DO’I ANDAS

Posted: April 13, 2008 in Mozaik kehidupan
Tags: , , , , ,

at the end of the dream

Daeng Andas anak Makassar tulen. Rautnya keras– sekeras kata kata dan prilakunya. Setiap hari panas mentari menyengat pori pori kulitnya hingga membesar serupa kulit jeruk. Hitam legam bagai arang di perapian Daeng Nazaruddin Anwar yang pula Makassar tulen.

Umurnya sekarang menginjak tahun ke-28. Umur dimana ketakutan akan jodoh tidak lagi di ikatkan benang merah oleh Yang Maha Pencipta. Seperti dua singa kecil di salah satu klenteng di kawasan Pecinan Makassar. Matanya membelalak memperhatikan satu sama lain. Kecil, mungil, dan lucu. Terbuat dari batu giok peninggalan kerajaan Cina terdahulu.

Matahari merekah panas. Sepanas hatinya kala penumpang yang membayar tidak semestinya. “kuran’ajara nah. seharusna mengerti mi itu! Cape ta’ lagi menggoes! Bambang’i!” katanya terus dalam hati setiap ada lagi penumpang yang tak mau mengerti.

Tak tahu darimana datangnya putri ling-ling (saya suka menyebutnya seperti itu, karena saya juga tidak tahu siapa namanya! Andas tak pernah mau memberi tahu ku). gadis cina menawan serta mempesona, yang tungkai kakinya putih sampai keatas, Seputih cat tembok deluxe di matrial kepunyaan ayahnya. Langsung naik tanpa bicara. Andas langsung menggoes kearah gang kecil dibelakang jalan besar yang becek dan sepi.

“hey, kemae min’jo?. Ketempat biasa mi ?” ujar Andas tampak akrab.

“jalan mi saja andas, Ada tempat baru ku. Bisa mi kita landing disana lama-lama. Jam’mo ko bicarai ka terus, masih dekat mi rumah ku. Jauh-jauh ka sedikit nah. Kau mengerti ji to’ sayang!” balas ling-ling ramah.

“oke sayan’ he he he!!!” tawa renyah andas dari atas becak tua yang sudah di kayuhnya selama belasan tahun.

Sungguh beruntung nasib Daeng Andas, dapat pacar anak juragan matrial. Memang sih kalau tampang, Andas bisa di acungi jempol keatas. Apalagi alis hitam tebal serta jenggot yang tumbuh subur terawat tak membuatnya pantas duduk diatas beranda besi yang disatukan dengan sepedah itu (becak maksud saya!). tapi apa salahnya? Ali Zaenal yang bintang video klip dan sinetron itu saja– dulu pernah jadi Preman di terminal.(kata orang!!!).

Di belakang kelenteng tua sore menjelang malam.

Andas terkapar dan terengah-engah. Ia berdiri dari balik jendela klenteng tua yang sudah tak terpakai. Ling-ling pun masih terkulai tak berdaya terbaring di tegel kotor beralaskan tikar yang kotor juga.

“kapang kita bisa kawin benar-benar mi di’?” tanya andas kepada putri ling-ling yang masih terbalut sutra merah yang konon berumur ribuan tahun

“tau mi!!” sambil kepalanya mengangguk menandakan ketidaktahuannya. “bosan mi saya juga begini terus bertahun-tahun!.” lalu mengambil rokok kretek kepunyaan Andas dan menyulutnya. Menghisapnya dalam-dalam, membuat kabut pandangannya kearah Andas dengan ratapan yang dalam

Andas terdiam masih memandang keluar jendela. Hujan turun rintik rintik. Orang tua gila yang duduk sudah menahun di depan klenteng berlarian mengadahkan wajahnya kelangit. Mencuri butir-butir berkah dari Yang Maha Kuasa sambil tertawa, melompat, dan sesekali menjilati tangannya yang sudah dipenuhi daki.

Hujan makin deras. aku juga harus pulang !!

* * *

Esok hari.

“sori ces, saya pulang duluan kemarin nah! Saya baru ingat. saya janji sama istriku pulang cepat. Sori-sori maap nih ces nah!” kataku sambil memohon.

“nda apa – apa ji itu! Tenang mo ko. Tapi kau liat mi to’. Pacar ku. Cina ka’bulampe!!”

Tawa renyah kami di warung kopi Daeng Nazarudin Anwar yang kerap disebut sebut “warkop bang udin”. Di salah satu lorong di kawasan itu, yang sekitar satu kilo lagi bisa sampai di pasar sentral.

“tapi begini mi nasib ku kodong. Tenna doi’!!”(bukan doi serupa pacar, tapi doi’ dengan huruf “i” di tekan yang berarti duit. Fulus.)

“memang kira-kira berapa mi kah? Perasaanku, kalau orang cina nda ada duit panaik-nya”.sambutku lagi mulai bercakap.

“memang! Tapi ko tau nah, dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung!! Paling kecil 5 juta pace-mace(Bapak-Ibu)nya minta. Dari mana ki dapat uang segitu? Saya kan tukang becak ji’ kodong! Kalo dibilang cinta. Cinta mati mi ini saya sama tu cina” jelasnya lagi. Nadanya merendah, rautnya turun membentuk guratan-guratan baru yang lumayan dalam.

“Makassar di’. Be be be…. Lima juta!! Bisa mi beli motor bekas itu kau’e.”lantunku menyindir. Tetapi jelas bukan dia yang kusindir. Kalian pasti mengerti kan?

Daeng Andas, sahabat baru yang ku kenal tidak sengaja, karena pernah menabrakku sewaktu hendak memotret bangunan klenteng di kawasan Pecinan ini. Dulu kami hampir berkelahi karena itu. Tapi toh sekarang malah jadi sahabat.

Kopi hitam pekat diseruputnya perlahan karena masih panas panas kuku, lalu ditenggak penuh kenikmatan. Menenggelamkan diri dalam rasa manis campur pahitnya kopi Daeng Nazaruddin. Bagai kisah cintanya yang pula pahit manis. Ia menarik nafas panjang, sepanjang waktu yang akan ia lalui tuk gapai harapannya, sepanjang mimpinya tuk menggenggam uang 5 juta(itupun minimal) dan meminang gadis impiannya. Dan ku yakin pula, si gadis cina yang ku gelari ling-ling itu pun menunggu tak sabar datangnya hari kebahagiaan yang dinantinya.

* * *

“Budaya panae doi’(“i” ditekan). Maksudnya mahar perkawinan ditentukan memang dari awal oleh pihak perempuan. Banyaknya itupun dihitung dari berbagai macam kriteria. Contoh; ada Andi,karaeng,Tenri-nya(penggelaran bangsawan suku bugis makassar) itu berkisar 10 jutaan, kalau S1 ditambah 5 jutaan, dari golongan pejabat atau tokoh masyarakat 5 juta lagi, dan kalau ada lagi yang lain seterusnya, ditambah 5 juta lagi, lagi, dan lagi (biasanya!!!).” tutur Daeng Nazaruddin Anwar! Yang suka sekali mengganggu Andas lelaki imbas budaya itu. Sering juga Bang Udin berpesan “makam’min jo cinta’iah!!!”(makan tuh cintamu) di beberapa akhir perjumpaan kami. (relistis menurutku!)

Ilham F(de Vozquea)

Mahasiswa jur il.komunikasi 2001.

Makassar <!–[if supportFields]> TIME \@ “HH:mm” <![endif]–>14:07<!–[if supportFields]><![endif]–> <!–[if supportFields]> TIME \@ “d MMMM, yyyy” <![endif]–>13 April, 2008<!–[if supportFields]><![endif]–>

“Untuk kalian yang sedang menanti datangnya hari itu. Selamat berjuang. CAH’YO!!!”

Comments
  1. ahsan ar rijal says:

    menyedihkan sekali..
    bukan!
    bukan kisah Daeng Andas..

    yang menyedihkan adalah..
    adanya hukum adat..
    hukum yang entah dari mana datangnya..
    entah siapa yang meletakannya..
    apa motivasinya..
    mengapa..

    menyedihkan sekali..
    sekali lagi bukan!
    bukan kisah Daeng Andasnya..

    yang menyedihkan adalah..
    akibat hukum adat..
    yang menjerat kuat..
    hukum adat yang membuat..
    maksiat adalah solusi tepat..

    mungkin ada banyak Daeng Andas..
    di Aceh..
    di Medan..
    di Lampung..
    bahkan di Jawa..
    padahal sejatinya..
    nikah itu mudah..
    dan berpahala..
    tetapi ternyata untuk..
    kenikmatan hanya 15 menit..
    mereka menjual surga..
    dan memilih neraka..
    menyedihkan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s