JANUARY TANPA SEBAB APALAGI

Posted: April 14, 2008 in Sastra
Tags: , , , , ,

JANUARY

TANPA SEBAB APA LAGI

Cerpen Ilham F (De Vozquea)

Makassar Daily December

Ini bukan komedi, ini puisi

Sejenak ia hitam di atas putih, ia harmoni

Ini sekedar berjalan bukan berlari

Karena bagiku tak ada yang terpaksakan sampai aku harus berlari

(If Alta – Penggalan Sajak Orang Tua)

Tiba-tiba saja aku mencintaimu. Aku melukis dirimu dalam keheningan—setiap senyum, setiap desah, setiap kata yang terucap di bibirmu adalah keindahan. Aku melukismu dalam keheningan—tak sadar Desember ini mengalir untaian nada dalam lembut pandangmu. Aku mencintaimu Angela. Aku mencintaimu!!

***

Siang itu di sebuah pelataran PKM UNHAS. Ia duduk sendiri. Sementara aku baru saja datang dari tempat yang jauh. Tak perlu kuceritakan dari mana. Sungguh mengejutkan. Baru kali ini ia datang ke sekertariatku (sebuah sekertariat Liga Film Mahasiswa). Karena sebelumnya aku hanya bisa memandangnya diam-diam dari jauh, sebelum atau sesudah ia kuliah. Aku tak tahu harus bicara apa. Aku duduk tepat di hadapannya. Tapi tak ada kata yang dapat keluar dari mulut ini. Terus saja aku menunduk, berpura-pura memperbaiki ikat sepatu, membongkar tas, dan sesekali keluar masuk ruangan mengambil sesuatu walau tak jelas apa yang kutuju. Ia masih disana. Ia masih disana!!

Semoga saja ia belum sempat masuk ke dalam, sebab sketsa wajahnya terpampang di dinding-dinding ruangan itu. Tidak tertata, bahkan berserakan….

Ia tersenyum padaku….

“Kenapa kak!!? Sibuk sekali kelihatannya.”

“Ah tidak juga!! Cuma sok sibuk… a-ja.” (Sedikit gemetar aku terkejut setengah mati.)

Setelah itu pembicaraan pun mengalir seadanya. Begitulah kiranya, awal percakapan dengan Angela, bidadari yang sudah mengganggu tidurku selama ini. Siang itu langit terlihat cerah. Hanya sedikit putih di antara biru yang menawan. Pun beberapa orang terlihat menjemur pakaian. Angin bertiup seadanya. Bunga krisan di taman Liga Film sementara merekah. Indah. Ia tersenyum lagi…. Kali ini lebih menggoda.

“Kak… boleh tidak saya minta sketsa saya di dalam!!?” Ia tersenyum—aku beku. “Katanya kakak mau pergi lagi ke Jakarta kan? Mendingan saya ambil dari pada nanti orang lain yang curi!!” ia tersenyum.

“$%$^$%&%^*(*)*!!!”

***

Emilia menangis saat aku beranjak pergi tinggalkan kota ini—pergi tinggalkan hubungan kami. Aku laksana seorang pengembara, berdiam berarti membunuh diriku sendiri. Rumah ialah perjalanan itu sendiri. Tapi, cinta datang berkelebat tiba-tiba saat bertemu Angela. “Aku ingin berumah di senyummu.” Memang sebuah pilihan yang sulit. Angela adalah cinta yang membuatku berada dalam debar-debar penantian yang mungkin ia sendiripun tidak mengetahuinya. Sementara Emilia ialah perjalanan cinta yang membuatku diselimuti kelembutannya. Senja kala, tangis mengalirkan cahaya keperakan, merona kesedihan terlintas di bibir yang basah oleh air mata itu.

“Kenapa Alta…. Kenapa?” Ia tersedak oleh tangisnya sejenak. “Jangan terus menerus kau sembunyi. Katakanlah kenapa kau tidak lagi menginginkanku!! Kali ini kau benar-benar pergi Alta. Tidak hanya tubuhmu yang terpisah dariku. Tapi kau pula membawa kisah kita!! Apakah kau mendengar tangis dari kehilangan dirimu?” Ia kembali tertunduk. Ia menahan tangisnya. Tersedu perlahan. Tapi….

“Aku tidak bisa lagi membohongimu. Aku tak bisa!! Maafkan aku Emilia….”

Jakarta Beranda Putih Januari

Aku bersandar pada beranda putih di teras bunga. Saat lampion dunia kembali membuka mata. Sendirian dalam sebuah keselarasan pagi. Saat daun-daun meneteskan sisa embun tadi malam, berkilauan di hijau yang penuh ruapan kedamaian.

Kuseruput kopi hitam pekat perlahan. Sangat perlahan!! Uap membasahi sekeliling bibirku. Sejenak aku teringat padamu Emilia. Tapi—itu sejenak. Sementara wajahmu Angela. Menikam indah setiap pandang dalam khayalku. Aku merindukanmu. Walau kau tidak mengetahuinya bahwa ada cinta yang kutitip di selembar sketsa yang mungkin sekarang terpajang di dinding kamarmu.

Setelah semua yang kuberikan padamu. Aku tak berani lagi menghubungimu. Tak ada permintaan dariku. Itu murni sebuah persembahanku padamu. Sebagai hadiah kepadamu, yang sudah memberikanku perasaan jatuh cinta. Untuk pertama kalinya!!

Aku mencintaimu seperti salju

Dingin tapi indah

Bisu tapi penuh kelembutan

Putih tapi sebuah kedalaman, sampai cinta ini tak terlihat lagi.

***

Aku terbangun dari lamunan karena ayah memanggilku. Saat beranjak dari beranda putih di teras bunga—tiba-tiba saja aku teringat padamu Emilia. “Sedang apa kau disana?” Tapi itu sejenak.

Aku tak lagi perduli pada “dunia”, setidaknya mencoba untuk tidak merasa bersalah lagi. Aku telah menemukanmu Angela, yang walau kutahu bahkan kau belum mengenalku sepenuhnya. Andai bisa ku pastikan hanya sepersekian persen terlintas di kepalamu untuk mencintaiku.

Sekali lagi aku tak perduli!! Aku hanya ingin mencintai. Larut dalam jatuh cinta yang betul-betul jatuh cinta ini. Aku harus belajar, karena ini pertama kalinya, dan sebelum puluh kalinya hanya semu yang kuciptakan. Aku membutuhkanmu Angela!! Aku membutuhkan perasaan jatuh cinta seperti adanya cinta itu sendiri.

Aku pula masih teringat saat kau menitikkan air mata, Emilia!!

Bali di Taman Januari

Email from: AngelaLuv_Yha@crazyland.com;

Bali, after Idul Adha 2006

Arigatoo yah hadiahnya Alta. Aduwh bahagia rasanya. Dari dulu saya incar🙂. Btw dah mandi belum? Aku hari ini mandi Cuma sekali…. dingiiiiin.

Cuaca hari ini sangat mendukung tuk berada di tempat tidur terus. Ngetik surat, sambil dengerin lagunya d’Cure “Friday em in luv”. Alta kok pemalu amet sih kalau ketemu aku di kampus. Alta = pemalu (huhhh!!) Alta = pujangga masa kini (setuju!!)

Aku sampai lupa, sekarang aku ada di Bali. Tepatnya di Kuta, disini enak loh, Banyak turisnya bo!! selagi aku liburan- aku juga bantu-bantu di Tokonya ayah.(maklum anak yang berbakti)

Alta, makacih yach lukisannya. Kok lukisannya lebih manis dari aslinya (n_n) hehehwe (merendah tuk menaikan kwalitas). Kok bisa ngelukis tanpa ada objeknya d dpn mata? Wah, daku harus banyak belajar nech sama Alta (bhaltazar-red spider).

Alta, aku titip peluk kwangen tuk my pren Isabel. Ia tinggal di Bekasi tepatnya di pekayon. Nanti deh aku sms alamatnya (aku lupa alamatnya aku simpan dimana). Dan kalau emailnya dah dibaca, bales yupz. Kalau nanti ketemu isabel, katakan Angela sangat merindukannya!! Entah kenapa ia tak kunjung pulang. Mungkin iapun menungguku segera pergi kenegri nun jauh disana;-( (cedih nech!!)

Alta-Alta!! Kemarin aku duduk di depan cermin sambil memandang sosok di depanku dan spontan kuberkata “ ya Tuhan, begitu indahnya karuniamu. Menciptakan mahluk se elok dya yang sekarang menatapku (jayus ya Alta ;-/)

Oia puisi yang didinding PKM masih ada kan? Ya ampiun…. aku lupa!! Alta kan di jakarta.(corry). Dari semua puisi yang ada di dindingnya Liga Film aku paling suka yang: maaf tak bisa kutulis banyak, tinta habis semalam, kugores langit dengan namamu (rieke dyah pittaloka)

Dah dulu ya Alta. Kapan-kapan saya kirim email lagi. N aku juga attach foto terbaruku. Di cetak truz disimpan baik-baik ya!! Tapi jangan di pelet yupzz :-p

Makassar Didinginnya Malam Yang Tak Pernah Henti Walau Januari

Saat jarak pada kabel telpon terputus,

cinta tak lagi rindu…

(penggalan sajak – Dedi de Goode)

“Aku masih menantimu Alta. Aku belum bisa melupakanmu. Aku masih ingat saat kita bersama. Kita duduk di danau cinta. Kadang kita tertawa bersama. Kita bercanda bersama. Kita melewati banyak waktu berdua. Kadang memang terjadi ketidaksepahaman antara kita. Kadang pula kita bertengkar, tapi kita masih saja berpegangan tangan Alta. Tapi sekarang…. Mengapa?” Ia kembali menangis—bahkan lebih menderu. “Dua tahun bukanlah waktu yang sebentar tuk dilalui, apalagi dilupakan….”

“Aku tak bisa…. Aku tak bisa lagi Emilia. Maafkan aku!!”

(Tintttttt!)

Sambungan ini terputus. Kau lantunkan seluruh kesedihanmu. Kau menangis. Kau berbisik tentang harapan.

Tiga dimensi Cinta

Kuamati foto yang kau berikan kepadaku Angela. Tak ada kata yang sanggup mewakili keindahanmu bagi diriku, karena kau adalah keindahan itu sendiri. Dalam-dalam kubelai rambutmu. Seandainya kau mengetahuinya. Seandainya!!

Dengan mencintaimu: aku meninggalkan cinta Emilia. Dengan mencintaimu: aku merasakan gunjingan yang meruap-ruap dari mereka yang bahkan tidak kita kenali.

Aku membuat sketsamu lagi Angela!! Tak itu saja, rasanya kesendirianmu dalam kanvas ini menjadi samar adanya…. Ada Emilia di sisimu memandangku tajam. Ada orang lain yang sama sekali tidak aku ataupun kau mengenalnya serupa memperhatikan kita. Karena aku menceritakannya pada mereka dilembaran ini. Mereka membenciku Angela!! Itupun tak mengapa bagiku. …Asal mereka tak pula membencimu.

Mereka harus tahu—bahwa cintaku, atau mungkin cinta kita semua selama ini tak lebih dari permainan bercinta. Itu bukan cinta!! Cinta yang sebenarnya telah menguap bersama desah nafas saat berciuman, saat berpelukan, dan saat bercumbunya seorang Alta dengan kekasih-kekasihnya.

Cinta menguap bukannya tak membentuk awan. Makin lama ia makin hitam—berkerudungkan angin yang membawanya dari laut menuju pegunungan melintasi kita semua. Pada saatnya, sekejap ia terdiam. …Lalu jatuh tanpa terduga. Hujan pun guyur…. Ia serupa penantian akan kesempurnaan. Ia serupa kerinduanku padamu Angela. Padamu!! Hanya kepadamu!!

IF

(3:17 kamar laba-laba/pada januari itu)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s