2010 in review

Posted: January 2, 2011 in Seniman hari-hari

The stats helper monkeys at WordPress.com mulled over how this blog did in 2010, and here’s a high level summary of its overall blog health:

Healthy blog!

The Blog-Health-o-Meter™ reads This blog is doing awesome!.

Crunchy numbers

Featured image

A Boeing 747-400 passenger jet can hold 416 passengers. This blog was viewed about 7,500 times in 2010. That’s about 18 full 747s.

 

In 2010, there was 1 new post, growing the total archive of this blog to 39 posts.

The busiest day of the year was December 15th with 56 views. The most popular post that day was KOMUNIKASI ANTARPRIBADI.

Where did they come from?

The top referring sites in 2010 were en.wordpress.com, facebook.com, google.com, google.co.id, and search.conduit.com.

Some visitors came searching, mostly for komunikasi antar pribadi, gadis manis, kehidupan, pengertian konsep diri, and contoh komunikasi antar pribadi.

Attractions in 2010

These are the posts and pages that got the most views in 2010.

1

KOMUNIKASI ANTARPRIBADI April 2008
21 comments

2

KONSEP DIRI April 2008
6 comments

3

First Impression dalam kajian Psikologi Komunikasi April 2008
6 comments

4

KESETIAAN DI TEPI PURNAMA PULAU CANGKE April 2008
5 comments

5

“KAMI..ANAK-ANAK LANGIT” April 2008
11 comments

KEHIDUPAN PUN ITU ILUSI

(menulis & mengingat kembali kisah di 2007)

disebuah jalan yang tak terlalu ramai…
ditepian tepatnya di pinggir jalan tol
lintas kota…

hari ini sungguh membuatku banyak
membuka kembali tabir-tabir tentang
kehidupan …. dan semua terjadi pada
awalnya 1 atau mungkin 2 detik terguling
kencang terhempas dari atas motor sejauh
10 meter.. dan diakhiri dengan
kuberdiri lagi ditenganh jalan raya…

1 atau 2 detik yang berarti dalam
hidupku.. semua kabar tentang dunia yang
telah kujalani tiba2 terbuka dan
tersibak tirainya.. aku dalam sebuah
memoir kehidupan yang pernah
kujalani.. dalam waktu 1 atau 2 detik
mengawang-a wang dan terguling di jalanan
siang itu… semua terasa slow motion…

mel ayang aku dibawa kepada canda tawa,
kisah cinta, kesedihan, sejarah
persahaba tan, orang-orang yang sudah
meninggalka n ku, dan seluruhnya terjadi
hanya dalam seperdetik melayang dan
terguling di tengah jalan raya..

tampak nya usai sudah perjalanan panjang.
kecelaka an dahsyat tanpa melukaiku
sedikit pun hnaya sedikit gores pada
kelingking yang baru2 ini mengait
kelingkin gnya..

aku adalah setitik debu dalam waktu..
kesombong an selama ini hanya ilusi..
dalam hitam semua terasa lebih jelas…
ego kebuasan diriku makin terkikis.. tak
lagi ada angkuh, tak lagi ada intrik,
tak lagi ada kepalsuan…

salam dari bumi yang kembali baru..
setelah diingatkanku pada kisah 1 atau 2
atau mungkin sepersekian detik melayang
dan terguling ditengah jalan raya kedoya
sepulang dari metro tv..

Joe Kavalero

Posted: July 17, 2008 in Sastra
Tags: , , , , ,
joe kavalero

joe kavalero

JOE KAVALERO

Namanya Joe… Joe Kavalero… Bukan Peranakan Luar negeri, tapi sekedar Alih nama saja dari Juransyah Syamsuddin. Karena ini kota besar, Joe butuh sebuah nama yang ”hadir” di komunitasnya.

Sebuah Kisah Tentang Joe alias Juransyah Syamsuddin

Babak 1.

Joe duduk di kursi panjang pantai losari. Memandangi orang orang yang lewat. Melihat anak-anak muda Makassar bercengkrama di seberang jalan, di balik kaca-kaca riben mobil mereka. Kaca mata hitam memang cocok untuk sore-sore begini, apalagi di pasangkan dengan jaket kulit dan celana jeans yang berwarna hitam pula. Ya bisa di bilang mirip Lorenzo Lamas di film Rennegade, karena rambut inyol(keriting) joe pun mendukung.

Matanya jelalatan kesana kemari. Liar bagai komedi putar. Kalau diibaratkan lensa kamera, yang begini ini sepertinya mirip lensa 28mm sudut lebar. Yang cakupannya luas dan fokusnya tajam. Tiba tiba matanya berkilat-kilat begitu melihat tante muda dengan baju super ketat yang membuat ehm.. maaf!! payudarannya hampir tumpah ruah, akan lewat didepannya. Jalan sendiri tanpa pasangan. Tidak biasanya seperti yang lain-lain!!.

Tante manis dengan jeans pendek sampai beberapa centimeter diatas lutut itu hampir lewat di depan Joe Lamas. Mata mereka sudah bertemu bak kesetrum lisrik di kost-an nya Joe yang nunggak 3 bulan. Gratisan tapi lancar.

Joe berdiri dari tempatnya duduk tiba-tiba, saat tante cantik jelita itu hampir saja lewat didepannya. “TIK” tangannya sigap menyalakan pematik mewah ber-api bara. Sementara rokok putih koboinya sudah menunggu si api biru membakarnya hingga berasap. Geraknya cepat, tapi santai. Perlahan pada saat-saat tertentu, seperti pada saat menghembuskan kelebat asap saat tante itu lewat tepat di depannya.

“Maaf ya dik!! Rasa – rasanya kita pernah bertemu sebelumnya. Tapi dimana ya? ” sambil jemarinya meremas tangan kecil nan lembut milik tante muda itu………

”Dik” #@$@#$#@$#@$

Babak 2.

Tubuh mungil milik tante mona dipajang dijendela paviliun hotel mewah yang terbuka malu-malu. Hanya sepotong bra hitam serta celana dalam hitam terlipat yang membungkus gumpalan-gumpalan padat di dalamnya.

“TIK” tangannya menjentik pematik bara milik Joe lalu menuntunnya ke rokok menthol yang sedari tadi terselip di bibir mungil kemerah-merehan. Lebih merah dari pada waktu itu (mungkin karena terlalu ganas joe mengulumnya tadi malam!!).

“Joe pematik mu bagus ya!!?” tanya Tante Mona membuka pagi yang masih berselaput kabut waktu itu.

Joe beranjak dari tempat tidur mewah yang hanya di dapat apabila membayar 5 ratusribu untuk semalaman. Hanya celana dalam apek dengan dua lobang kecil di dekat pantatnya menempel erat di tubuh ber otot seperti roti maros itu.

“pematik itu kudapat dulu sekali! Kenang kenangan dari temanku yang sekolah di Amerika” ia terus mendekati Tante Mona hingga rapat. Tangan nakalnya menjulur mengalungkan pinggang dan menariknya hingga rapat. Hangat. “ hanya ada 2 benda di dunia yang kucintai. Yang pertama tante mona tersayang, dan yang kedua pematik itu.” desisnya agak menunduk, membisik dari belakang cuping telinga tante mona.

“dasar gombal!!” Tante mona mencubit pinggang Joe.

“tente boleh kok memilikinya!! Karena kalau kalian disatukan, aku tak punya alasan untuk berpaling pada yang lain!!”

“ah– kamu bisa saja Joe!”

tante mona berbalik. Menghisap rokok mentholnya dalam dalam dan menghempas puntungnya keluar jendela.

“coba kalau kamu berani sama aku anak nakal!!” sambil jinjit menghembuskan asap dingin yang tersisa perlahan dekat wajah Joe.

Joe dengan bersemangat menarik tante mona ke pelukannya.

Lantas mereka berciuman.

Mula mula lembut, lama lama menjadi bernafsu dan panas hingga akhirnya tante mona menyerah dalam rajutan tangan perkasa Joe.

Di luar pemandangan pantai losari berselaput kabut pagi. Mega-mega sudah agak menguning, tetapi dingin masih merambah dari luar jendela, meredam raungan Joe dan tante mona yang membuat degup dada orang lain yang mendengarnya.

Babak 3

“Dasar penipu!!! Kau bilang hanya mencintaiku!!” teriak tante mona di lantai tiga pusat pertokoan mall ratu indah.

Tante mona mendapati joe sedang bergandengan mesra dengan pacar mahasiswinya yang pun tak kalah sexi dan cantik.

“nih ambil!!” (PLETUK!!)pematik mewah berwarna silver dilempar tepat mengenai jidat Joe.”aduhh!!”.

“Setan, iblis, hewan, penjahat kelamin– huhhhff!!!” tante mona langsung pergi begitu saja. Berjalan agak berlari. Matanya membelalak. Bibirnya kontan mengeluarkan kata-kata kotor.

Tak lama setelah tante mona pergi entah kemana, keadaan kembali tenang. Para pengunjung yang tadi berkerumunan seperti lalat hijau, berpencar sambil bercerita satu sama lain. Ada yang nyengir-nyengir, ada yang ikut sewot, dan ada pula yang biasa-biasa saja tak terpengaruh.

Joe kembali berjalan, sementara pacar mahasiswinya masih memandang kosong dengan mulut ternganga.

“sudahlah Dina!!!” kejut joe menepuk bahunya.

“tapi joe–” belum selesai ia bicara,

“Sstttt!!” sambut telunjuk joe menutup bibir merah alami milik pacar mahasiswinya itu. “Dia itu……” joe berpikir. “dia itu tante mona. Kisahku dari masa lalu yang kelam. Kan aku sudah pernah bercerita padamu waktu itu. Jadi tolong mengertilah, kamu memang bukan yang pertama, tapi aku yakin pasti yang terakhir” Tambah joe menjelaskan.

Dina menatapnya sesaat. Dalam sekali. Sementara wajah joe melunak bagai bandeng presto yang hancur tulang-tulangnya.

Dina berjalan kesebuah tempat tak jauh dari sana. Lalu menunduk mengambil pematik yang jatuh dekat tong sampah.

“ini!!, enggak apa apa kok disimpan lagi!!” ia memberi pematik keramat kepada empunya. “aku percaya kok sama kamu. Tapi maaf ya, aku harus pulang duluan. Papaku menunggu dirumah. Ia mau keluar negri.”

“aku mesti ngomong apa ya? Aku benar benar beruntung punya pacar kayak kamu. Mungkin kamu benar-benar turun untuk menyelamatkan aku sebagai putri penolong. Makasih ya Dina!!” joe mengambil pematik itu lalu memasukkannya dalam kantong sesegera.

“sudah gombalnya?” ia tersenyum. “daaa sayang !!!”(cuptt) ciuman lembut sebelum lambaian tangan. Sungguh romantis perpisahannya senja itu. Sampai kenangan pahit di labrak sama tante mona tak terasa begitu cepat berlalu.

Babak 4.

Malam pun tiba masih pada hari yang sama.

Letih joe mengobrak abrik buku di Gramedia, dan tak satu pun yang menarik hatinya. Kalaupun ada, harganya tak bersahabat. Berjalan pasti menuju pintu keluar dengan rokok koboi terselip di bibirnya. Hanya untuk di kulum-kulum dan digigiti ujung-ujung busanya.

Ia masih terus berjalan, kali ini lebih santai. Di lantai tiga, di depan kafe elit olala Mall Ratu Indah (Makassar). Tiba tiba matanya merem-melek, berkilau kilauan begitu melihat tante cantik yang sedang menggendong anaknya, tanpa gandengan. Kebingungan menurunkan kereta bayi yang mirip becak kecil itu dari lift.

Lantas tanpa banyak pikir panjang Joe pun beraksi!!

“Adinda!!!” (Adinda….? @#$@#$#@$@#$) hentaknya tiba – tiba dari belakang. “biar saya yang angkat. Yuk!!” ajaknya turun melalui lift sementara satu tangannya sudah mengangkat kereta bayi tersebut. dan menyentuh halus kelingking si tante cantik yang sebelah tangannya menggendong anak lelaki yang sangat imut lagi menggemaskan. Tapi ibunya tak kalah menggemaskan kok!!

“terima kasih ya, jangan panggil aku adinda, kayanya kamu jauh lebih muda dari saya. Namaku Tiwi!!” senyumnya manis bak buah delima yang sedang merah merahnya.

“ups…. Maaf ku kira kamu tadi lebih muda dari saya!!” balas joe agak kurang lancar bicara karena rokok masih terselip di bibirnya. Bisa dibayangkan bagaimana muka cengir-cengir kecil tante Tiwi kala itu. Ia merogoh sakunya, dan mengambil pematik antik yang sudah malang melintang makan garam itu.

“ngomong – ngomong papanya si kecil mana?” tanya joe yang sebenarnya tidak pantas.

Wajah tante cantik itu masih tersenyum, tetapi kali ini dengan versi yang berbeda. Bibir anggun warna merah muda bermahkota lipstik istimewa itu agak membengkok akibat pertanyaan Joe. Ia terdiam, belum bisa menjawab pertanyaan joe yang sok akrab ini!!.

“Umur berapa adik kecil imut wi?” lanjut tanyanya mengalihkan pembicaraan.

Mereka sudah diluar Gerbang Masuk Mall itu. Joe pun tersenyum dalam hati. Tak perduli apa yang dikatakan wanita cantik ini. Tetapi pertanyaan yang tak terjawab tadi, sebenarnya sudah terjawab dengan sendirinya. ia masih memandangi bibir manis si tante beranak imut ini. Sementara pematiknya terus berjalan perlahan mendekati rokok yang sudah menguning ujung ujungnya.

“TIK”………

”Namaku JOE KAVALERO…. !!!”

GADIS MANIS

“PLAKK” gadis manis berbaju putih menampar keras tepat di pipi ku

“dasar kurang ajar ya!! Berani beraninya kamu colek – colek pantatku!” bokong indah nan mempesona terbalut rok mini coklat motif polos, sepolos kulit pahanya yang putih itu.

“Yeee mba, aku kan enggak sengaja! Main nuduh – nuduh sembarangan lagi! ntar, kalau aku digebukin orang siapa yang mau tanggung jawab!” lantun ku tersenyum masih bercanda walau tangan kiri sudah meremas remas pipi kanan yang terasa perih.

Di seberang jalan raya Pettarani Makassar angkot 07 mengantri ambil penumpang. Gorombolan Calo sibuk meneriakkan jurusan (“kampus, kampus, kampus de!”) yang saya kira sudah diketahui kebanyakan calon penumpang. Bikin ribut saja!

Si gadis manis dengan kemeja putih yang hampir copot kancing-kancingnya. karena terlalu ketat mungkin?, masih saja memandang ku sinis. Belum puas rasanya hanya menampar cowok di sebelah yang menurutnya telah kurang ajar. Sebenarnya siapa yang kurang ajar? cowok jail yang hanya ingin tahu seberapa empuk dan berisinya bokong indah itu atau gadis korban mode yang mempertontonkan paha putih mulusnya serta tonjolan tonjolan lain dibalik kemeja putih agak transparan itu. Mana tahan!!!

“mba, mba,!!” panggilku agak berbisik dari belakangnya. “sumpah mba tadi aku enggak sengaja kok. Mba aja yang salah paham. Maafin aku ya mba!” aku mencoba menjelaskan kepadanya, karena setelah kuperhatikan dengan seksama, si gadis manis ini bisa mempesona syaraf syaraf indraku. Kalau tidak sih buat apa coba!!?

“Sudah deh, enggak usah cari alasan!! Cowok kaya kamu memang banyak di terminal terminal kayak gini. Dasar bar-bar!!!” timpalnya, masih mengendus-ngendus geram bak kucing betina.

Tak lama mobil 07 jurusan kampus UNHAS datang. Ia naik cepat meninggalkanku. Satu, dua penumpang pun turut hingga akhinya mobil hampir penuh. aku masih di tepi jalan menunggu mobil Ikip jurusan pasar sentral. Tetapi perhatianku masih tertuju kepada si gadis manis. Ia pun masih memperhatikanku walau agak malu-malu.

“Wah, kalau tidak sekakarang kapan lagi!!?” tanyaku dalam hati

Akhirnya ku putuskan untuk berubah haluan tanpa perduli tujuan. Aku segera naik ke atas angkot, mengisi bangku kosong di sebelahnya. Sebenarnya sih tidak kosong!! Tetapi setelah ku katakan “hai dari mana aja?” kepada si gadis manis, seorang ibu tua itu pun mengerti. Walau tanganku harus menggeser-geser lutut ibu tua itu terlebih dahulu. Dan Mobil pun Pul’ setelah naiknya aku di mobil yang di penuhi mahasiswa yang lagi segar segarnya hendak studi. Setidaknya begitulah yang mereka katakan kepada orang tua mereka di kampung!!!.

“Nama ku RRROMA!” ujar ku berusaha bercanda pada si gadis manis yang dari tadi duduk berusaha membelakangi ku.

Tetapi tetap ia tak menggubris ku. Hanya melirik sekali dan melempar lagi pandangannya ketempat lain.

“Dan kau, pasti –ANI kan? Ohh ANI dari mana saja engkau? ” tambah ku nekat dengan suara agak besar.

Hampir semua penumpang di angkot itu tersenyum spontan. Ia pun sempat hampir membuka bibir tipisnya dengan tawa. Tapi gengsi lebih lebat dari pada hujan goyon apa adanya itu. Ia masih memandang ke belakang.

Ia duduk di pojok kursi 4 dan di sebelahnya tepat aku duduk mengarah padanya.

“lagi ada masalah ya nak!!” tiba tiba ibu tua yang kugeser singgasananya tadi menimpali dari pojok kursi enam di depan kami.

“ah biasa kok bu! Masalah cinta remaja, muuuudah sekali cemburu“ kata ku sambil nyengir nyengir.

“ih, enggak tau malunya nih cowo’!“ tiba tiba ia berbalik. “kami itu belum pernah kenal sebelumnya bu’. Dia aja yang kegatelan ngikut-ngikut sama saya. Mana tadi pake colek-colek pantat saya pas di terminal Ujung. Dia ini bajingan bu! Jadi jangan di dengerin omongannya. Pembohong kelas berat!” nadanya keras, sekeras raut wajahnya yang drastis berubah tiba – tiba.

Tampang manisnya berubah tengil bak jagoan yang sudah menghajar penjahat hingga tak berkutik. Semua penumpang memandangku sambil menyerengitkan dahi. Termasuk mahasiswa gondrong berbusana hitam-hitam di ikuti ratapan tengkorak genit di kaosnya itu yang bangku pojok dekat supir. Uuu Takuuut!!.

“ya sudahlah! Aku letih seperti ini!! Mentang-mentang kamu sudah punya pacar baru !!.” Tutur ku agak di keras keraskan dan nada penuh kepasrahan. “Maaf ya bu!! Maaf juga bapak bapak dan ibu ibu, sudah mengganggu perjalanan kalian.” tambahku agak di-iba-kan. “baiklah, Kalau begitu aku mengalah!”

Ia memandang ku tajam. Bibir tipis merah itu bengkok tidak karuan. Sekarang giliran ia yang di salahkan penumpang lain. Saya bisa melihat itu dari pandangan mereka yang pula sambil menyeringitkan dahi. Bahkan lebih dalam lagi, sepertinya bisa untuk mengalirkan air bak sungai kecil di pegunungan.

“KIRI PAK !!!” teriak ku kepada pak supir. bermaksud melarikan diri dalam keadaan menang. Yess!.

Setelah membayar pak supir dengan uang receh seribu-an, lalu aku melambai kepada semua penumpang dengan wajah sedih dan sungguh minta dibelaskasihankan.

Mobil berlari kencang. Tapi wajahnya yang penuh dendam masih sesekali melirik kearah ku. Ibu tua itupun masih memandang ku iba sampai aku membalikkan badan dan tertunduk berjalan ke arah yang berlawanan.

“ah beli rokok –ah” dalam hatiku setelah melihat kios kecil di depan jalan besar Abdulah Dg Sirua. “Marlboro mba!!” sambil ku menunjuk bungkus rokok merah putih di etalase yang dirajut dari kaca dan bambu seadanya.

Marlboro telah ku genggam. Tetapi jemari ini masih mencari dompet disetiap kantong jeans ku berualang ulang, tetap tidak ketemu.

“wah… kuwalat saya sama tuh cewek. Kayaknya sih jatuh diatas angkot!!” kata ku dalam hati. Sambil memandang mba penjual dengan wajah sedih.

Tetapi sungguh kota besar. Mba penjual bukannya ikut prihatin, malahan menaruh curiga pada ku.

“ya sudah, kembalikang mi rokok ku. Pake alasan segala. Bilan’ mo ko, kalau kau tidak punya uang?. Pakai segala ambe’ rokok mahal. Pui!! Gayana ji’!!” logat asli keluar deras menghantamku keras, sakitnya bagai di tikam sembilu.

Jalanan makin ramai oleh kendaraan. Seperti semut melihat gula berbondong-bondong berbaris antri. Matahari pun terus berputar. Kali ini tepat diatas debu-debu jalan yang terbang tidak karuan. Membawa jarum jarum panas yang tak pernah sekali pun selama 2 tahun ini menyapaku sebagai teman. Selamat pagi menjelang siang pejalan, Saatnya pulang!! Nasiiib, nasib!!!.

* * *

Gorden itu terbuka lebar bagaikan layar panggung sandiwara. Segara tampak pemandangan pantai losari yang dijejali gerobak penjual makanan. Mega- mega bersepuh kelabu mendekap gerimis pagi hari ini. Kamar paviliun yang tadi gelap terbias terang oleh sinar pagi seadanya. Si gadis manis terkulai lemas di atas ranjang tebal buatan italia. Berkelebat selimut tebal, menutupi letih yang masih merasuki lelap tidurnya.

Ku sandarkan tubuh ini pada jendela lebar disisi belakang. Buih asap putih menutup pandanganku sesekali. Rokok yang terselip di bibir ini mulai terasa hambar akibat ciuman tadi malam terlalu buas. Sudah lama tak lagi ada perasaan seperti ini. Rasa penyesalan., rasa gelisah, dan rasa – rasa lain yang datang belakangan. Aku harus pergi, Istriku sudah menanti dirumah!.

Dua lembar uang seratus ribu-an kuselipkan ditaplak meja bundar di sebelah telpon. Sekarang, Isi dompetku benar-benar telah habis terkuras. Uang jerih payah mencari berita siang dan malam habis semalaman. Tetapi wajar pikirku. Si jujur nan manis yang terkulai lemas di atas ranjang itu telah mengembalikan dompet ku. Ya, hitung –hitung balas budi lah!.

“selamat tinggal gadis manis!!” bisik ku di telinganya. Pelaaaaan sekali. Aku tak ingin ia terbangun.

”Ups…. Namaku Joe Kavalero……. ” Mmmmmuach!!

”TIK!!!!”