SORE ITU IA YANG DATANG

Posted: April 15, 2008 in Script
Tags: , , , , , , ,


Script by Ilham de vozquea

(Laba-laba merah)

[LIGA FILM UNHAS 17/7/2005]

PEMAIN

Mey, gadis manis-tenang, sering memandang kosong, mirip sigi tentang dia.

Roy. Seorang pria besar, parlente serta kelihatan sombong

Bong. Seorang lelaki pejantan tangguh, adventurir, periang dan senang bercanda. Memiliki tato laba-laba kecil di lehernya.

Timur, seorang pelukis. Nyentrik dan lebih terkesan seperti seorang pengemis.

SCENE 1. EKS. DANAU SORE HARI

Di tepian danau kala senja dua orang pemuda-pemudi sedang memadu kasih cintanya.

Voice Over:

BONG

Maaf aku tadi tidak bisa izin. Aku sedang mengikuti pelajaran filsafat komunikasi?. Tema kali ini kami dan pak Mansyur Semma membahas yang paling kamu sukai. CINTA.

MEY

Masa? Kalau begitu maaf ya. Saya kira kamu tidak ada kuliah. Masalahnya tadi dosen teknologi pertanian tidak muncul. Padahal sudah 1 jam aku dan teman-teman menunggu dia. Oh ia, kamu kapan berangkat?

BONG

Tidak lama lagi. Aku menunggu izin yang pasti dari dosesn-dosen mata kuliah yang aku ambil.

Di tempat yang sama, seorang pengemis duduk menguap menghadap danau. Dari dahinya peluh mengalir deras. Ia terlihat letih dibalik raut-raut wajahnya yang sudah penuh serat, terukir indah tanda sebuah perjuangan yang panjang. Ia seorang pengemis jalanan yang memainkan seruling bambu.

2 orang pemuda-pemudi saling merangkul. Menatap indah danau ini kala senja. sambil berjalan dan berbincang sederhana.

MEY

Sayang, maaf kalau aku memaksa bertemu kamu tadi. Aku kangen sekali sama kamu. Aku rindu. Aku gak tahan ditinggal kamu 3 bulan. Teman-teman juga bilang kalau aku ini tergila-gila sama kamu. Tapi aku tidak perduli. Walau telingaku kadang panas saat mereka bilang kalau aku jalan sama kamu seperti beauty and the beast. (ia sedikit tersenyum). Aku Cuma bercanda kok yang. tapi kalau kamu pergi lagi jangan lama-lama seperti kemarin ya yang’.

BONG

Wah parah sekali tuh teman-teman kamu. Masa saya dibilang buruk rupa. Padahalkan saya tidak jelek-jelek sekali kan Mey?

MEY

Ah tidak kok. Kamu bukannya jelek. Tapi agak tidak terawat. Habis kamu jalan-jalan terus sih. Kegunung ini lah, kepulau itu lah, kemana lah.

BONG

Itu kan hobby aku Mey. Oh ia, kalau kamu menyiar nanti aku pesan lagunya Erik Martin ya, judulnya The Way You Love Me. Jangan lupa ya special buat aku dari kamu… eh tunggu sebentar.

(BONG menghampiri pengemis tersebut dan merogoh kantongnya. Tapi ternyata tidak ada uang.)

wah maaf kawan… saya lupa kalau uang saya sudah habis. Kalau rokok kamu mau tidak (sang pengemis hanya tersenyum dan menarik 1 batang rokok yang ditawarkan BONG. Dengan sigap BONG memicu pematiknya. Dan sang kakekpun tersenyum lagi. BONG pun pergi setelah membalas senyuman tulus sang pengemis)

MEY

Kamu ini apa sih, kayak kurang kerjaan saja. Eh ngomong soal tadi. enak aja. Kok dari aku sih. Aku gak se-romantis itu kok.

BONG

Hehehe (sambil merangkulkan tangannya di pundak MEY) ah masa sih…..

MEY

Apaan nih maksudnya? Dasar laba-laba (sambil mencubit pinggang BONG)

Dan tawa merekapun lepas landas terbias angin senja itu. (slow motion)

– dissolve –

SCENE 2. EKS. DANAU SORE HARI

Disebuah trotoar jalan raya yang dibelah oleh danau keemasan terbias cahaya mentari sore hari. Bong saat itu mengenakan sepatu pantovel, memakai tas ransel, dan mengenakan kupluk hingga tertutup setengah wajahnya. Ia baru saja tiba dari sebuah pulau. Sekedar duduk di sore hari yang indah untuk melihat danau.

Bong terbangun dari khayalnya masih terperangah hingga mulutnya menganga, spontan “ Wooww” kala sang wanita menyibakkan rambutnya yang panjang. Seorang lelaki yang agak jauh duduk disebelahnya melihat BONG dan tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Walau sesekali pandangannya dihalangi seorang pengemis yang sedang berjalan (TIMUR).

BONG tersenyum sendirian. Bergaya-gaya mirip anjing dan tertawa geli sendiri.dengan almunannya. Hingga tato laba-laba di lehernya bergoyang-goyang mengikuti urat-urat lehernya yang naik turun. Sementara sang wanita makin mendekat kepadany.

BONG merapihkan barang-barangnya dan memperbaiki penampilannya. Menunggu MEY mendekat. Akhirnya MEY hampir mendekatinya. BONG berdiri. Saat MEY melewati dirinya. Ia spontan mengganggu dengan mencolek pinggang MEY.

BONG

Cewe…. Sombong sekali neh

(MEY pun berbalik kearah BONG, dengan wajah yang sangat marah)

MEY

Dasar kurang ajar kamu ya.

(PLAKK!! MEY menampar BONG)

MEY pergi meninggalkan boy dan menghampiri seorang cowok yang duduk agak jauh dari BONG.

ROY

Kenapa MEY kok kamu marah-marah?

MEY

Disana ROY, ada orang yang kurang ajar.

ROY

Yang mana?

(MEY menunjuk kearah BONG yang masih terperangah)

ROY

Tunggu disini ya MEY. Biar aku hajar tuh orang. Dari tadi memang aneh tuh orang. Tertawa sendirian mirip orang gila.

MEY

Sudahlah ROY…. Ayo kita pergi

(MEY menarik ROY yang wajahnya makin memerah karena marah)

BONG tinggal sendiri. Mengusap-usap pipinya yang pula merah karena ditampar oleh MEY. Wajahnya terperangah bagai tak berdosa.

-Fade out-

SCENE 3. EKS. DANAU KALA SENJA. INSERT MUSIK SERULING….

fade in

MEY dan BONG duduk berdua menghadap senja. MEY mengantar yang BONG akan pergi ke suatu tempat.

MEY

BONG..kenapa kamu harus pergi terus seperti ini. Aku lagi kacau sekarang BONG. Aku butuh kamu…

BONG

Maaf MEY, aku harus pergi. Ada sesuatu yang aku tak bisa jelaskan padamu lewat kata-kata.

MEY

Apakah hanya sebatas ini cintamu padaku BONG?

BONG

Yang kamu perlu tahu MEY. Selain cintaku padamu yang melebihi cintaku pada diriku sendiri. Aku pun mencintai kerinduanku bertemu hal-hal baru diluar dunia kita ini. Aku butuh merenggangkan sayapku. Aku butuh melihat. Aku butuh merindukanmu nantinya. Aku masih harus belajar melihat untuk membaca arti diriku.

MEY

Kamu sangat utopis BONG. Apa yang kamu dapat dengan tinggal di pulau itu. Itukan pulau pengasingan orang-orang yang berpenyakit kusta. Kamu cari penyakit saja. Aku mengkhawatirkanmu BONG.

BONG

Terserah apa katamu MEY. Percuma kita hadir kalau tidak tumbuh, percuma tumbuh kalau tidak berkembang, percuma berkembang kalau tidak bisa mencintai sesama.

Mereka diam sejenak. Senja makin merah. Langit bersepuh keemasan disisi yang lainya. Sunyi, hening, sehening 2 hati kedua pasangan ini.

MEY meneteskan air mata. BONG beranjak pergi dari tempatnya duduk begitu saja. Lalu pergi hingga menghilang.

MEY beranjak dari tempatnya duduk setelah ia letih karena langit pun sudah mulai menghitam. Ia berbalik kebelakang menyebrang kearah jalan raya menunggu taksi yang lewat. Tapi saking galaunya ia tak memperhatikan motor yang lewat. “BRAKKK”

MEY terjatuh ke aspal. Darah mengucur dikepalanya.

ROY

Mba…mba…mba…. mba sadar mba…

(Suara MEY memanggil BONG berulang kali terdengar di udara)

Fade Out

SCENE 4. EKS. DI TEPI DANAU. SORE HARI.

Seorang pria dengan sebelah kaki tergenang ditepi danau. Mencorat-coret kertas putih dengan pinsilnya. Ia ditemani ROY. Bercerita tentang kehidupan.

TIMUR

Apa yang kau ketahui dari sebuah takdir. Adalah ketidaktahuan itu sendiri.

ROY

Apa maksud mu?

TIMUR

Kelak tak lama kau akan menemukan sebuah takdir.

(TIMUR menyelesaikan lukisannya)

bawalah ini ke-entah siapa? (sambil menyerahkan lukisannya ke-ROY)

Roy melihat lukisan itu dengan seksama. Sebuah lukisan berpola segi tiga dari segi tiga yang lain. Saling terhubung dan saling menghubungakan. Sebuah sketsa wajah-wajah yang asing baginya.

Di sudut lain 2 orang pemuda pemudi menatap indahnya danau ini berdua.

ROY

Siapa ini? Apakah aku mengenalnya? Dan siapa itu entah siapa?

TIMUR

Bertemulah dan pergi dari sini. Pulanglah kerumahmu secepatnya.

ROY menaiki motornya dan pergi meninggalkan TIMUR. Sementara TIMUR meraih serulingnya dan memainkannya.

-Fade out-

SCENE 5. EKS. DANAU KALA SENJA.

-Fade in-

Disebuah trotoar jalan raya yang dibelah oleh danau keemasan terbias cahaya mentari sore hari. MEY berjalan sendirian. Menunduk kebawah dengan wajah yang sedih. Walaupun begitu pesona keindahan wanitanya masih terpancar indah.

Tak berapa lama Ia dikagetkan oleh seorang lelaki yang duduk di trotoar jalanan. MEY masih jauh dari dirinya. Saat itu si lelaki mengenakan sepatu pantovel, memakai tas ransel, dan mengenakan kupluk hingga tertutup setengah wajahnya. Sepertinya Ia baru saja tiba dari tempat yang jauh.

Tampaknya ada sesuatu yang diingatnya.

MASA LALU

MEY terikat perban di kepalanya, ia memandang foto BONG dikamarnya.

MASA KINI

MEY tampak resah ingin berusaha mengingatnya. Sambil terus berjalan. Tapi kali ini agak pelan.

MASA LALU

MEY dengan kepala yang masih ter perban, dengan ditemani oleh ROY membawa foto BONG dan mencari dimana BONG. Bertanya-tanya kepada orang lain. Tapi ia tidak juga menemukan jawaban. Ia akhirnya mebakar foto BONG bersama ROY. Dan ROY memberikan lukisan. Dan setelah melihatnya MEY pun menggulungnya.

MASA KINI

ia berpapasan dengan seorang pengemis jalanan yang membawa seruling. Mata mereka saling berpandangan. Senyum aneh sang pengemis(slow motion & insert suara seruling) MEY terus berjalan. Membawa sebuah gulungan kertas kecil. Dan berusaha terus tersenyum. Tanpa mau diganggu oleh pikirannya lagi. Tak mengabaikan si lelaki(BONG) ataupun sang pengemis. Disudut sana iapun melihat ROY.

Seketika ia pun kaget setengah mati saat si lelaki tak dikenal itu mencolek pinggangnya.

BONG

Cewe…. Sombong sekali neh

MEY

Dasar kurang ajar kamu ya. ( PLAKKK!!! )

-CODA END-

œ

Dankje

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s