LOVE’S THEORY

Posted: April 14, 2008 in Theory
Tags: , , ,

KESAN PERTAMA JEMBATAN CINTA

Oleh Ilham De Vozquea (Kawan Laba)

“Romeoooooooo!!!” teriak Juliet dengan kesedihan tanpa batas, tatkala kekasih yang amat dicintai telah terbaring disisinya tak bernyawa. Bunuh diri karena cinta. Mengenaskan. Tetapi itulah cinta.

Kisah Romeo dan Juliet adalah salah satu lembaran kehidupan yang bertemakan cinta. Masih banyak lagi cerita-cerita yang akrab ditelinga kita tentang kisah percintaan dalam sebuah drama kehidupan.

The Immortal Prophet of Lebanon, Khalil Gibran, menderita hingga akhir hayatnya karena cintanya kepada sang kekasih, Selman Al-Karimi direnggut seorang penguasa. Hingga lahirlah sebuah karya buah tangannya, Sayap Sayap Patah. Yang sudah diterjemahkan oleh beberapa bahasa. Bahkan sampai sekarang masih masuk dalam 20 besar buku-buku best seller. Karena apa? Karena cinta.

Dongeng Ramayana, yang berkisah tentang peperangan Rama dan Rahwana yang memeperebutkan Dewi Sinta. Dan di Indonesia sendiripun kisah-kisah bertemakan cinta tak kalah menariknya, kisah cinta Samsul Bahri dan Siti Nurbaya, kisah cinta Rojali Dan Juleha, kisah cinta Derlin dan Wiwi, dan masih banyak lagi.

Memeang cinta membuat kisah kehidupan lebih berwarna. Tapi pabila saatnya tiba kitapun akan terjerat didalamnya. Karena kita takdapat menolaknya. Maka penulis mengajak pembaca memahami Cinta seperti adanya cinta.

“Cinta adalah keindahan sejati yang terletak pada keserasian spiritual. Cinta adalah satu-satunya kebebasan di dunia karena ia begitu tinggi mengangkat jiwa, dimana hokum-hukum kemanusian dan kenyataan alam tak mampu menemukan jejaknya” (Khalil Gibran).

“Cinta itu meliputi pancaran ilham, luapan hati, cinta itu tak dapat diber batasan dan tak dapat didefenisikan bahkan tak dapat dijelaskan hakekat dan rahasisanya. Karena cinta dapat dirasakan tapi tak dapat disifati, dapat imengerti tapi tak dapat didefinisikan.” (Abu Al-Ghifari ;17)

“jika seorang lelaki membedakan orang lain, itulah cinta. Dan jika seorang wanita tak mempengaruhi seorang lelaki seperti seorang wanita mempengaruhinya, itulah cinta. Jika seorang lelaki membedakan wanita bukan karena paling cantik, cerdas, tepat, dan bukan lebih utama untuk dicintai, tapi karena keindahan dan kekurangannya, itulah Cinta.” (Ahmad Bahjat, 2002)

Dari beberapa pendapat diatas kita menemukan konsep cinta yang sangat abstrak. Karena memang begitu sifat cinta. “love like a wind, we cannot see it, but we can feel it.” Tetapi penulis mencoba membagi arah pandang pembaca menjadi dua susut pandang. Pertama, cinta manusia kepada mahluk. Dan kedua, cinta manusia terhadap Yang Maha Esa, tak lain adalah cinta yang hakiki. Di paragraf-paragraf berikutnya hanya berlaku sudut pandang pertama. Karena membumi setidaknya lebih mudah daripada melangit. Kerena keabstrakkan metode pencariannya.

Cinta adalah sayap yang sanggup menerbangkan manusia yang membawa beban berat keangkasa raya,

Dan dari kedalaman mengangkatnya keketinggian,

Dari bumi ke bintang Tsurayya

Dan bila cinta ini berjalan diatas gunung yang tegar,

Maka gunungpun bergoyang-goyang dan berlenggang dengan riang.

(Jalaludin Rumi)

Tanpa maksud apa-apa mari kita pelajari salah satu kisah Cinta yang ada di sekitar kita

D adalah mahasiswa semester 7 jurusan ilmu komunikasi Universitas Hasanuddin, Aktivis, Organisatoris, Penulis, dan punya hobbi membaca. ia biasa berada di pelataran berdiskusi dengan beberapa teman. (Stimulus kepada W)

Sedangkan W adalah mahasiswi baru di jurusan dan universitas yang sama, seorang mantan siswi salah satu SMU negri di kota ini, periang, senang olahraga, menengah keatas, dan modis. Setelah beberapa bulan kuliah. (attention proceed)W tertarik dengan D karena selama ia SMU dulu ia tak pernah menemukan(sensasi) manusia yang punya kepribadian seperti D dalam memorinya. Ia menganggap D adalah sosok baru dalam hidupnya yang memiliki beberapa kriteria dasar atas sifat-sifat D yang tampak (kesan), hingga ia mengambil kesimpulan (proses Pengkategorian) bahwa D adalah lelaki yang baik, sahabat yang seru, seseorang yang bisa diajaknya curhat, dll (Persepsi).

Setelah beberapa hari berjalan. Interaksi yang terjadi antara mereka lebih intens. Sehingga kedalaman hal tentang keingintahuan pun terwujudkan. Manajemen citra yang rapih oleh D telah memancing Kesimpulan Perasaan Alam Bawah Sadar W. dan W entah membuat kesimpulan antara suka atau cinta. Hal tersebutpun masih berlanjut. Kali ini Dorongan Manusiawi W ikut bermain didalamnya. Konsep-konsep dipanggil kembali dari dalam memori tentang Sahabat, cinta, pacaran, kakak, kagum dll. Hingga tiba penggabungan antara persepsi, kesimpulan perasaan dialam bawah sadar, dan dorongan-dorongan manusiawi pun terangkumkan membentuk suatu Motif Diri. Yang nantinya akan mengarahkan setiap gerak W untuk menuju kesatuan kepada D (Prilaku).

Dari contoh kasus diatas. Pola interaksi sebenarnya dapat dipelajari. Bukan tentang cintanya itu sendiri tapi menyangkut beberapa hal yang menumbuhkan rasa cinta dalam diri manusia. Kesan adalah pisau tajam untuk menembus perasaan seseorang hingga dari manusia menjadi seorang pencinta.

Mungkin agar lebih menarik kita akan sedikit membongkar fenomena Kesan yang melahirkan rasa Cinta. Dengan mengambil teori “Proses Pembentukan Kesan” Jalalludin Rakhmat. Masih memakai contoh kasus kisah D dan W.

PROSES PEMBENTUKAN KESAN (Jalaludin Rakhmat)

1. Stereotyping

Ketika W menghadapi seniornya dengan beraneka ragam perilaku, maka wanita yang memiliki rambut panjang lurus dengan poni seadanya ini akan mengkategorikan mereka pada konsep-konsep tertentu; cerdas, tampan, bodoh, cantik, cool, dll. Dengan begitu gadis bergingsul ini lebih mudah menyederhanakan persepsi yang lahir dari prilaku senior-seniornya. Termasuk D pula didalamnya.

Menurut Jalaludin Rahmat, dalam psikologi kognitif pengalaman-pengalaman baru akan dimasukkan kedalam laci kategori yang ada dalam memorinya, berdasarkan kesamaan dengan pengalaman indra masa lalu. Sehingga dengan cepat W dapat meramalkan dan menyimpulkan stimulus yang baru baginya. Contoh kasus;

Ialah D, lelaki yang dilihat W dengan kesendiriannya di pelataran sore itu, konsentrasi pada buku yang tebalnya lebih dari 500 halaman, dan sesekali mengeluarkan secarik kertas dan menulis puisi. Maka, kesan pertama terbentuk. Kesimpulan sementara W terhadap D ialah D seorang penyendiri, tinggi pemaknaannya terhadap kehidupan, dan pabila W pernah menonton Ada Apa Dengan Cinta, maka, W menyimpulkan D adalah seorang Rangga. Setidaknya SEJENIS RANGGA.

Stereotyping menjelaskan 2 hal. Pertama, pembentukan “kesan pertama” W terhadap D. kesan itulah yang akan menentukan pengkategorian dalam otak W. Kedua, stimuli yang W senangi telah mendapat kategori tertentu yang positif. Dan ia akan memasukkan kategori tersebut pada memori kategori yang positif pula. Tempat semua sifat-sifat yang positif. Setelah itu barulah W menyimpulkan D seorang penyendiri, cerdas, penyair, penulis, dan pembaca kehidupan. RANGGA BANGET!!!

2. Implisit Personality Theory

Setiap manusia mempunyai konsep sendiri tentang sifat-sifat apa berkaitan dengan sifat-sifat apa?. Pacaran, meliputi konsep-konsep perhatian, mesra, toleransi, memiliki dll. Begitu pula terhadap kisah W dan D.

Suatu hari D membawakan sebuah materi kepada mahasiswa baru tentang pandangan dunia. Ada pula W ikut serta. Dengan nada rendah tapi terarah D terus melangit dengan kata-kata yang belum akrab ditelinga mahasiswa baru, sehingga beberapa terpesona, W pula didalamnya. Setelah itu, D pamit sebentar untuk sembahyang, maka bertambahlah poin D dimata W. Sifat sembahyang lazimnya diikuti oleh sifat-sifat jujur, saleh, bermoral tinggi, dll. Padahal kesimpulan tersebut belum tentu benar.

Implisit Personality theory adalah sebuah konsepsi yang tak butuh diungkapkan. Karena dalam prosesnya ia berlangsung secara alamiah, berdasarkan pengalamannya selama ada dalam kehidupan.

3. Atribusi

Atribusi adalah proses menyimpulakan motif, maksud dan karakteristik orang lain dengan melihat pada perilaku yang tampak. (Baron & Byrne, 1979:56)

Selanjutnya kita akan bertanya “Ada apa dibalik itu semua?”

D dan W memang jarang berinteraksi secara langsung. Pernah suatu ketika, ditengah keramaian, penulis mencoba mengamati perilaku mereka berdua. Sesekali D melirik W, dan begitu pula sebaliknya. Hal tersebut terjadi berkali-kali hingga akhirnya mereka bertemu pandang. Apa yang terjadi? D menatap W tajam, sementara W spontan tertunduk, tersenyum simpul, dan tersipu malu dibalik wajahnya yang mulai memerah.

Terbesit pertanyaan dalam hati W. Ada apa dengan kakak D?

Oooooo!!

Pemaparan tentang teori “Proses Pembentukan Kesan” Jalalludin Rakhmat diatas setidaknya membuktikan bahwa Kesan pertama itu sangat berpengaruh terhadap pembentukan rasa cinta. Seperti yang dikatakan Abu Al Ghiffari, bahwa cinta itu terjadi karena adanya pesona fisik, pesona kepribadian, unsur material, dan adanya perasaan ingin memiliki dan keserasian (kesamaan-kesamaan).

Tiba pada saatnya menyimpulkan penulis meminjam pengertian DR. Muhammad Qarni, seorang Pakar Psikologi. Ia mengatakan bahwa Cinta adalah himpunan nilai-nilai kemanusiaan yang menjelma dalam makna hakiki kata ‘manusia’. Manusia yang tidak mampu mencintai akan kehilangan makna sebagai manusia, karena hilangnya cinta adalah kehancuran bagi manusia.

Ada lagi fenomena lain yang tak boleh terlupakan pabila kita berbicara tentang cinta. “Flirt” atau biasa kita istilahkan Menyet (menyatakan Cinta). Konsep ini sangat menarik. Ia melahirkan beberapa cerita-cerita lucu, tragis, bahkan romantis di seputar kita.

Para pakar psikologi mengakui bahwa ada prilaku tertentu yang merupakan bawaan manusia, Ia tak butuh belajar. Itulah yang biasa dikatakan Instink. Flirt atau mengatakan cinta salah satunya. Berbagai macam cara manusia menyatakan perasaan cintanya terhadap sang kekasih. Ada yang lewat gitar, ada pula dengan membuat drama penjahat dan jagoan, ada yang lewat teman sementara ia duduk termenung di WC. Dan masih banyak lagi. Coba perhatikan saja sekeliling anda atau tonton acara “Katakan cinta”.

Penutup mungkin. Intinya cinta itu adalah anugrah besar Tuhan kepada mahluknya dalam bentuk perasaan. Tetapi tak seperti jenis perasaan yang lain, cinta itu sangat tak biasa sifatnya. Kadang ia sangat relational penuh kompromi, kadang pula ia sangat tak rasional, Semena-mena berkeliaran dalam kehidupan manusia karena kebebasannya tak berhingga.

Cinta membuat kita bahagia,

Cinta membuat kita tertawa,

Cinta pula yang membuat hidup kita penuh nada

Dan keindahan tertinggi ialah karena kita seorang pencinta,

Tapi, untuk apa ada cinta kalau hanya berurai air mata.

Vitta Octa, Kamar Laba-laba

Penulis seorang mahasiswa

jurusan Ilmu Komunikasi

Yang punya cita-cita mencintai semesta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s