejut melihat gambar terakhir. Ia geram. Ia marah an segera mendatangi lemah syahwat yang sedang tertidur dimejanya. “BRAKK” Labetta menendang meja.
Labetta
“ Hei kau lemah syahwat! Bangun ko!! (lemah syahwat pun bangun dgn seketika) apa yang kau gambar ini!!?”
Lemah Syahwat
“ bulan dan bintang pak!! Apa yang salah pak”
Labetta
“ kedepan ko!! (Labetta menarik lengan lemah syahwat dengan kasar kedepan kelas.) coba apa maksudmu menggambar seperti ini. Lihat ko semua!!! (memperlihatkan gambar lemah syahwat kepada teman-temannya)
dan para mahasiswa(i) pun terkejut “Uuuuuuuu”
Labetta
“coba kau jelaskan apa maksudnya kau gambar seperti ini!!”
Lemah Syahwat
“ sederhana pak. Tadi malam saya duduk disebuah pelataran menghadap bintang. Dan tiba-tiba sayapun teringat pada sebuah puisi. Begini bunyinya; (dengan ekspresi penuh) rumahku entah dimana, tak kutemukan disajak dan dimatahari, karena rumahku dibawah bintang-bintang.”
Penghuni ruangan itupun memberi aplaus kepada lemah syahwat. Kecuali Labetta yang wajahnya makin geram.
Lemah syahwat
“terima kasih… ok-ok-ok (mengangkat tangan serasa artis)”
Labetta
“CUKUP…. Kau kira kau jago kah!! Kesini ko.”
Labetta menuliskan sesuatu di jidat Lemah Syahwat.
Labetta
“ok. Tak ada ampun untuk pemberontak. Para mahasiswa dan mahasiswi ku yang memalukan….. mulai saat ini namanya saya ganti dengan…. TE-RO-RIS!!! Karena kau sudah melakukan penggaran berat dengan menggambar bulan dan bintang.
CUT TO-
SCENE 5 EKS. DANAU-SORE
Masih didanau dan tempat yang sama. Bahkan masih pada topik dan tokoh yang sama.
Loppo Pau
“Namanya juga cerita. Dalam waktu yang sedikit tapi harus bisa merangkum banyak sketsa. Namamu TERORIS. Tak perlu malu. Masalah label-melabelkan, juluk-menjuluki, gelar-menggelari itu semua hukum rimba. Yang perlu kau paham sekarang adalah- mengerti dirimu seperti adanya dirimu”
FADE OUT-
THE END
INSERT CREDIT FILM
Film by :
COPYRIGHT@2005









