KEHENINGAN IDUL FITRI

Posted: April 15, 2008 in Sastra
Tags: , , ,

KEHENINGAN IDUL FITRI

if. at Ied 2005

Makassar hari ini terasa sejuk sesejuk sejuknya. Wangi tanah basah, daun mengikilap keemasan, tidurnya burung kenari, dan senyap yang ada bagai harmoni iringi malam ini. Romantisme dan nada kehidupan bagai terulang kembali saat bulan tersenyum bagikan keheningan untukku yang tak tahu mengapa meneteskan air mata.

Suara takbir berkumandang dimana-mana. Mulai dari perjalananku membeli sayur dikota tadi, sampai tengah menuju kompleks perumahan dosen Unhas semuanya meneriakkan kegembiraan yang tiada taranya. Gemuruh suara gendang di antara bintang-bintang, berpantun saut-sautan timbulkan suara kebesaran dan kemenangan.

Teen!! Teen!! Suara klakson motor dari depan pagar rumah ini menghentak mimpiku tentang dosa-dosa hidup yang terlewati, yang datang sudah beberapa hari, dan berkelanjutan bagai sebuah episode. Maman, seorang teman yang jauh-jauh datang dari kota penyangga Makassar ini, hanya untuk berkeliling dan berbelanja pakaian baru.

“Woi, apa-ji pemudaia’ tenna majokka-jokka. Ayo mi! kita pi takbiran keliling kota!!” Maman tersenyum lebar dibalik semangatnya untuk berkeliling teriakkan takbir kebesaran umat Islam yang terdengar sangar hanya pada akhir Ramadhan.

“ iyo, pigi mo ko! Lagi masak rendang ma’ saya lagi tunggui dagingnya lembut. Duluan mo ko!!” balasku seadanya.

“ aih menyesal ko nak!! Mauka singgahki dirumahnya Achi- si keju kuning langsat tenna biji!!”

“ biar mi!! lagi malas ka.”

“ mauka juga kerumahnya Dwi cina!!”

“ betullll ko deh? Tapi, biar mi kali ini saya off dulu.”

“ kalo lina iya!! Hehehe!!”

“ Man sebetulnya kau mau pi takbiran atau pi boya? Jangan-jangan ada U di balik Be nih. Wah, bagus nih dicerita sama kika katina daeng paren-reng si pagosip itu!! Hehehe”

“ woi, kenapa saya? Biasanya, Itukan suntik-suntiknya biar kau mau ikut. Jam’moko kalau tidak mau iku’ ki. Saya pigi ma ambil Ato nah. Ta satu dua ja ko sama Ato.”

“ iyo, sory ces nah. nda bisa ka juga tinggalkan rumahnya pak!!”

Maman berlalu lewati angin malam yang mulai dingin. Rendang sudah mendidih dari setengah jam yang lalu tapi ia butuh terus dalam keadaan seperti itu agar tembus masuk kebagian yang terdalam. Suara takbir dari mesjid di depan rumah ini masih saja menggema, merayap bersama udara dan keheningan yang kurasa. Entah kenapa aku bisa berada ditempat ini? Yang aku tahu Riza seniorku meminta untuk ikut menjaga rumah pak Mulyadi, dosen yang beberapa mata kuliahnya aku ketua kelasi. Tapi, setelah bangun dari tidur siang tadi tiba-tiba saja jadi sendiri disini.

Ini bukan soal mengutuk kepergian Riza yang menjaga rumahnya yang juga kosong, kepergian Maman takbir keliling, atau beberapa teman berbuka beberapa minggu yang lalu masih ada bersamaku, derlin, adi, bento, ardi, fajar, samsul, amir yang sudah pulang ke kampung mereka masing-masing, atau Surahmat yang harus merolling beberapa pondokan yang dititipkan kepadanya.

Sudah pukul 2 malam. Rendang dan beberapa sayuran sudah jadi. Tinggal pagi nanti dihangatkan. Ketupat sudah matang sepenuhnya dan siap santap, kugantung ia bersama pengharapan akan ada seseorang yang akan datang esok hari. Kue lebaran hibah tetangga juga sudah tertata manis sekali di meja tamu, seakan sendok kecil di sebelahnya menantang siapapun untuk merasakan kegurihan kue kering dan kacang goreng sedanya ini.

Acara di televisipun mulai membosankan. SMS masuk berlomba-lomba di ponsel pinjaman. Memecah keheningan dengan kata-kata kesejukan walau hanya tahunan. Mama dan papa yang jauh disana menelpon sekali tapi tak kutanggapi karena akan menambah sesalku tentang ketidak hadiran jasmani disisi mereka, beberapa kerabat lama, teman kampus, dan beberapa wanita yang pernah menjadi tempat persinggahan hati memberikan kata bijak bagai mereka adalah kebijaksanaan itu sendiri, seenaknya menasehati. Yang terpenting malam ini kurasa hanya ada pada rembulan yang setia tersenyum padaku.

Pagi tiba membuka lembaran baru kehidupan. Sayup-sayup sinar mentari yang merekah indah, membiru diangkasa tunaikan tugasnya. Hari yang cerah, secerah hati kembali pada fitrah. Burung nuri pak Mulyadi kini mulai bernyanyi merdu sekali. Bukan sekedar nyanyian nada, tapi nyanyian hati.

Aku duduk diteras rumah pak Mulyadi nikmati pemandangan orang yang bersalam-salaman dijalanan sekitar mesjid. Rumah pak mulyadi terletak tepat didepan mesjid, hanya diselingi lapangan volly pemuda setempat. Jadi aku bisa menyaksikan pemandangan itu dari depan teras sambil menengguk segelas es rasa lecci, yang pula telah disediakan oleh pak mulyadi sebelum ia pergi tinggalkan rumahnya padaku dan Riza.

Hatiku tergerak entah oleh apa. Yang aku rasa hanya pikiran yang berputar tentang hari-hariku yang telah terlewati bagai kesia-siaan.

Dibenakku hadir Wiwi, seorang gadis kecil yang terduduk dengan tangis diantara hujan yang deras pada suatu sore di sebuah lampu merah, ada pak Kuasang yang masih mencari dan memaknai kehidupan diatas becak tuanya, ada pembunuhan atas nama agama di negri sana, ada beberapa wanita yang membuatku pernah membuatku merasa sangat marah, berdosa, berhianat, kejam, sedih, bergelora, jua berbagai kisah romantis bersama mereka. Dan ada beberapa perkelahian mempertahankan sesuatu yang sampai sekarang tak kutemukan jawaban sesungguhnya, tak lupa ada pula beberapa pesta dan tawa yang biasa dalam kehidupan dengan atau tidak dengan kesalahan versi agama. Entah?

Dosa. Tapi tak ada kesedihan, belum pula muncul penyesalan, kebanggaan…. Tidak terpikirkan, hanya sebuah siklus kehidupan antara kosong dan kosong. Kesia-siaan. Tanpa hikmah, tanpa kegunaan. Dingin. Kelabu. Pencarian yang semu antara dunia kehilangan Aku, atau aku kehilangan dunia……

Mungkin ini hukuman untukku. Dihari kebesaran ini aku “sendiri”. Sepi walau gaduh diluar sana. Keheningan telah kutemukan tapi ia pun tak kunjung menghilang. Tapi justru makna “Aku” dikehidupan ini yang makin memudar dari pikiran.

Mungkin Wiwi yang tertangis dilampu merah waktu itu sedang menikmati hari raya ini bersama keluarga, mungkin pak Kuasang sedang mengelap becak tuanya sambil minum sirup bersama keluarga di pelataran rumahnya, mungkin para korban kerusuhan itu sedang mengenang kisah haru dan hikmahnya, mungkin teman-temanku sedang mengucapkan maaf sedalam-dalamnya pada orang tua mereka sambil mencium tangan dengan suasana penuh deru tangis, mungkin musuh-musuhku dahulu ada di pelukan keluarga mereka, bernyanyi dan tertawa….. ah, entahlah!!.

Kuhidangkan santapan yang ku buat tadi malam di pelataran rumah pak Mulyadi. Berharap ada yang datang. Siapa saja!! ternyata sia-sia, kesendirian memang terlanjur tersandangkan. Lebih baik terus belajar kehidupan sambil berjalan seiring waktu- bersiap dihari depan untuk lewati nafas selanjutnya. Dan pasti hingga waktu akan terbagi dua antara sebelum ini dan setelah ini, kuharap Masih ada tangis, masih ada tawa, masih ada angkara, masih ada tipu daya, dan mudah-mudahan masih ada cinta. Karena itulah dunia.

Kutuangkan jus jeruk di gelas kristal perlahan-lahan sampai penuh dan tumpah dengan anggunnya, kusendok nasi yang masih panas-panas kuku, lalu ku lumuri dengan bumbu rendang yang coklat bak berdebu. Beberapa lapis daging itupun ikut pula didalamnya. Kuambil segenggam kacang dan kuberikan pada sepasang burung Nuri yang mulai letih bernyanyi. Langit makin biru, suasana semakin penuh keheningan, sunyi. Anginpun melintas malu-malu, titip kan salam kepada seluruh semesta kehidupanku terdahulu. Ada maafku jua kepada kalian bersamanya. Suapan pertama adalah untukmu kehidupan. “Selamat idul fitri!!”

Atas nama indra yang tergerak oleh cahaya

Biarkanlah surga kupapah hingga tak kuasa

Demi mereka yang menangis memandangku

Sampai hancurku mendebu.

De vozquea

(kamar laba-laba)

penulis adalah mahasiswa jurnalistik ilmu komuniksi 2001

aktif di Komunitas film Makassar, Ligafilm Unhas,

mantan pimred majalah BaruGa,

serta masih saja luntang lantung berjuang demi kuliahnya.

“Sekedar bercerita, tak mengapa bila tak sadar kembali berdosa. Maafkan hamba!!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s