tuan tak bertanah

Posted: April 15, 2008 in Seniman hari-hari
Tags: ,

16.9.05

makassar

Bumi ini bagai hangus tak bertanah lagi. Hanya debu, hanya kata-kata yang berlalu. Semua orang kesakitan, seua orang menderita. Semuanya hancur. Tak bersisa.

Manusia kembali menamai dirinya masing–masing dengan tanda, dengan kata yang sudah dipelajarinya. Semuanya terlupakan begitu saja. Apa yang menjadi istilah? Sementara yang di istilahkan tidak ada lagi. Sirna.

Mungkin diri ku sebagian kecil saja yang larut dalam kebisuan ini. Aku menunggu matahari tepat jatuh disisi surga. Entahlah ini surga atau neraka. Tak ada bedanya. Ataukan ini bukan surga atau neraka. Mungkin kita saja yang sok tahu menamainya sebelum bumi benar-benar hangus seperti sekarang. Oh Tuhan yang maha pengasih lagi maha penyayang. Kau yang menguasai bumi dan jagad dimanapun dalam semesta tak hingga bagiku ini. Oh alam berikanlah hambamu ini kejelasan tentang kehidupan. Semua yang berlalu disini makin tak sadar telah ketahuan belangnya, dasar biadab. Siapa yang biadab? Aku.

Tenanglah tidak perlu merasa tersinggung sedikitpun ini hanyalah celoteh miring kaum tak layak pakai sepertiku. Tuhaaaaaaaaaan….. apakah kau mendengarku? Apakah kau bia merasakan desah kegelisahanku. Tapi ,akupun bingung tentang apa? Tentang wanita? Tentang harta? Tentang.

Hilang…. Hilang lagi cahaya disini bagai mengetuk dengan seribu api ditangan dan 100% cabai Merah dan wajah yang sangat garang… semuanya hanya bisa terdiam. Bisu. Mendebu. Hancur. Tapi apa yang hancur? Sebuah tanda-tanda hanya jadi kelabu tak jelas.

Apakah masih ada lagu-lagu berekspresi, ataukah masih ada lagi dawai melodi sing]o-i[0 ihiluseh bfvsguyj apaa yang ku tulis hanya seuah kata takbweguamna lagi. Kurang ajar hanya mengikuti kata hati yang pula tak jelas. Sial,, kenapa aku ingin menangis. Kurang ajar kenapa aku harus malu menggunakan mau dari ingin, sial semuanya kenapa aku harus menamai diriku dengan berbagai macam nama.. bahaya aku menjadi ahli tanah tak bertuan. Atau mungkin sebaliknya tuan tak bertanah…sungguh memalukan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s